Ilustrasi : Rosa Ratnawati

  • Perkembangan :

Permainan ini serupa dengan “dakon” dari Jakarta yang dulu juga disebut “main punggah“. Permainan ini sudah mengalami perubahan, dimana dulu lubang–lubang masih dibuat di tanah dan biji–bijinya terbuat dari bete (pecahan genteng).

  • Arena Bermain :

Tempat datar untuk menaruh punggah (rumah congklak)

  • Peralatan :

Rumah congklak kayu berbentuk perahu berukuran 75x15x10 cm dengan 5 atau 7 anak lubang. Untuk 7 anak lubang dibutuhkan 98 biji congklak. Ada juga peralatan congklak yang terbuat dari kayu berukir dengan bagian ujung berbentuk ular. Biji congklak dibuat dari sejenis keong/kerang laut kecil atau batu koral kecil

  • Cara Bermain :

Permainan diawali dengan mengisi lubang congklak dengan biji–bijian. Kalau ada 7 anak lubang maka setiap lubang diisi 7 biji. Setelah itu kedua pemain mulai menjalankan biji–biji congklak bersama–sama. Biji yang dijalankan  adalah biji yang terletak dibagian lubang sebelah kanan ke kiri sesuai dengan arah jarum jam supaya biji terakhir bisa jatuh ke lubang induk. Langkah berikutnya terserah pada pemain, mulai dari lubang paling kiri atau dari tengah–tengah. Biji–biji tetap dijalankan sesuai dengan arah jarum jam. Dimana jatuhnya biji terakhir maka disitulah biji itu harus diambil dan dibagi ke setiap lubang. Kalu biji terakhir ada di tengah dan jatuh ke daerah lawan bisa tetap dijalankan. Tetapi kalau biji jatuh pada lubang yang kosong di daerah lawan berarti pemain harus berhenti (mati).

Kalau biji terakhir jatuh didaerahnya sendiri dan secara kebetulan lubang didepannya (lubang milik lawan) penuh dengan biji congklak maka pemain bisa menembak, artinya biji–biji itu menjadi miliknya dan dimasukan ke gendong (lubang induk). Sesudah menembak, pemain akan berhenti (mati). Permainan akan berhenti jika sudah tidak ada biji–biji yang dijalankan di anak lubang, semua sudah terkumpul di lubang induk.(RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar