Ilustrasi : Rosa Ratnawati

  • Perkembangan :

Permainan ini di Jakarta sudah ada sejak tahun 1950-an. Saat ini, sudah ada induk organisasi yang menaungi permainan gasing ini, dan disebut PERGASI (Persatuan Gasing Seluruh Indonesia), dimana di setiap provinsi sudah terdapat Pengurus Daerah PERGASI. Jumlah pemain tidak dibatasi, semakin banyak yang ikut bermain akan menjadi lebih menarik. Permainan ini masih sering dimainkan saat ini, bahkan pada beberapa acara juga diperlombakan. Ada dua jenis gasing yang dieprlombakan secara ansional, yaitu :

  1. Gangsing jenis jantung
  2. Gangsing jenis Berembang
    • Arena Bermain :

Lahan tanah dengan lingkaran berdiameter 0,5 – 1 meter.

  • Peralatan :

Gangsing terbuat dari batang pohon asam, jambu batu,  atau sawo  yang berbentuk kerucut dan diberi potongan paku kecil di ujung bawahnya. Tali digunakan sebagai alat untuk melempar gasing.

  • Cara Bermain :
    • Gangsing Angonan,

Setiap gangsing peserta yang berputar dan berhenti di dekat garis lingkaran dinyatakan kalah. Karena kesalahannya, maka para peserta lainnya dibolehkan memukul secara bergiliran gangsing si kalah tadi dengan gangsing mereka masing-masing dan berusaha mengusirnya ke luar dari lingkaran. Peserta yang kalah tadi harus berusaha memasukkan kembali gangsingnya ke dalam lingkaran, dan apabila ia berhasil maka permainan harus diulang kembali.

  • Gangsing ambilan

Setiap peserta akan memasang satu buah gangsing dalam lingkaran. Setelah diadakan undian, peserta yang berhak lebih dahulu memukul gangsingnya ke tumpukan gangsing di dalam lingkaran. Jika gangsing yang dipukul keluar lingkaran, maka gangsing tersebut menjadi hak pemukul.

  • Gangsing Cocogan,

Setiap peserta menaruh gangsing pasangannya didalam lingkaran, lalu ia harus dapat mengeluarkan pasangannya itu. Setiap peserta yang memasang akan dipukul secara cocog oleh pemukul, biasanya kalau bahan kayu tidak kuat akan pecah dan yang dapat memecahkan gasing lawan maka akan dinyatakan sebagai pemenang.

Bagi peserta yang tidak dapat mengeluarkan atau paling akhir berhasil mengeluarkan gangsing pasangannya, maka ia dinyatakan sebagai yang kalah dan harus menerima cocogan dari gangsing peserta lainnya. Gangsing yang tidak keluar atau keluar dari lingkaran paling akhir akan dianggap kalah. (RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar