“Herald van der Linde,” tamu Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) di Jumat (17/1) sore itu memperkenalkan diri. Dari namanya mudah ditebak, dia keturunan kumpeni, eh Belanda. Badannya tinggi gede, matanya rada cokelat. Ada urusan apa bule satu ini nyasar ke LKB?

Usut punya usut, ternyata meneer Herald sedang menulis buku tentang Jakarta dan Betawi. Meski berstatus petinggi salah satu bank terbesar dunia HSBC dan tinggal di Hongkong, lelaki paruh baya ini menunjukkan minat yang amat dalam pada budaya Betawi. Dia cinta banget pada Jakarta dan Betawi.

Pengurus LKB yang menerima Meneer Herald di Sekretariat LKB, Ketum Bang Beky, Sekretaris Umum Bang Imbong, budayawan Bang H. Yoyo, anggota Tim Komunikasi LKB Bang Icoel, dan “kuncen” LKB Bang Rudi, mulanya rada kikuk. Lah, kagak ada di antara mereka yang fasih Bahasa Belanda.

Tapi kekhawatiran itu lenyap lantaran Meneer Herald ternyata jago banget berbahasa Indonesia. Dia buka kartu, sudah belajar Bahasa Indonesia sejak usia 20 tahun (kiwari umurnya 50-an). Bisa dimaklumi, karena istri Herald berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Jadi, Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu kedua buat Herald, setelah Bahasa Belanda.

Londo penyuka nasi uduk, gado-gado, dan laksa ini tampak amat serius mendengarkan paparan Bang H. Yoyo Muchtar tentang sejarah Betawi, mulai zaman kerajaan atau prakolonial, zaman kolonial, hingga masa-masa pascakemerdekaan. Tak ketinggalan, Bang Yoyo memperkenalkan budaya Betawi kepada Meneer Herald, mulai seni tari, musik, teater, hingga 8 Ikon Betawi. Pokoknya komplet dah.

Begitu takjub Herald menyimak, sembari sesekali berkomentar. Namun kebanyakan komentarnya, “Saya baru tahu itu,” sambil bibirnya menyungging senyum dan jari-jari menggaruk kepala. Dari situ dia bahkan sampai pada kesimpulan, Betawi adalah budaya internasional. Setelah tahu betapa kayanya pengaruh budaya nusantara dan bangsa lain terhadap perkembangan kebetawian. Terbukti di antaranya dalam kuliner dan fashion.

Herald juga kagum pada luwesnya dialek Betawi dalam menyerap bahasa daerah dan bahasa asing, sehingga menjadi bahasa pergaulan paling banyak digunakan di nusantara. “Saya baru tahu itu,” terucap lagi.deh kalimat sakti dari mulut Herald.

Di ujung pertemuan, LKB wanti-wanti agar buku yang akan dibuat Herlad nantinya (dalam Bahasa Inggris) dapat mengangkat Budaya Betawi menjadi budaya yang mendunia. Sebuah kehormatan bagi kami di LKB dapat menyampaikan informasi yang baik dan benar perihal kebetawian, kepada warga dunia seperti Meneer Herald. Meneer yang lahir di Belanda, bekerja mencari nafkah di Hongkong, berbinikan orang Kuningan, dan tergila-gila pada budaya Betawi. Perfect match.

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar