Haji Bokir: Melawak Bukan Sekadar Bikin Orang Ketawa

 

Bagi pecinta, pemerhati, dan penikmat topeng Betawi, nama almarhum Haji Muhammad Bokir bin Dji’un tentu tak asing lagi. Bahkan tak sedikit yang menyebutnya sebagai “legenda” dan “maestro” Topeng Betawi. Dalam acara “Temu Tokoh” yang diadakan Badan Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Jawa Barat bekerjasama dengan UPTD Setu Babakan dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) di Perkampungan Betawi Setu Babakan, Juli 2018, sepakterjang H. Bokir dikupas mendalam.

Acara yang menghadirkan keluarga dan kerabat dekat almarhum, Karlin dan Sabar Bokir itu berkisah tentang keseharian sang komedian Betawi. Karlin, putri salah satu pemain musik di grup Topeng Betawi Setia Warga yang dibentuk oleh Haji Bokir mengaku mengikuti almarhum sejak 1977, sebagai penari, saat masih berusia 10 tahun. “Ternyata tidak mudah untuk menjadi penari Topeng Betawi, tapi Pak Haji Bokir dengan sabar dan semangat terus mengajari saya, sampai akhirnya saya menguasai tarian tersebut, dan mulai menari dari kampung ke kampung,” kenang Karlin kepada penulis.

Setelah tari Topeng Betawi, Bokir mengajarkan Karlin “Lipet Gandes” (tarian dan lawakan khas Betawi). Menari dan melawak jelas hal yang jauh berbeda, tak heran Karlin mengalami kesulitan pada awalnya. Namun sekali lagi, dengan gigih dan penuh semangat, Haji Bokir mengajari Karlin sekaligus menanamkan rasa percaya diri. “Bagi Pak Haji Bokir, melawak bukan hanya sekadar membuat orang tertawa, tapi juga menanamkan nilai moral dan budaya Betawi. Mulai dari penggunaan bahasa, intonasi, dan bagaimana berimprovisasi.”

Haji Bokir bukan sekadar pelaku seni, tapi layak disebut sebagai “maestro”, di era ’70-an,’80-an dan 90’an dia aktif melestarikan dan mengembangkan Topeng Betawi. Di masa awal kemerdekaan, saat Jakarta dipimpin oleh Walikota (saat itu belum Gubernur) Sudiro, seniman-seniman tradisional di ibukota sempat dilarang “ngamen” di perhelatan-perhelatan besar berbau asing, seperti Tahun Baru Belande (Masehi) dan Tahun Baru Cina. Padahal, dari situlah mereka mendapat penghasilan lumayan.

Alhasil, para seniman tradisional kudu memaksimalkan “ngamen” dari kampung ke kampung demi mempertahankan hidup. Tak terkecuali Topeng Betawi Setia Warga tempat Bokir bernaung. Baru pada tahun 1968, ketika Djajakusuma memimpin Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), beragam kesenian Betawi diboyong dan dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Sejak itu, Bokir dan Topeng Betawi-nya bukan hanya mentas di TIM, namun juga mendapat tawaran muncul di TVRI, bahkan rekaman dalam bentuk kaset yang diputar secara luas di berbagai radio. “Waktu Topeng Betawi Setia Warga muncul pertama kali di TVRI, saya yang menjadi penarinya,” terang Karlin, dengan mata berbinar.

Bergelut dengan Topeng Betawi sejak usia 13 tahun, Haji Bokir menghabiskan waktu 60 tahun untuk menekuni, melestarikan, dan mengembangkan Topeng Betawi. Dengan rentang dedikasi sepanjang itu, amat layak jika dia didapuk sebagai maestro, bahkan legenda Topeng Betawi, sitir budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, yang juga hadir di acara diskusi di setu Babakan itu. Apalagi, “Sebagai seniman yang mewariskan keahliannya secara alamiah, Bokir benar-benar menggeluti kesenian dari bawah,” tambah Yahya.

Di tangan Bokir, pertunjukan topeng menjadi lebih dinamis dan variatif, terutama dengan lakon-lakon besutannya. Yang paling utama dari kesungguhannya dalam menggeluti topeng, Bokir meletakkan dasar-dasar bagi struktur pertunjukan topeng yang lebih asyik dan enak ditonton. “Bukan hanya gebrakan humornya yang lebih cair, Bokir menjadi magnet bagi banyak seniman untuk menjadi epigon pola permainan dan pertunjukannya.” Salah satu kreativitas sang maestro, memasukkan alat-alat musik elektronik seperti gitar, bas, saxophone ke dalam Topeng Betawi Setia Warga yang dipimpinnya hingga akhir hayat.

Selain kiprah nyata dalam melestarikan dan memajukan topeng Betawi, pria kelahiran Cisalak, 25 Desember 1925 ini juga populer sebagai komedian di film-film nasional era ’80-an hingga 90-an. Sejumlah adegan di film-film itu menjadi fenomenal, lantaran kehadiran Haji Bokir dengan tingkah dan dialog-dialognya yang menyegarkan. Dia pernah beradu akting dengan aktor-aktris papan atas Indonesia, diantaranya Benyamin Sueb di film “Betty Bencong Slebor” (1978) dan “Duyung Ajaib” (1978), bersama Warung Kopi DKI di film “IQ Jongkok” (1981), dan yang paling fenomenal bersama ratu horor Indonesia Suzanna di film “Malam 1 Suro” (1988).

Total ada 17 film pernah dibintangi Haji Bokir. Di dunia layar lebar ini, ia pas dengan peran sebagai hansip lugu atau dukun palsu, yang membuat namanya kian lengket dengan image lelaki Betawi kocak dan panjang akal. Anak pasangan Mak Kinang dan Djiun ini wafat pada 18 Oktober 2002 di usia 76 tahun, meninggalkan satu istri (istri ketiga), lima anak, dan sembilan cucu. (I)

Close Menu