Setu Babakan

Sahibul Hikayat merupakan salah satu jenis tradisi lisan Betawi yang tumbuh dan berkembang di daerah Tengahan seperti, Tanah Abang, Salemba, Kebon Sirih, dan Kemayoran (Muhadjir, 1986: 164). Kata sahibul hikayat berasal dari bahasa Arab, dari dua kata: sahib (ﺐﺤﺎﺼ) yang bermakna ‘pemilik’ dan hikayat (ﻪﻳﺎﻛﺤ) yang bermakna ‘cerita’. Gabungan dua kata membentuk frase genitif (milik), sahibul hikayat (ﻪﻳﺎﻛﺤﻟﺍﺐﺤﺎﺼ),  sehingga bermakna pemilik cerita atau dalam bahasa Melayu  adalah yang empunya cerita. Istilah  sahibul hikayat menjadi sebuah bentuk kesenian muncul karena dalam membawakan cerita, juru hikayat atau pencerita sering mengucapkan kata-kata  “menurut sahibul hikayat” atau “sahibul hikayat”. Cerita yang disampaikan dalam bentuk prosa dan dengan beberapa bait pantun. Seorang profesional yang menyampaikan sahibul hikayat ini disebut sebagai juru hikayat.

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Wassholatu wassalamu ‘ala nabiyyil karim. Imamil anbiyai walmursalim. Wa’ala alihi washohbihi ajmain.

Segala puja puji disanjungkan ke haribaan junjungan Nabi Besar Muhammad Shallahu ‘alaihi wa’ala alih. Robbana hablana nin azwajina wazurriyyatina, qurrota ‘ayun waj’alna lilmuttaqiena imana.

Amma da’du. Maka marilah kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga pertemuan kita saat ini memperoleh berkah dan ridlaNya. Maka hikayat ini dimulai.

Konon, kawasan Setu Babakan, Jakarta Selatan, pada mulanya adalah wilayah pinggiran yang penampilannya kurang-lebih sama dengan daerah pinggiran lainnya di Jakarta. Alamnya masih terpelihara, banyak tetumbuhan yang membuat kawasan itu menjadi sejuk dan nyaman ditinggali. Sementara penduduknya adalah sebagian besar masyarakat Betawi yang masih cukup kuat mempertahankan keaslian budaya mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengandalkan Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong, masyarakat sekitar mendapatkan bukan hanya air untuk menumbuhkan padi, tanaman, dan pohon-pohon mereka, tapi juga pelbagai jenis ikan dan kesedapan mata memandangnya—di samping mitos yang menakutkan tentang buaya penguasa setu tersebut.

Namun, dalam hal Setu Babakan kini, soalnya bukan hanya sumber kehidupan masyarakat Betawi di sekitarnya. Ini menyangkut politik identitas dan upaya bertahan dari gempuran modernisasi dan globalisasi. Begitulah, Setu Babakan telah dilihat sebagai wilayah yang masih memelihara keaslian budaya Betawi, ketika tempat-tempat lain di Jakarta hal tersebut sudah tidak ada lagi. Kampung-kampung orang Betawi telah digusur demi pembangunan metropolitan Jakarta. Kantong-kantong budaya Betawi ikut lenyap karenanya. Setu Babakan seperti membayar kembali kerinduan orang akan kawasan konservasi budaya Betawi yang sebelumnya ada di Condet, Jakarta Timur.

Setu Babakan

Dari sebuah setu impian itu dimulai. Masyarakat Betawi merindukan kembali satu wilayah tempat identitas mereka tetap terjaga dari gempuran waktu, dari perkembangan kota Jakarta yang gila-gilaan.

Pada mulanya adalah sebuah Festival Sehari di Setu Babakan yang diselenggarakan oleh Sudin Pariwisata Kotamadya Jakarta Selatan pada 13 September 1997. Dalam festival itu ditampilkan atraksi budaya Betawi, penanaman pohon langka, pelepasan bibit ikan ke setu, di samping sejumlah perlombaan: lomba hias getek, lomba masak sayur asem, lomba kano dan sampan, dan lomba mancing ikan.

Lantaran kemeriahan acara yang dihadiri tak kurang dari 2.000 orang itu, seraya menindaklanjuti perkembangan Setu Babakan sebagai obyek wisata yang berwawasan lingkungan, Kepala Suku Dinas Pariwisata Jakarta Selatan yang saat itu dijabat oleh Drs. Suharyanto dan Kasie Obyek dan Daya Tarik Wisata H. Yoyo Muchtar memunculkan ide menjadikan Setu Babakan menjadi Perkampungan Budaya Betawi. Usulan ini kemudian secara lisan disampaikan kepada Ketua Umum Bamus Betawi Mayjen (Pur) H. Eddie M. Nalapraya dan Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Hj. Emma A. Bisrie. Selanjutnya Bamus Betawi mengadakan rapat pertama dengan hasil di antaranya mengusulkan kawasan Setu Babakan sebagai Perkampungan Budaya Betawi dengan menunjuk LKB sebagai koordinator. Menanggapi usulan ini Pemda DKI Jakarta, lewat Asskesos, mengundang sejumlah pakar dan instansi terkait untuk membahas rencana ini.

Menyambung kemeriahan festival sebelumnya, di tengah makin menguatnya ide pembentukan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, maka pada 9 November 1997 digelar “Upacara Pindah Rumah Dinas Gubernur DKI Jakarta dengan Adat Betawi”. Saat itu Gubernur Sutiyoso mencetuskan keinginan, seraya mengamini aspirasi elite Betawi yang kian menguat, membangun Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan. Menyambut pernyataan Gubernur, maka pada 15-16 Januari 1998, Bamus Betawi menyelenggarakan Sarasehan Perkampungan Budaya Betawi.

Sarasehan itu dihadiri oleh instansi terkait Pemda DKI dan para pakar itu menghasilkan pandangan tentang perlunya seluruh anasir budaya Betawi dibangun di perkampungan budaya Betawi yang akan dibangun. Rencana ini mesti mendapatkan dukungan dari luar, di antaranya lembaga keilmuan seperti LIPI dan sejumlah universitas. Saat itu studi lapangan dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dengan dukungan LKB dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Sejurus dengan itu, persiapan terus berjalan. Mulai dari pembuatan proposal, rencana induk (master plan), penyiapan anggaran, studi banding, sejumlah rapat, lokakarya, peninjauan lokasi, hingga keluarnya SK Gubernur No. 92 Tahun 2000 tentang Penataan Lingkungan PBB di Kelurahan Srengseng  Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada 18 Oktober 2000, dan Kep. Gubernur No. 3381 Tahun 2000 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pembangunan PBB di Kelurahan Srengseng  Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Peletakan batu pertama pembangunan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakn dilakukan oleh Gubernur Sutiyoso pada Jumat, 15 September 2000. Acara ini diawali dengan salat Jumat berjamaah di Masjid At-Taubah yang berada di lokasi Setu Babakan. Setelah pembangunan berjalan, masih ada beberapa perangkat hukum yang menguatkan posisi Setu Babakan sebagai perkampungan budaya Betawi. Satu di antaranya adalah Perda No. 3 tahun 2005 tentang Penetapan PBB di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada 10 Maret 2005.

Sampai di sini saja kiranya hikayat ini saya sampaikan. Semoga Allah subhanahu wata’ala melapangkan segala urusan kita, mensehatkan badan kita, mengucurkan rezki yang halal dan banyak.

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thoriq. Wa billahi taufiq wal hidayah, warridlo wal inayah. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar