Orkes Gambus Arrominia

Oleh : Ahmad Supandi Al-Ghozali

Gambus yang mendapat julukan berirama padang Pasir, pernah sangat bergengsi pada tahun 1940 an di Batavia , Bagi warga Jakarta kala itu Gambus merupakan sajian yang hampir tidak pernah ketinggalan untuk menghibur masyarakat di pesta – pesta perkawinan. Khitanan dan kegiatan keagamaan. Gambus, bukan hanya main di tempat- tempat kediaman warga keturunan arab, Negri tempat kesenian in berasal, tapi juga telah merambah kerumah-rumah penduduk Betawi.

Menurut para ahli, seperti Kurt Sachs, Hornbostel, Kunst, Farmer dan lain-lain, setelah mengadakan perbandingan-perbandingan dalam penelitian etnomusikologis meliputi wilayah Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Indonesia, berpendapat bahwa instrumen gambus tersebut berasal dari Arabia. Dalam bayangan orang Eropa, bentuk alat gambus menyerupai buah khas negeri mereka, yaitu buah peer; sedangkan di Betawi dapat dibayangkan hampir sama dengan bentuk jambu mentega

di Batavia sejak menjelang akhir abad  ke-18, begitulah laporan seorang pelancong Jawa bernama Sastrodarmo yang berkunjung ke Batavia pada  zaman itu. Jenis hiburan pun dilaporkannya antara lain gambus dengan lagu-lagu Arab.

Gambus adalah musik yang dibawa peranakan Arab dari Hadramaut (Yaman). Perantau Arab ini menurut C.C. Berg memang ramai sekali berdatangan ke Hindia Belanda pada abad ke-18 dan menunjukkan eskalasi pada  abad ke-19 .Tentu saja sulit bagi kita untuk melacak grup gambus yang populer pada abad-abad tersebut. Catatan yang dapat dipertanggungjawabkan berasal dari era menjelang dan sesudah PD II.

Prial Munawaroh

Pada masa pemeintahan Kolonial belana itu, bagi orang-orang yang mampu , saat mengadakan pesta perkawinan misalnya pada pagi hari sampai sore mereka memanggil orkes harmonium. Kemudian pada malam harinya dengan Gambus.  Waktu itu, Resepsi-resepsi perkawinan memang diadakan di rumah-rumah.

Bagi warga Betawi, Pesta perkawinan tanpa Gambus kan terasa cemplang, atau kurang afdol. Karena Gambus yang para pemainnya duduk bersila di permadani, sekaligus merupakan arena para pemuda unruk berzafin, menari sambil meloncat-loncat dan berhentak-hentakan kaki, mengikuti irama Gambus. Semakin keras irama musiknya, semakin lincah dan cepat mereka berzafin. Tidak heran, saat Gambus memeriahkan suatu pesta, banyak berdatangan para pemuda dari berbagai tempat di Jakarta, sekalipun mereka tidak di undang. istilah yang dikenal waktu itu adalah samar (berkumpul bersenang-senang) sambil mendengarkan irama Gambus.

Pada tahu 1950an, Orkes Harmonium berkembang menjadi orkes melayu, sedangkan Gambus menjadi orkes modern, dengan penambahan alat music seperti gitar, piano dan akordion. Sudah tidak harus lagi duduk bersila.

Munif bahasuan  yang sejak usia 18 tahun sudah aktif didunia music termasuk Gambus.  Mengatakan : berdasarkan penelitian gambus telah di kenal di Jakarta sejak ratusan tahun lalu tepatnya, kata munif, sejak abad ke 18. Ketika banyak imigran dari hadromaut (Yaman Selatan dan India (Gujarat) berdatangan ke sini. Kalau para wali songo menggunakan sebagai sarana dakwa, para Imigran Hadromaut yang datang belakangan ini menjadkan Gambus sebagai sarana dengan mengumandagkan syair-syair Qosidahan, mengajak masyarakat lebih mendekatkan diri kepada Alloh dan mengikuti teladan Rosulnya. Dalam perjalanan sejarahnya kemudian Gambus berkembang menjadi sarana Hiburan.

Pada awalnya para imigran hadromaut ini membawa sendiri alat petik Gambus dari negaranya, tapi sekarang sudah di produksi didalam negri, terutama  di Jakarta.

Tidak tedapat kata Gambus dalam kamus bahasa Arab dan memang itu bukan istilah bahasa Arab. Musik petik ini di arab di sebut Oud,(kayu,Ranting) jadi istilah Gambus hanya di kenal di Indonesia.

Pada tahun 1930 ada musisi Gambus yang terkenal bernama syec Albar dari Surabaya ayah dari ahmad Albar pimpinan Godbless. Dan selain dia ada SN Alaydrus dari Jakarta keduanya merupankan musisi terkenal pada tahun 1940.

SN Alayidrus berhasil mengembangkan orkes harmonium dengan mempertahankan alat petik Gambus. Orkes harmonium ini pada tahun 1950 menjadi orkes melayu. Untuk kemudian menjadi orkes dangdut.

Pada tahun1931di daerah sawah besar berdiri bioskop alhamrah, yang kini berganti nama menjadi Jalan Suryopranoto, terdapat kawasan Jalan Kebon Jeruk I, Jakarta Pusat. Sampai 1980-an, jalan yang cukup lebar ini bernama Jalan Alhambra, nama sebuah istana dan benteng peninggalan Islam di Kota Granada, Spanyol.

Bioskop Alhambra. Gedung bioskop ini didirikan oleh tiga bersaudara dari keluarga Shahab: Idrus, Syehan, dan Abubakar. Hampir seluruh film yang diputar adalah film Mesir. Sebelumnya, ketiga kakak beradik ini mendirikan tonil (sandiwara) yang main di berbagai tempat di nusantara.

Sebelum mendirikan Bioskop Alhambra yang mereka ilhami dari kehebatan arsitektur Islam di Granada, Spanyol, pada abad ke-14 itu, di tempat yang sama didirikan sandiwara permanen. Sandiwara itu merupakan hal modern pertama di luar sandiwara yang didirikan Belanda di gedung kesenian Pasar Baru, Jakarta Pusat, atau gedung kesenian Thalia di Jakarta Kota yang khusus menyajikan kesenian Tionghoa.

Namun, ketika Alhambra didirikan, film-film India belum masuk ke Indonesia. Karena pemilik Alhambra punya hubungan dengan Timur Tengah, dipilihlah film Mesir menjadi sajian utama.

Importirnya adalah Syed Mohamad Redho Shahab, putra salah seorang pemilik Alhambra. Ternyata, film-film Mesir sangat digemari, lebih-lebih bagi warga Betawi. Seperti juga film India, film dari Timur Tengah juga banyak diiringi nyanyian.Kala itu, banyak warga Betawi dari daerah seperti Mampang, Buncit, Pasar Minggu, Tegal Parang, dan berbagai tempat lainnya menonton di Alhambra khusus untuk mempelajari lagu-lagunya. Mereka menonton dengan cara patungan menyewa oplet ke Sawah Besar.Sepulang dari bioskop, di oplet, warga Betawi ini ngederes sambil menyanyikan kembali lagu-lagu dari film yang baru mereka tonton untuk dijadikan lagu Gambus. Maklum, kala itu piringan hitam atau gramophone masih merupakan barang mewah.

Maka tenarlah penyanyi-penyanyi dari Negara pyramid seperti Oum Kulthum, Abdul wahab dan Farid alatros. Fairuz, Shobah, Abdul Muttalib . dan lain-lain.

Sampai ahir 1950 orkes Gambus semakin naik daun dengan adanya siaran-siaran tetap di RRI tiap malam Jum,at. Yang di isi oleh dua orkes Gambus terkenal masing-masing OG .Al-Wardah Pimpinan Muchtar Lutfi dan OG. Al-Wathon pimpanan Hasan Alaydrus.

Tapi sayang pada masa demokrasi terpimpin itu dimana segala kebudayaan yang di nilai berbau asing di haramkan,  Gambuspun kena Gusur Frekwensi siaran Gambus di RRI dikurangi dari semingu sekali menjadi dua minggu sekali, kemudian sebulan sekali, dan ahirnya di hentikan sama sekali. Karena RRI waktu itu merupan satu-satunya sarana hiburan yang di ikuti masyarakat luas, Penghentian ini berdapak pada kurangnya Orkes Gambus. Undangan kerespsi-resepsi perkawinanpun tidak banyak lagi, dan pada tahun 1960 Gambus mulai surut.

Gambus, pada tahun 1960 penah memudar bintangnya, pada saat kelompok kiri ingin menghabisi segala bentuk kebudayaan dan kesenian yang di nilainya tidak sesuai dengan semangat Revolusi.

Gambus yang sarat dengan nilai-nilai Islam yang waktu itu di cemoohkan PKI kemudian tidak pernah terdengar lagi. Pudarnya Gambus pada waktu itu tidak membuat para musisinya kehilangan kreativitas. Merekapun beralih ke orkes melayu, yang waktu itu sangat di gemari. OG. Al-wardah misalnya membentuk orkes melayu Sinar Medan di bawah pimpian Umar Fauzi Aseran. Sedangkan OG. Alwathon mendirikan OM.Kenangan di bawah pimpinan Husein Aidit. Munif Basuan dan adi karto mendirikan OM. Kelana Ria.  Gambus Al Hilal masih tetap bertahan dengan irama Gambusnya yang bermarkas di Warung Buncit Jakarta Selatan.dan ahirnya Bubar di tahun 1962 .

Memudarnya Gambus ketika itu tidak membuat pesta-pesta terutama untuk golongan menengah kebawah menjadi sepi Karen di isi oleh orkes melayu. Pada saat bersamaan, OM. Sinar Medan berhasil mengorbitkan penyanyi-penyanyi seperti Emma Gangga, A.Haris (lagu kuda kulari) dan Hasna Tahar. Sedangkan OM Kenangan melahirkan penyanyi-penyanyi Johana Satar, Nur seha, dan Husein Aidit. Mereka besama kedua orkes melayu tersebut, hmpir tiap hari meramaikan pesta-pesta perkawinan di berbagai pelosok Jakarta, yang selalu di tonton oleh ribuan warga.

 

Pada waktu bersamaan,Film-film India yang kaya dengan lagu menjadi suguhan bioskop-bioskop menengah kebawah. Karena lagi-lagunya sangat di gemaari, maka para penyanyi orkes melayupun turut mendendangkan lagu dari sungai gangga. Mula-mula mereka menyanyi dengan bahasa india, tapi karena menghadapi kesulitan, maka lagu-lagu itu di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.  Kemudian orkes melayupun berganti menjadi Orkes Dangdut.

Pada masa itu pula lahir OM.Chandara lela di bawah pimpinan Husein Bawafi yang banayak membawakan lagu lagu melayu. Orkes ini mengorbitkan almarhum Mashabi.

Setelelah tumbangnya PKI tahun 1966 Mulailah Orkes Gambus bermunculan kembali di Jakarta, di antaranya Al-Hilal, Al-Fatah Pimpinan Rahmat,dengan mengorbitkan penyanyi Rafikoh Datul Wahab, walaupun banyak orkes Gambus bermunculan di Jakarta  setelah itu, seperti Wardatul Usyak Pimpinan Habib Abdurahman Al- Habsy,  Al-Usyak Pimpinan Zein Al-Hadad, El-Madora pimpinan Muchsin Al-Attas. El-Badar Pimpinan Ahmad Vad’ak. Mengorbitkan penyanyi Soraya bin Thalib. Dan orkes Gambus Assabab

Baru pada tahun 1990an Orkes Gambus Mulai bangkit lagi, kemungkinan di sebabkan banyaknya kelompok Islam dalam berbagai bidang. Pada saat  yang mengangkat gambus  adalah orkes Gambus Arrominia Pimpinan Ahmad Supandi Al-Ghozali. Yang Bermarkas di warung Buncit Jakarta Selatan.Orkes Gambus yang banyak menyuguhkan lagu qasidahan di nilai dapat menyejukan suasana. Lebih-lebih setelah televisi swasta Nasiona Swasta banyak menayangkannya. Indosiar,SCTV, RCTI, TPI (MNCTV), AN TV, TV One, Metro TV, dll

Untuk membuktiktikannya Gambus Mulai di gemari di kalangan Atas adalah dengan tampilnya di belasan hotel berbintang seperti Sari Pasifik, Le Meridian,Sahid Hotel, Akasia Hotel, termasuk pada perkawinan pada Reza dan Aji Masaid di masjid Baitul Rachman Gedung DPR Jakarta.

Tentunya maraknya kembali gambus berdampak pada Penjual kasete, dan sekarang ini banayak artis top yang juga meramaikan orkes Gambus. Tyia subiakto,Cici Paramida, Dewi Yull, Tri Utami, Emilia Contesa, Hamdan ATT, Rhoma Irama, dll.

Karena banyaknya permintaan Musik Gambus di Jakarta ,Sampai saat ini Orkes Gambus sudah terbentuk Puluhan  Group di Jakarta.

Adapun Musik Gambus di Jakarta sudah menjadi bagian dari Budaya Betawi,

Alat Musik Gambus Betawi yang di pakai sebagai pengiring di antaranya , Gambus, Biola, Suling, Gendang Dolak (gendang Lontong), Tamborin,Bass,  Akordion, dan saat ini sudah ada tambahan alat music lain, Keybord, Bongo, Durbuka, Gendang Dumbek,dll

Gambus masuk dalam kategori alat musik Chordophone (alat musik yang sumber bunyinya dari getaran dawai). Gambus adalah alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik. seperti jenis kecapi berleher pendek dan tidak memiliki fret Dilihat dari bentuknya,alat ini memiliki visual yang unik yaitu tabung resonator gambus yang berbentuk membulat, seperti buah pir yang dibelah dua. Gambus dibuat dari satu potong kayu utuh yang diberi cekungan sampai benar-benar tipis dan ringan.Semakin tipis maka semakin baik pula getaran yang dihasilkan.Ketipisan badan gambus sangat berpengaruh dengan baik tidaknya suara yang dihasilkan gambus.
Suara Gambus yang khas dihasilkan oleh resonansi yang unik pula. Senar gambus dipasang melintang dari ujung bawah badan instrument sampai dengan peg Senar bertumpu diatas bridge yang diletakkan diatas kulit yang diregangkan dan berfungsi sebagai sound board. soundboard gambus tidak terbuat dari dari kayu namun justru dari kulit hewan, seperti domba dll, yang telah di bersihkan dari bulunya. Kulit dipasang pada badan gambus dengan cara dipaku dengan paku yang kecil. Jumlah senar pada gambus yang paling lazim dijumpai amat berkisar antara 5-7 senar. Pada awalnya senar terbuat dari usus binatang yang disebut gut.
Bagian dari Gambus
Gambus terdiri dari tubuh berbentuk buah pir yang besar (atau soundbox) yang melekat pada leher yang pendek. Bagian depan (atau wajah) dari tubuh Gambus  adalah datar dan mengandung satu atau lebih soundholes, sedangkan bagian belakang adalah berbentuk mangkuk dan dibangun dari sekitar dua puluh tipis kayu dikenal sebagai ‘tulang rusuk’. String melekat pada Brige di muka Gambus dan melewati kacang di ujung lain dari instrumen. Tuning dicapai dengan memutar serangkaian pasak terkandung dalam pegbox, yang mengatur hampir pada sudut kanan ke leher Gambus. Catatan diproduksi oleh menghentikan string di beberapa titik di bagian depan leher – daerah ini juga dikenal sebagai fingerboard. Bagian utama dari Gambus ditunjukkan dalam diagram di bawah ini:

[Diagram di atas diadaptasi dari buku Mutlu Torun itu ” Gambus Metodu (Gelenekle Geleceke)”]

Instrumen yang digunakan dalam musik Gambus terlalu beragam dan terlalu banyak untuk daftar. Seperti halnya dengan maqamat dan ritme bagian ini tidak akan berusaha untuk menjadi komprehensif, melainkan akan menggambarkan alat musik  Gambus yang paling umum digunakan di Betawi

Ansambel tradisional Gambus atau pengucapan Takht (harfiah tidur dalam bahasa Arab) terdiri dari 4 instrumen melodi utama: Gambus, suling, accordion  dan biola, dan satu alat musik perkusi utama (Tamborin). Kadang-kadang Tamborin adalah dilengkapi / diganti dengan Dolak atau daff (frame drum). Ansambel yang lebih tua menggunakan jawzah atau kamanjah bukan biola Barat.

Gaya instrumen melodi dibagi menjadi dua keluarga: sahb pengucapan (menarik atau peregangan), dan pengucapan naqr (mencabut atau memalu). biola dan bahkan jatuh di bawah jatuh sahb, Gambus dan Accordion bawah naqr. Kedua keluarga ini dimaksudkan untuk melengkapi satu sama lain untuk menciptakan suara yang lebih kaya dan lebih lengkap. Dalam kasus duet, kombinasi yang paling umum adalah  Gambus dengan biola atau Accordion dengan Suling.

Penggunaan instrumen Barat marah sama dalam musik Gambus sangat luas saat ini. Ini termasuk piano, piano listrik, organ elektrik, synthesizer, akordeon, gitar, gitar listrik, listrik (cemas) bass. Beberapa dari instrumen ini dapat diubah untuk menghasilkan nada seperempat (lihat intonasi dalam musik Arab). Set drum dan perkusi elektronik juga sering digunakan dengan musik modern  Gambus pop / dance.

Flute, saksofon, klarinet, trompet dan trombon tidak instrumen marah tentu sama dan memungkinkan kontrol yang lebih besar lapangan (disebut lapangan lentur). Mereka digunakan untuk luasan berbagai musik Gambus, terutama dalam Jazz bahasa Gambus modern dan gaya Jazz fusi.

Biola, biola alto, cello dan bass tegak sangat banyak digunakan dalam musik Gambus , terutama dalam ansambel besar seperti Arrominia, dll Menjadi fretless semua, instrumen ini dapat nyaman digunakan untuk melakukan maqam Gambus.

Gambus
Gambus adalah salah satu instrumen yang paling populer dalam musik Betawi.

Leher Gambus, yang pendek dibandingkan dengan tubuh, memiliki frets tidak dan ini memberikan kontribusi suara yang unik. Hal ini juga memungkinkan bermain catatan dalam intonasi, yang membuatnya ideal untuk melakukan maqam Gambus. Kombinasi String yang paling umum adalah lima pasang senar disetel bersama-sama dan string bass tunggal, meskipun sampai tiga belas string dapat ditemukan. String umumnya terbuat dari nilon atau usus, dan dipetik dengan plectrum dikenal sebagai Risha ( bulu). String modern terbuat dari luka baja selama nilon. Instrumen yang memiliki timbre yang hangat, tessatura rendah, dan sering rumit dihiasi.  Gambus digunakan di Betawi sedikit berbeda dengan yang ditemukan di Turki, Armenia dan Yunani. Laras yang berbeda digunakan dan Gambus Turki gaya memiliki nada yang lebih cerah . Kecapi Eropa adalah keturunan Gambus,

Biola/Violin (Kaman)

Biola Eropa (juga disebut Kaman / Kamanjah dalam bahasa Arab) diadopsi ke dalam musik Gambus  pada paruh kedua abad ke-19, menggantikan biola dua-string adat yang lazim di Mesir juga disebut kamanjah. Meskipun berbagai laras yang digunakan, tuning tradisional Arab di perempat dan perlima (G3, D4, G4, D5.) Sebagai instrumen biola fretless dapat memproduksi semua nuansa intonasi dari maqam Gambus.

Gaya bermain sangat hiasan, dengan slide, trills, vibrato lebar, dan berhenti ganda, yang sering menggunakan string terbuka sebagai sebuah pesawat tak berawak. Berkisar timbre dari kaya dan hangat, mirip dengan suara dari biola Barat, untuk mengingatkan hidung dan menembus, dari suara rababah,.

Biola diadakan baik di bawah dagu yang biasa fashion dan gaya gamba pada lutut. Maroko memainkan gaya gamba dan sering Maroko menggunakan tuning GDAE.

Suling

Para Suling (Persia untuk ‘buluh’) adalah terbuka, miring akhir ditiup suling terbuat dari bambu. Mereka bahkan dikenal di Timur Dekat sejak jaman dahulu. Yang bahkan adalah sembilan-jointed, dan biasanya memiliki 6 lubang di depan untuk jari-jari untuk bermain dan 1 lubang di bawah untuk ibu jari. Hal ini dimainkan dengan bantalan jari. Sulingvdatang dalam panjang yang berbeda, masing-masing yang sesuai untuk lapangan spesifik dan dinamai catatan yang dihasilkan dengan 1 fingerhole terbuka (D4 untuk suling digunakan dalam demonstrasi catatan Terendah: C4.).

Yang bahkan ditiup menggunakan teknik bibir unik yang disebut bilabial bertiup, dengan kedua atas dan bibir bawah digunakan untuk menutup sebagian ujung tabung miring. Register 2 dan 3 adalah berlebihan seperlima dan satu oktaf lebih tinggi dari 1 mendaftar masing-masing. Beberapa nada-lubang ditugaskan untuk langkah microtonal tertentu, meskipun berbagai variasi microtonal juga dapat dicapai dengan membuka sebagian nada-lubang, mengubah sudut bertiup atau kombinasi dari keduanya.

Baik, nada lembut yang melahirkan dengan meniup lembut di atas lubang tabung sementara memanipulasi jari dan jempol, dengan cara meniup dengan kekuatan lebih atau kurang, suara yang dihasilkan satu oktaf lebih tinggi atau lebih rendah, dan lagu dalam skala yang berbeda dapat dimainkan dengan memanfaatkan suling dari berbagai panjang. Ini bahkan memiliki berbagai lebih dari dua oktaf.

Meskipun sangat sederhana, bahkan merupakan salah satu instrumen Gambus yang paling sulit untuk bermain. Seorang pemain yang baik dapat menghasilkan berbagai macam suara cair dan ornamen, itu adalah instrumen yang sangat menggetarkan jiwa. Timbre puitis Its membuatnya sangat cocok untuk mengekspresikan efek melankolis baik sukacita dan kerinduan. Ini adalah instrumen angin hanya digunakan dalam seni musik , Gambus luas dihargai karena suaranya yang hangat, desah dan infleksi nada yang halus dan dinamis.

Master dari Suling : Hamim Marzuki, Shahabudin Shahab (Betawi).

Tamborin (RiQ)

Para Tamborin (sometmes disebut daff) adalah rebana kecil (sekitar 8,5 inci inci berdiameter 2,5 & dalam) tradisional ditutupi dengan kulit kepala kambing atau ikan, membentang di atas bingkai kayu dengan bertatahkan mutiara. Para riq memiliki lima set dua pasang simbal kuningan (sekitar 2 inci diameter) spasi secara merata di seluruh frame, dan disebut ‘sagaat’ dalam bahasa Arab. Simbal adalah apa yang menghasilkan suara jingle yang menarik.

Meskipun ikan atau kambing kulit kepala dinilai untuk suara mereka yang hangat dan alami, masalah utama mereka adalah bahwa mereka sangat sensitif terhadap kelembaban dan dapat dengan mudah kehilangan sesak mereka. Tradisional pemain tamborin harus panas tamborin mereka sebelum kinerja. Karena kulit tamborin bisa stretch lagi setelah 5-10 menit, proffessional Tamborin pemain sering harus memiliki dua Tamborin identik, pemanasan satu satu sementara yang lain bermain, dan beralih antara lagu.

Pada akhir 1980-an, sebuah milar berkepala, aluminium (atau kayu) instrumen bertubuh diperkenalkan dan diadopsi oleh sejumlah pemain Tamborin profesional. Tamborin modern merdu, dan memungkinkan kepala untuk diganti tanpa harus terpaku

Gedang Lontong (Dolak)

Keberadaan  Gendang Lontong (dolak) sangat penting dalam komposisi musik tradisional khusus Gambus. Gendang Lontong atau Dolak memiliki bentuk hampir sama dengan, tabla ataupun gendang Rampak, hanya saja membrannya dituning sangat kencang sehingga suaranya nyaring. Sementara kekecangan dan kedalaman membran sangat ditentukan oleh tuning yang menggunakan tali kulit sebagai tarikannya

Durbuka/ Dumbek

Alat Musik Darabuka itu sejenis alat musik perkusi yang berbentuk mirip piala. Banyak istilah yang dipakai untuk menyebutkan alat musik, antara lain tablah, dumbec, doumbek, debuka dan darbuka. Cara memainkan alat musik ini yaitu dengan dipukul dengan kedua tangan kosong dan juga bisa menggunakan stik. dengan cara posisi duduk dengan kaki bersila. Dan selanjutnya Darabuka dipangku di sekitar tangan kanan atau kiri sesuai kenyamanan pemainnya. Namun seiring perkembangan zaman. Darbuka sekarang dimainkan dengan posisi duduk dengan menggunakan bangku dan ada juga yang mengikatnya pada bahu. (RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar