Sebulan kurang sepeninggalnya Saefullah, Sekretaris Daerah Pemprov DKI Jakarta, di lobi Gedung Dinas Pendidikan DKI Jakarta di Jalan Gatot Subroto dilangsungkan pembagian hadiah Lomba Puisi yang diselenggarakan oleh LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi). Perlombaannya sendiri sudah  berlangsung selama satu bulan dan dilaksanakan secara virtual, mengingat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diberlakukan di wilayah DKI Jakarta. Perlu diketahui lomba ini diselenggarakan oleh LKB bekerjasama dengan dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, serta didukung oleh Bank DKI dan PD Pasar Jaya.

Inisiatif lomba datang dari Sekda Saefullah. Namun saat lomba tengah berlangsung datang kabar duka, Saefullah, wafat tanggal 16 September 2020, sehingga ia tidak bisa menyaksikan lomba hingga selesai. “Acara ini merupakan bentuk penghormatan kepada almarhum Saefullah, atau yang biasa juga dipanggil Bang Ipul,” ujar Ketua Umum LKB, Beky Mardani. Piala bagi para pemenang lomba puisi yang dibagikan pada hari Jum’at (9/10), memang disediakan oleh almarhum Bang Ipul. Ia sangat mendukung kegiatan yang dilakukan pada saat pandemi Covid-19 ini, mengingat manfaat besar yang akan diperoleh anak didik. Saefullah sendiri dalam kariernya pernah menjadi seorang guru. Karena itu selain dukungan penyelenggaraan, Saefullah juga berharap pelaksanaan lomba puisi untuk para siswa dan mahasiswa bisa dilakukan setiap tahun.

Lomba puisi ini mengusung tema “Nasionalisme dan Berbudaya Melalui Literasi”. Ratusan peserta ikut serta dan video penampilan mereka ditayangkan melalui kanal YouTube Lembaga Kebudayaan Betawi. Tampilan mereka banyak membuat kagum yang melihatnya. Tercatat  jumlah peserta usia SD/MI  mencapai 185, untuk kategori SMP/MTs  sebanyak 280 dan 122 peserta untuk kategori SMA/MA/SMK/Universitas dari  seluruh Jakarta.  Para peserta membacakan dua puisi, yakni puisi wajib dari karya Chairil Anwar, WS Rendra, dan Taufik Ismail, serta puisi pilihan dari karya-karya penyair dari Betawi seperti Susy Aminah Aziz, Tuty Alawiyah AS, Zeffry Alkatiri, Yahya Andi Saputra, Rizal, Fadjriah Nurdiarsih, Rachmad Sadeli, Sam Mochtar Chaniago, dan lain-lain.

Iwan Henry Wardhana, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, yang hadir memberikan hadiah mengatakan sangat berterima kasih kepada LKB  yang telah menyelenggarakan acara ini. “Meski di tengah pandemi, tapi ide-ide dan kreativitas ternyata memang tetap berjalan. Apalagi animo peserta terhadap acara ini juga sangat besar. Banyak di antara generasi muda, bibit anak-anak sekolah, yang punya jiwa dan bakat di bidang kesenian,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Nahdiana, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Ia mendorong dan mendukung anak-anak Indonesia untuk menemukan bakat mereka. “Dengan diadakan lomba puisi ini, anak-anak ini belajar mengapresiasi diri mereka. Anak-anak punya aktualisasi diri yang sangat baik, berani tampil di depan umum, dan menjadi juara. Hal ini sesuai dengan misi pendidikan yang tuntas berkualitas. Artinya, kita tidak ingin mengungkung anak-anak pada satu bakat atau talenta. Kita tidak ingin anak-anak belajar pada apa yang diberikan oleh guru. Kita dorong anak-anak menemukan minat dan bakatnya,” jelas Nahdiana.

Sementara binar mata anak-anak yang menerima piala dan juga hadiah uang tidak bisa disembunyikan dari balik wajah-wajah mereka yang  tertutup masker pelindung. Setiap pemenang mendapat hadiah antara Rp500 ribu hingga Rp3,5 juta yang membuat mereka lebih bersemangat untuk lebih menekuni puisi.  “Wah, senang sekali saya. Saya akan tabungkan hadiah yang dapat ini,” ujar  Tristan, juara favorit dan juara Terpuji  tingkat SD. Bagaimana ia mempersiapkan diri dalam lomba ini? “Saya berlatih setiap hari dengan serius. Ayah saya yang mendampingi saya dalam berlatih,” tambah Tristan. Dione Aletta Charis, siswa SMPN 115 Jakarta, yang berhasil menjadi juara 1 lomba baca puisi tingkat SMP mengaku berlatih full selama seminggu dengan pelatih kakaknya sendiri yang pernah menjuarai lomba puisi tingkat nasional. “Dione ini memang sejak SD sudah sering ikut lomba puisi. Malah juga pernah jadi juara story telling dalam bahasa Inggris,” ujar ibunya bangga.

Meski acara lomba baca puisi LKB telah berakhir, Yahya Andi Saputra, salah seorang juri lomba baca puisi, meminta kepada sekolah-sekolah di Jakarta untuk mengadakan pelatihan membaca puisi kepada para siswa. “Apalagi selama 30 tahun sampai sekarang ini, model pembacaan puisi kita tidak berubah. Padahal, membaca puisi dan mendeklamasikan puisi, sesungguhnya sangat berbeda,” kata  Yahya.

(Rep: Savira Putri Aprillia)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar