JAKARTA, LEMBAGA KEBUDAYAAN BETAWI- Tidak seperti biasanya mayarakat sekitar Sunter, Jakarta Utara, Sabtu malam (28/9), berkumpul di salah satu sudut pemukiman warga di RW 01 Kelurahan Sunter Jaya. Mereka hadir menikmati tampilan kesenian Betawi dan Jamlurah, yakni acara talkshow yang membahas sejarah daerah atau wilayah di DKI Jakarta.

Tokoh masyarakat Sunter H. Muhammad Makmun Jaelani menjelaskan penduduk kelurahan Sunter Jaya pada awalnya tinggal jalan Bentengan. “Dahulu tempat ini masih berupa sawah dan ladang. Itu kondisi tahun 1970-an dimana banyak penduduk menanam kangkung di sawah. Pada era 1970-an itu pula Sunter digali tanahnya untuk dijadikan danau Sunter 1 dan Sunter 2.  Kemudian tahun 1980-an mulailah berdiri rumah-rumah warga,” kata Makmun.

Sementara Yahya Andi Saputra menambahkan mengena sejarah lebih awal dari daerah ini.  Yahya mengungkapkan bahwa Sunter masa lalu merupakan wilayah  yang dikuasai tuan tanah. “Di sini dahulu adalah rawa, sawah, dan ladang dengan tanaman singkong, ” katanya. Lebih jauh dikatakan bahwa cerita rakyat di Sunter terpengaruh oleh cerita dari daerah Kemayoran dan wilayah pesisir. Seperti diketahui Sunter memang tidak jauh letaknya dengan daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Sunter juga tak jauh dari batas pantai Jakarta di bagian utara.  Saat ini Sunter sudah berubah menjadi kawasan pemukiman yang padat penduduknya.

Acara Jamlurah (Jangan Ampe Lupain Sejarah) di Sunter ini  dipandu oleh H. Yoyo Muchtar dan Maya Shafira (Mae Shafira) sebagai moderator.  Selain Yahya Andi Saputra (Ketua Bidang Litbang LKB) , H. Muhammad Makmun Jaelani (Tokoh Masyarakat Sunter) , juga hadir H. Sukartono (Tokoh Masyarakat Sunter). Masyarakat mengikuti dialog dan diskusi ini sambil santai karena acaranya sendiri dibuat ringan dan mudah dicerna masyarakat, disertai penampilan kesenian Betawi yang cukup menghibur warga.

Sekjen  Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Imbong Hasbullah  menyatakan Program Jamlurah merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh LKB agar lebih dekat dengan masyarakat. Jamlurah hadir mejadi lampu senter yang menerangi penelusuran sejarah  tentang asal-usul suatu daerah di Jakarta. Diharapkan melalui acara ini masyarakat mengerti dan mengharga sejarah kampung atau wilayah tempat mereka tinggal, karena dengan mengenal lebih dekat wilayah mereka akan muncul rasa cinta yang lebih dalam terhadap tempat tinggal mereka.

Acara Jamlurah sebelumnya sudah hadir di Pondok Labu, Jakarta Selatan dan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Selanjutnya program yang diusung oleh LKB ini akan hadir di Jakarta Barat dan Jakarta Timur. Nah, tinggal kita tunggu tanggal mainnya. Jamluraaaaaaahhh….jangan ampe lupain sejarah!!! Betawi…..milik kite semua!!!  (syd)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar