JAKARTA, LEMBAGA KEBUDAYAAN BETAWI– Lima wilayah di Jakarta sudah dijelajahi Jamlurah LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi). Rabu malam (23/10) pukul 22.30 WIB merupakan pergelaran terakhirnya di Gedung PPSB (Pusat Pelatihan Seni Budaya) Jakarta Timur. Jamlurahhhhh….(jangan ampe lupain sejarah)….Betawi???!!! (buat kita semua). Itulah teriakan semangat Bang Yoyo Muchtar dan Maya Saphira yang membawakan episode terakhir acara Jamlurah untuk tahun 2019 ini dan disambut semangat warga yang hadir. Sejarah Duren Sawit dan daerah sekitarnya kemudian dikupas habis bersama H Nurdin (tokoh masyarakat Duren Sawit), Lurah Pondok Kelapa Siska Leonita dan Yahya Andi Saputra (Ketua Litbang LKB).

Masyarakat yang hadir sangat antusias menyimak pemaparan mengenai asal-usul nama daerah mereka. Tak heran sampai acara berakhir menjelang tengah malam, warga tetap bertahan mendengarkan penjelasan para narasumber. Tentang Duren Sawit ada yang berpendapat nama tersebut berasal dari kata pohon duren dan pohon sawit. Namun ada juga yang berpendapat bahwa Duren Sawit dari kata duren sa’uit (secuil, sedikit). Diskusi kemudian juga membahas tentang Haji Naman, seorang tokoh masyarakat pejuang dari daerah setempat yang sekarang namanya diabadikan menjadi sebuah nama jalan di daerah tersebut.

Perjuangan H Naman tak lepas dari kisah perjuangan KH Noer Ali dari Bekasi dan H Darip dari daerah Klender yang wilayahnya saling berdekatan. H Naman dikenal sebagai guru silat, guru ngaji yang dulu melakukan perlawanan terhadap Belanda.  Yang menarik membahas silat di Duren Sawit, ternyata warga setempat menyatakan masyarakat daerah ini juga memiliki silat asli setempat yang disebut Jurus Dua Pinggir. Gerak silat ini sempat dipertunjukkan di sela-sela diskusi pembahasan Jamlurah.

Ada banyak hal menarik yang dibahas pada setiap kali acara Jamlurah digelar, karena munculnya hal-hal baru yang sebelumnya tidak muncul ke permukaan. Inilah manfaat besar yang muncul dari gencarnya digelarnya acara Jamlurah, yakni memunculkan khasanah budaya lokal Betawi yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Untuk sementara acara Jamlurah tahun 2019 sudah selesai dilaksanakan dan akan akan dilanjutkan kembali tahun 2020 mendatang. Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang menggagas acara ini mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan dan minat besar masyarakat Jakarta sejak acara pertama kali digelar di Pondok Labu, Jakarta Selatan, dilanjutkan ke Tanah Abang, Sunter, dan Rawa Belong. Sampai kita ketemu tahun 2020 ya!! (syd)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar