Firmansyah Firman Muntaco, biasa dipanggil Firman Muntaco – anak Betawi kelahiran Petojo Sabangan, 5 Mei 1935 – pantas didapuk sebagai penulis cerita pendek Betawi paling produktif yang belum ada tandingannya hingga kini. Karya Bang Firman, anak sulung dari lima bersaudara, diperkirakan mencapai ribuan – sebuah sumber menyebutnya lebih dari 5.000-an cerpen.

Ketertarikan Firman Muntaco pada dunia sastra terilhami oleh buku-buku terbitan Balai Pustaka yang pernah dibacanya, salah satunya buku “Si Doel Anak Betawi” karya Aman Dato Madjoindo. Awalnya dia banyak membuat sajak. Sajak-sajak itu mulai dimuat di suratkabar saat Bang Firman duduk di bangku SMA. Sedangkan cerpen pertamanya dimuat majalah Star Weekly pada September 1955 dengan judul “Seikat Bunga Anyelir”.

Sebagai orang Betawi, Bang Firman memiliki kelebihan yang tidak dipunyai banyak penulis, yakni pandai memindahkan suasana keseharian orang Betawi, termasuk bahasa lisan (dialek) yang mereka gunakan, ke dalam bahasa tulisan. Sehingga dialek Betawi menjadi populer di media massa tempat karangan-karangan Bang Firman dimuat. Apalagi karya-karya itu begitu kaya dengan humor segar khas Betawi.

Keberhasilan Bang Firman memotret kehidupan orang Betawi kebanyakan itu sejatinya sangat menakjubkan. Bukan hanya menilik kemampuannya menulis dan merangkai kata-kata. Tapi lebih dari itu, menimbang dia sendiri sejatinya berasal dari keluarga kaya alias orang gedongan. Babenya, Haji Muntaco adalah tuan tanah, eksportir tembakau, dan pemilik pabrik susu. Dengan status dan kekayaan babenya, Firman Muntaco dapat saja hidup santai, mengabaikan lingkungan tempat tinggalnya. Nyatanya, dia memilih untuk banyak bergaul dan memotret kehidupan rakyat kecil. Pengamatan Bang Firman yang tajam menunjukkan kecerdasan pria jebolan SMA ini.

Bang Firman mulai menulis cerpen Betawi sekitar tahun 1954, setelah dia diberi kepercayaan mengelola rubrik “Tjermin Djakarta”, kemudian namanya berubah menjadi “Gambang Djakarte” di koran Berita Minggu. Kabarnya, sejak itu banyak orang membeli Berita Minggu hanya sebab ingin membaca tulisan Bang Firman. Tiras media cetak itu sempat meroket mencapai 40.000 eksemplar, angka yang sangat luar biasa saat itu. Keberhasilan yang tak lepas dari rubrik asuhan Bang Firman.

Sayangnya, pada tahun 1965 Berita Minggu diberangus, lantaran dianggap sebagai media yang dekat dengan “Orde Lama”. Terhentilah kiprah Bang Firman di koran yang sudah memiliki banyak penggemar tersebut. Pada 1960-an, cerpen-cerpen Bang Firman di Berita Minggu sempat dibukukan (dua jilid), bertajuk “Gambang Djakarte”.

Apakah lantas Bang Firman berhenti menulis? Ternyata tidak. Paska Berita Minggu dilarang terbit, dia terus menulis di koran Buana Minggu, tabloid Mutiara, dan majalah Humor. Pada tahun 1969, dia menerima penghargaan dari Pemda DKI, saat memenangkan lomba penulisan cerpen Betawi. Ghirohnya untuk terus menulis dalam dialek Betawi memang tak pernah padam. Bahkan saat kena stroke pada tahun 1990-an, Bang Firman tetap menulis. Dia mendiktekan bahan tulisan kepada anaknya, untuk kemudian diketik dan dikirim ke media.

Firman Muntaco berjasa memperkenalkan dialek Betawi di ranah sastra tulis Indonesia. Berkat kengototannya menggunakan banyak kata-kata yang terasa “aneh” di mata orang luar Betawi saat itu, semisal sembari, nongol, dong, ogah, gede, lampu colen, uber, dan banyak lagi. Tahun 1960-an, kata-kata itu ibarat “bahasa alien” dalam kesusteraan Indonesia. Bang Firmanlah yang menyadarkan banyak pihak dan membuat “bahasa alien” itu membumi, bahkan akhirnya menjadi bahasa pergaulan.

Sastrawan terkemuka H.B. Jassin menyebut bahwa jasa Firman Muntaco terbesar adalah kemampuannya “menampilkan humor sebagai kekayaan budaya Betawi ke dalam sastra tulis”. Kemampuan Firman Muntaco kerap dibandingkan dengan S.M. Ardan, penulis Betawi yang juga memasukkan bahasa Betawi ke dalam karya-karyanya, seperti dapat dibaca pada kumpulan cerpen “Terang Bulan Terang di Kali” (1955). Namun beda dengan S.M. Ardan yang menggunakan dialek Betawi hanya dalam percakapan para tokoh, Firman Muntaco menggunakannya secara total pada seluruh bagian cerita.

Bang Firman tidak hanya menulis cerita pendek, tapi juga naskah sandiwara, skenario film, dan artikel-artikel berkaitan dengan kebudayaan dan kesenian Betawi. Ia juga aktif membina kelompok-kelompok kesenian Betawi. Salah satu naskahnya yang sempat difilmkan adalah “Ratu Amplop” yang disutradarai Nawi Ismail. Firman Muntaco meninggal dunia pada 10 Januari 1993 (57 tahun) di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta, setelah menderita stroke sekitar 3 tahun. Ia meninggalkan sepuluh anak dan seorang cucu. Istrinya meninggal lebih dulu tahun 1991. (I)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar