Selasar Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 10 Januari 2020, terlihat ramai. Orang duduk di lantai, santai mengikuti diskusi tentang kesenian tradisi.

Ya, sore itu Teater Pangkeng menggelar acara diskusi dengan tajuk Mengenang Yamin Azhari, Mengembalikan Teater Rakyat Betawi Agar Tak Asyik Sendiri.

Hadir sebagai pembicara dalam acara ini, Julianti Parani (peneliti kesenian Betawi) dan Nendra WD (sutradara dan anggota Lembaga Kebudayaan Betawi), sedangkan moderator dipercayakan kepada Syaiful Amri (sutradara Komedi Betawi).

Untuk mensukseskan acara ini, Teater Pangkeng mendapat dukungan dari Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan komunitas Literasi Baca Betawi. Hadir pada kesempatan itu Yusron Sjarif (Ketua Bidang Informasi LKB), Roni Adi Tenabang (Ketua Perkumpulan Betawi Kita), Diding Zeta (Boneng, seniman teater senior), dosen Institut Kesenian Jakarta, Jumala Ridwan (seniman Betawi), dan lainnya.

Tema di atas dipilih lantaran ada kaitan yang erat antara Yamin Azhari (sebelum wafat beliau adalah pimpinan Teater Pangkeng) dan teater tradisi rakyat Betawi. Pilihan kata pangkeng sebagai nama grup menunjukan keinginan Yamin Azhari, memberi sentuhan Betawi dan sekaligus mengangkat marwah kesenian Betawi. Perlu diketahui, pangkeng dalam bahasa Betawi berarti kamar. Sesuai dengan namanya, dalam perjalanannya Teater Pangkeng mementaskan cerita yang bersumber dari teater rakyat Betawi, seperti Nyai Dasima, Si Ronda, Jampang, dan lainnya.

Syamsudin Bahar Nawawi yang didaulat menjadi Ketua Teater Pangkeng setelah sebelumnya dipimpin Yamin Azhari, mengatakan, diskusi ini dibuat untuk mencari format pementasan teater yang baru dan melebur dengan masyarakat. ‚ÄúSekaligus mengenang almarhum Yamin Azhari, pemimpin dan sutradara Teater Pangkeng, Sekaligus Pendiri Teater Pangkeng yang wafat pada November 2019 yang lalu, ” ungkap Syamsudin.

Kemasan diskusinya menarik. Sebelum diskusi, dipentaskan sketsa Betawi yang dibawakan tiga personil Teater Pangkeng.

Masuk ke sesi diskusi sungguh sangat menarik buat disimak. Julianti Parani yang sejak lama menelisik seni pertunjukan Betawi, bercerita tentang sejarah berkembangnya seni teater pada masa kolonial. Salah satu yang diulasnya adalah Komedie Stamboel yang dipopulerkan oleh August Mahieu 1891.

Berdasarkan buku Komedie Stamboel karya Matthew I Cohen, diceritakan tentang orang Indo dari Surabaya yang membuat hiburan multikultural dengan pemain orang Indo-Eropa, Melayu, Arab, dan India, disponsori oleh peranakan Tionghoa.

Dalam penelusuran saya, dari buku Sejarah Film 1900-1950 karya Misbach Yusa Biran, peranakan Tionghoa yang membiayai Komedie Stamboel adalah Yap Goan Thay.

Lebih lanjut, Julianti menuturkan, Komedie Stamboel berkeliling ke kota di Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Semanjung Melayu, bahkan sampai Thailand. “Mereka tampil di alam terbuka, pakai tenda-tenda. Berkeliling seperti sirkus, ” kata Julianti yang juga penulis buku Seni Pertunjukan Kebetawian.

Cerita yang dibawakan beragam, kisah 1001 Malam, legenda lokal Parsi, Stamboel Tionghoa, dan lainnya. Lebih jauh, berdasarkan buku Sejarah Film 1900-1950 dikatakan, Mahieu menambahkan cerita pertunjukannya dengan selera Barat seperti Hamlet karya Shakespeare, De Bruide daar Booven karya Multatuli, dan lainnya.

Penamaan Komedie Stamboel karena anak buah Mahieu memakai topi merah orang Turki yang berkuncir hitam. Di Indonesia orang menamakan topi itu stamboel. Kata stamboel adalah kesalahan ucap dari Istambul, Ibukota Turki. Mahieu mengambil ide pementasan dari Abdul Muluk di Semenanjung Malaka. Abdul Muluk sendiri mengambil ide pertunjukan dari Persia.

Siapa August Mahieu? Dalam koran Belanda (ada dua sumber), salah satunya De vrije pers : ochtendbulletin

04-12-1948, ada tulisan berjudul Zaman keemasan Komedie Stamboel oleh G. H. von Faber. Isinya menjelaskan tentang August Mahieu yang merupakan orang Indo Prancis kelahiran Surabaya yang memiliki suara tenor. Pada usia 30 tahun, Mahieu mendirikan Komedie Stamboel. Gairah muda inilah yang membuat pertunjukannya menjadi kaya ide dan digemari masyarakat.

Setelah Mahieu wafat pada 1903, ada grup dengan rombongan besar yang sukses mewarnai hiburan di Batavia. Dua grup itu, Miss Riboet Orion pimpinan Tio Tek Djien dengan pengarang andalan Nyoo Cheong Seng (wartawan) dan Dardanella pimpinan A. Piedro dengan pengarang andalan Andjar Asmara (wartawan).

Dari apa yang dilakukan oleh Mahieu dan penerusnya, saya dapat tarik kesimpulan, bahwa yang dilakukannya adalah sebuah usaha kreativitas dan inovasi yang bisa melihat selera pasar kala itu. Semua golongan menyukai cerita yang dibawakan lantaran temanya begitu dekat dengan kondisi sosial saat itu. Ia bawakan cerita dari beragam budaya, dari lokal sampai dunia.

Hal lainnya, adalah kekuatan naskah yang baik dengan dukungan penulis yang andal, melibatkan wartawan.

Nah, berkaitan dengan tema diskusi yang diangkat, saya jadi ingat Yamin Azhari yang punya latar belakang sebagai wartawan. Kekuatan Yamin Azhari dalam setiap karyanya adalah kemauan menggali cerita berdasarkan riset dari banyak buku. Yup, api semangat menggali cerita ini yang patut ditiru. Asyik.

Oke, kita lanjut dengan, bagaimana kaitan Komedie Stamboel dengan lenong yang ada di Betawi? Asli ini bikin saya penasaran.

Untuk hal ini saya menelisik beberapa tulisan dari buku Seni Pertunjukan Kebetawian, Sejarah Film 1900- 1950 karya Misbach Yusa Biran, Teater Lenong Betawi karya Ninuk Kleden, dan buku lainnya.

Dari banyak sumber ini, saya menemukan tulisan Rachmat Ruchiat dari buku Seni Pertunjukan Kebetawian yang menulis kaitan Komedie Stamboel dengan lenong Betawi . Dalam tulisanya Rachmat Ruchiat, ia bercerita pada saat zaman Komedie Stamboel (akhir abad ke-19) meroket, di wilayah Batavia dan sekitarnya ada yang disebut wayang Peking. Kata wayang di sini punya arti sebagai pertunjujkan sandiwara. Wayang Peking adalah teater peranakan Cina yang dalam penampilan menggunakan bahasa Melayu dan Cina. Pemakaian bahasa Melayu menurut Rachmat lantaran, para pemainnya tidak paham lagi bahasa nenek moyangnya. Pemainnya campuran dengan orang pribumi. Wayang Peking hanya digemari oleh peranakan Cina saja lantaran ceritanya bersumber dari leluhurnya.

Dalam perjalanannya mereka sadar untuk mengembangkan penampilannya agar bisa diminati beragam kalangan. Rombongan-rombongan sandiwara yang memakai musik gambang kromong sebagai pengiringnya tersebut mulai memainkan cerita yang biasa dimainkan oleh Komedie Stamboel. Pada masa itu grup dari Peranakan Cina itu tahu betapa populernya Komedie Stamboel. Makanya, dalam pementasannya ikut dimainkan cerita yang biasa dibawakan dalam Komedie Stamboel seperti Jula Juli Bintang Tiga, Siti Sanimbar, Hawa Majilis, Nur Jehan dan Siti Jubaeda.

Lainnya grup peranakan ini juga menampilkan cerita silat (Kiam Hap). Ceritanya menampilkan adegan action silat, seperti Pat Kiam Hap dan Si Burung Walet. Cerita silat lokal juga ditampilkan, antara lain kisah Pitung, Jampang, Angkri, dan kisah roman seperti Nyonya Dasima.

Rombongan yang paling populer di antara sandiwara yang ada, ada grup dengan sebutan Lenong pada 1920-an. Grup ini diberi nama Lenong, konon lantaran nama primadonanya Lian Ong. Penelusuran ini mesti ada penelitian lebih lanjut.

Dalam penampilannya sandiwara peranakan ini menampilakan adegan atau lakon seperti yang diterapkan Komedie Stamboel. Kalau Komedie Stamboel menampilkan tableaux vivant, konfigurasi dari kelompok artis-artis cantik dan ganteng-ganteng, di lenong menampilkan akrobat gaya Cina dan aksi kungfu yang dilakukan gadis-gadis cantik.

Rombongan lenong yang tidak ditunjang permodalan kuat, tak mampu menampilkan cerita kerajaan dan sejenisnya. Makanya cerita yang ditampilkan kisah seperti Nyai Dasima, Mira dan Marunda, Si Conat, dan Sabeni Jago Tanah Abang. Nah, rombongan ini memodali sendiri grupnya, makanya disebut lenong preman yang artinya bebas dari ikatan dengan pemilik modal.

Sedangkan grup lenong yang memiliki peralatan lengkap dan mengambil cerita kerajaan biasanya dikelola dan dimodali oleh pemilik modal. Lenong jenis ini disebut denes yang berasal dari kata Belanda diens. Lenong denes bisa diartikan ada ikatan atau ketergantungan dengan pemilik modal.

Berkaitan dengan peranakan Cina yang membaur dengan masyarakat Batavia dan sekitarnya, Nendra WD yang merupakan anak dari WD Mochtar dan Sofia WD (dua artis film sohor), bercerita tentang peristiwa pemberontakan orang Cina di Batavia pada 1740. Ya, dalam peristiwa pemberontakan orang Cina ke pemerintah Belanda di Batavia, banyak orang Cina pergi lari dari Batavia ke kampung di pinggiran dengan membawa alat musik gambang kromong. Nah, dari sini dimulai pembauran antara peranakan Cina dengan pribumi dan bahasa yang dipakai campuran Melayu dan Cina.

Berkaitan dengan lenong, Nendra WD bercerita tentang dirinya yang pernah ikut main dengan grup lenong Naga Putih pimpinan Jamin Jaman. “Ketika ke rumahnya sudah ada truk yang berisi peralatan lenong. Mobil jalan dan menjemput beberapa pemainnya yang masih di sawah, ” kata Nendra. Dari sini dapat dilihat grup lenong tradisi dimotori oleh kaum kecil. Hampir semua pemainnya tak bisa baca tulis, makanya ketika main lenong mereka hanya diarahkan saja, untuk melakukan dialog di panggung.

Dari diskusi yang penuh antusias dari para peserta ini, Julianti Parani merasa senang dengan tema yang dipilih, Mengenang Yamin Azhari, Mengembalikan Teater Rakyat Betawi Agar Tak Asyik Sendiri. Kata tak asyik sendiri mengandung filosofi yang dalam. Ini punya makna, jika mau terus hidup mesti melebur dengan banyak orang. “Kita mesti melompati pagar dalam berkesenian, tapi seni tradisi mesti tetap dipakai, ” ungkap Jualianti.

Dari diskusi yang mengulas mulai dari Komedie Stamboel sampai teater lenong yang kita kenal sekarang, mesti ada kemauan untuk terus berinovasi.

Tak lupa juga mesti lakukan riset, baik referensi buku/bahan bacaan lainnya, juga didukung pengetahuan tren kemauan pasar saat ini. Semoga seni tradisi Betawi makin betkembang dan maju. (RS)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar