JAKARTA, LEMBAGA KEBUDAYAAN BETAWI– Bagi warga Betawi nama Rawabelong sudah sangat terkenal. Selain memang letaknya yang masih terbilang di tengah kota, Rawabelong ngetop karena kisah heroik Si Pitung yang membela rakyat kecil dari penjajah Belanda pada abad ke-19, jauh sebelum Indonesia merdeka. Tapi nama Rawabelong itu sendiri darimana diambilnya? Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra berpendapat Rawabelong berasal dari 2 suku kata, yakni Rawa dan Balong. Rawa adalah daerah yang digenangi air dan biasanya cukup dalam dan tidak terawat. Balong menunjukkan empang yang dalam. Rawabelong bisa jadi dulunya adalah kawasan rawa yang dalam-dalam.

Pembahasan mengenai nama Rawabelong, termasuk tentang legenda si Pitung, yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat berangsung sekitar satu jam dalam acara “Jamlurah” atau Jangan Ampe Lupain Sejarah. Acara yang dipandu oleh Bang Yoyo Muchtar dan Maya Saphira ini menghadirkan narasumber Ketua Litbang LKB Yahya Andi Saputra, Sejarawan Betawi JJ Rizal dan tokoh masyarakat Rawa Belong H Aminudin Mansyur.

(kiri-kanan) Mpok Mae, Bang Yoyo, H Aminudin, Bang Yahya, Bang JJ Rizal

Ketua Bidang Pemberdayaan dan Pelestarian LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi) yang menggagas acara ini tersenyum lebar melihat acara yang digelar di SDIT Raudatul Athfal di Jalan Anggrek Cakra, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jum’at malam (11/10) mendapat sambutan antusias dari warga sekitar. Acara ini memang dimaksudkan untuk menggali sejarah lokal dan toponimi (penamaan tempat) suatu daerah, sehingga bisa memberi pengetahuan dan melahirkan kecintaan yang lebih dalam terhadap lokasi tempat mereka tinggal.

Sejarawan Betawi JJ Rizal mengungkapkan di Jakarta daerah yang diberi nama dengan kata Rawa jumlahnya banyak sekali. “Ada 64 daerah di Jakarta yang namanya diawali dengan kata Rawa,” kata Bang JJ di depan hadirin yang tampak terperangah. Ada Rawamangun, Rawabebek, Rawabunga, Rawasari, Rawa Jati, Rawa Buaya, Rawa Terate dan banyak lagi yang lainnya. Sebelum menjadi kota megapolitan seperti sekarang Jakarta memang banyak terdapat rawa-rawa dan juga danau atau setu. Dahulu Jakarta dijuluki “Big Kampong” alias Kampung Besar, dan menurut JJ Rizal sampai sekarang pun Jakarta merupakan sebuah kampung. Melalui kata “kampung” Jakarta dan Indonesia memberi sumbangsih pada dunia, karena tidak ada di belahan dunia lain yang memiliki istilah kampung.

Ahmad Syaropi (Ksudin Parbud Jakbar) & Goees Almaghribi (LKB)

Sebelumnya Kepala Sudin Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Barat, Ahmad Syaropi, menyatakan bahwa manusia mudah berubah menjadi warga negara lain, atau bahkan berubah agama sekalipun. “Tapi nyaris tidak bisa kita berubah, misalnya saya orang Betawi, menjadi suku lain. Saya akan tetap saja dikenal sebagai orang Betawi,” kata Syaropi. Nah, identitas kesukuan ini menunjukkan jati diri yang sangat kuat. Jadi, banggalah menjadi orang Jakarta, orang Betawi.

Acara Jamlurah di Rawabelong merupakan yang keempat kalinya digelar, setelah Pondok Labu-Jakarta Selatan, Sunter-Jakarta Utara, Tanah Abang-Jakarta Pusat. Wilayah yang belum kebagian menggelar acara ini adalah Jakarta Timur dan Kepulauan Seribu. Jamlurah merupakan upaya Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) untuk memberi edukasi sambil menghibur warga, karena dalam setiap kali pergelaran ditampilkan tari, silat dan juga tradisi lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Tak heran banyak warga yang kini menunggu kehadiran Jamlurah di daerah mereka.

Jamluraaaaaaahhh….jangan ampe lupain sejarah!!! Betawi…..milik kite semua!!! Begitulah Bang Yoyo meneriakkan yel-yel Jamurah yang ditanggapi penuh semangat oleh semua warga.

(syd)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar