Ilustrasi : Rosa Ratnawati

  • Perkembangan :

Permainan ini berawal dari sebuah peristiwa ketika ada orang sedang memetik buah mangga di kebun tetapi ternyata buahnya hilang. Menurut kepercayaan setempat ada mahluk lain yang mengganggu dan sering disebut setan longga – longga. Dinamakan demikian karena mahluk itu diperkirakan mempunyai tinggi badan 3 m. Untuk mengusirnya, masyarakat membuat Jangkungan/engrang yang berbentuk bambu panjang yang bisa dinaiki oleh orang. Jangkungan / engrang yang menyamai tinggi mahluk tadi akan membuatnya tidak berani mengganggu lagi.

Permainan ini masih sering dimainkan sampai saat ini, dan pada beberapa acara, bahkan sering juga diperlombakan.

  • Arena Bermain :

Tanah lapang

  • Peralatan :

Bambu tua yang kuat sepanjang 2,5 – 3 m,  yang sudah dibersihkan dari lugut / duri bambu atau sudah diamplas, pijakannya terbuat dari bambu yang lebih kecil. Ujungnya diberi lubang yang dimasukkan pada bambu panjang sampai batas tertentu. Tinggi pancalan / injakan kaki tergantung bentuk tubuh pemain. Untuk pemula, tinggi 30 cm dan yang senior 50 cm lebih. Tinggi harus melebihi tinggi pemain, biasanya 2 m. Injakan dibuat dari 2 potong bambu berukuran 15-20 cm dan berdiameter lebih kecil dari yang 2 m. Kemudian dipaku pada lubang yang dibuat pada bambu setinggi 2 m tadi supaya lebih kuat menahan beban tubuh pemain.

  • Cara Bermain :

Kedua kaki diletakkan diatas bambu yang kecil sebagai tempat pijakan. Sedang tangan kiri dan kanan memegang ujung bambu yang panjang. Cara berjalan di atas engrang seperti berjalan kaki biasa, melangkahkan kaki kiri atau kanan diikuti oleh kaki yang lain, demikian seterusnya. (RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar