Lukisan Karya Bang Husni

LEMBAGA KEBUDAYAAN BETAWI- Tanggal 10 November 2019. Terang bulan, terang di Amphi Teater, Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Panggung yang lazimnya menyajikan musik dan teater tradisional Betawi, malam itu diisi band kekinian, memainkan musik kadang berbau jazz, kadang balad. Pokoknya beda.

Total jenderal ada 11 lagu dilantunkan, semuanya dikenal baik oleh para pengunjung. Mulai kemegahan “Candra Buana”, himne “Indonesia Pusaka”, romantisme “Sepasang Mata Bola”, “Juwita Malam”, “Wanita”, “Aryati”, “Gugur Bunga, “Kopral Jono, “Rindu Lukisan”, hingga “Selamat Datang Pahlawan Muda”.

Ya, bukan kebetulan jika semua lagu yang dinyanyikan tiga penyanyi milenial di panggung Amphi itu ternyata ciptaan komponis ternama Ismail Marzuki. Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) sengaja “memutar kembali” kenangan terhadap Bang Maing, begitu beliau biasa disapa, persis di Hari Pahlawan.

Foto by : Edi Permana

Tak ada tujuan lain, seperti diungkapkan Ketua Umum LKB Bang Beky Mardani dalam sambutannya, pergelaran tembang-tembang Ismail Marzuki diselenggarakan untuk mengenang, menghargai, dan menghidupkan kembali semangat kepahlawanan Bang Maing, yang ditunjukkan lewat lagu-lagu menggugah kecintaan diri pada tanah air.

Di usianya yang tak terlalu panjang, Ismail Marzuki menggubah lebih dari 200 lagu. Anak Betawi kelahiran Kwitang (Senen) 11 Mei 1914 itu bukan hanya pencipta lagu, tapi juga Pahlawan Nasional. Lagu-lagu ciptaannya membakar semangat para pejuang, mengobarkan heroisme sekaligus romantisme.

Betapa akrab dan abadinya lagu-lagu Ismail Marzuki di masyarakat dapat terlihat dari antusiasme pengunjung. Mereka ikut bernyanyi saat tembang demi tembang dikumandangkan. Tak heran suasana begitu riuh rendah dan syahdu. Makin syahdu lantaran di antara lantunan lagu-lagu, budayawan Betawi Yahya Andi Saputra dengan gayanya khasnya membacakan potongan sejarah hidup Ismail Marzuki yang haru biru.

Ismail Marzuki, dengan segala kejeniusannya tidak hanya membanggakan Betawi, tapi juga Indonesia. Bang Maing seolah tak pernah mati. Berkat semangat perjuangan yang ditumpahkan lewat lagu-lagunya, dia selalu di hati. Viva Bang Maing.

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar