Oleh Yahya Andi Saputra

Bismillahirrahmanirrahiem

Mengingat masih bulan Syawal, sesudah susah payah sebulan berpuasa, saya ingin mengucapkan selamat Idulfitri 1441 hijrah. Minal aidin walfaidzin. Maaf lahir batin. Taqabbalallahu mina waminkum. Taqabbal Ya Karim. Selain itu, sampai saat ini awar-awar (wabah) Covid-19 masih membayangi kehidupan keseharian kita, layak dan tepat jika kita munajat berdoa kepada Allah azza wajalla, agar wabah yang mengerikan ini segera diangkat dan dilenyapkanNya. Hidup kita berjalan normal kembali. Amin ya mujibassailin.

Dari Ciawi ke Tegal Parang

Ke Cikarang jalannya pagi

Kenal Betawi mulai sekarang

Enggak sekarang mao kapan lagi

Saya sempat memperhatikan beberapa grup Whatsapp. Kadang ditemukan postingan yang kocak dan menggelitik. Ada misalnya, “Jika orang Betawi ngobrol sambil tertawa terbahak-bahak, dipastikan mereka sedang membicarakan masa lalu yang gilang-gemilang hijau royo-royo. Tapi jika mukanya ditekuk seperti dompet tanggung bulang, pasti sedang membicarakan masa kini”. Benarkah begitu? Bisa benar, bisa juga tidak salah.

Saya ingin menambahkan cerita agar terasa lebih merisaukan dan menegangkan. Tentu tergantung daya serap dan kesan atas pesan yang ditangkap masuk ke dalam lubuk hati. Begini. Konon tiap etnik, termasuk Betawi, mempunyai tiga pandangan dalam menyikapi liuk liku kelindan zaman dengan aneka hasil buah pikirnya. Terutama dalam hal teknologi dan gaya hidup.

Yahya Andi Saputra

Pertama, tipe dinosurus. Dinosaurus sangat kuat dan besar. Punah karena tak mau dan tak mampu menyesuaikan diri ketika dunia berubah. Dia fokus kepada apa yang hilang, tidak menerima keadaan. Sibuk menyalahkan. Pikirannya masih nyangkut kesuksesan jaman dulu. Langsung blame-menyalahkan, excuse-alasan dan justify-membenarkan.

Kedua, tipe kura-kura. Kura-kura masih fokus kepada yang sudah tidak ada dan sudah hilang. Dia ikhlas  tapi tidak move on. Pikirannya tidak bergerak ke perubahan dan tidak ambil tindakan. Masuk ke tempurungnya saat ada ancaman.

Ketiga, tipe ulung-ulung atau elang. Ulung-ulung mampu menerima perubahan, bahkan justru merangkul perubahan itu. Ia bergerak bagai nahkoda kapal yang menghadang ombak. Bagai ulung-ulung yang apabila ada angin topan di depannya, dia menyambut dan bergumul  ke dalam angin itu. Karena hanya saat ada badai, elang menemukan penerbangan tertingginya di angkasa raya.

Ia rangkul perubahan menjadi temannya. Memastikan pada setiap kesempitan selalu ada peluang. Ia tidak hirau dengan yang telah hilang, tapi fokus pada solusi dan masa depan. Karena di belakangnya banyak hal yang mengharap terobosan dan kerja kreatif inovatifnya.

Dari ketiga tipe diurai di atas, tipe apakah yang sedang diperankan orang Betawi di kampungnya sendiri? Mohon maaf, barangkali ilustrasi di atas kurang relevan jika dikaitkan dengan pokok bahasan makalah ini, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Anggap itu hanya cuplikan sohibul hikayat.

Yahya Andi Saputra

Alhamdulillah

Sejak awal kepemimpinannya, Gubernur Sutiyoso, langsung akur dan menèkèn restu atas usulan masyarakat Betawi yang menyodorkan proposal pembangunan proyek perkampungan tradisonal masyarakat Betawi. Namanya ditetapkan Perkampunagn Budaya Betawi (PBB). Pilihan tempat dipatok di kawasan Setu Babakan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Setelah beberapa kali diselenggarakan kegiatan di lokasi berupa festival, lomba, pentas kesenian, diperkuat dengan diskusi, seminar, lokakarya, akhirnya pemangunan PBB dimulai dengan peletakan batu pertama, 15  September 2000. Bang Yos, Muspida, dan tokoh masyarakat Betawi mengambil peran penting pada saat itu. Dengan pembangunan yang dikebut, 20 Januari 2001, diresmikanlah PBB.

Jika peletakan batu pertama pembangunan PBB dilakukan tahun 2000, maka tahun ini (2020) usianya masuk 20 tahun. Sungguh usia yang berada pada gerbang matang. Kematangannya dapat dilongok pada zona-zona – selain zona embrio yang mangalami mutilasi lantaran salah kebijakan – yang sudah dan tengah dibangun dan dipoles menjadi dewasa. Selain program pengembangan yang nantinya menjadi entuk atau sumber mata air bagi kecemerlangan kebudayaan Betawi.

Alhamdulillah, sejak masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso samapai Gubernur Anies Baswedan, PBB menjadi program unggulan (dedicated program) gubernur. Aspek legalnya dituangkan dalam beberapa peraturan, antara lain : SK Gubernur No. 92 Tahun 2000 tentang Penataan PBB Srengseng Sawah, Perda No. 3 Tahun 2005 tentang Penetapan PBB di Srengseng Sawah, Pergub No. 129 Tahun 2007 tentang Lembaga Pengelola PBB, Pergun No. 151 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembangunan PBB, Pergub No. 305 Tahun 2014 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja UPK PBB, Pergub No. 179 Tahun 2015 tentang Forum Pengkajian dan Pengembangan PBB. Keberadaannya kian kuat dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2015 tentag Pelestarian Kebudayaan Betawi dan Pergub No. 229 Tahun 2016 tentang Implementasi Perda No. 4/2015. Landasan legal ini semakin kuat dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dengan ketentuan perundangan dan peraturan di atas, jelaslah kedudukan, tugas, dan fungsi PBB. Jelas bagi masyarakat Betawi, mereka sudah mempunyai PBB yang telah lama menjadi keinginannya. PBB merupakan tempat di Jakarta, di mana dapat ditemukan dan dinikmati kehidupan bernuansa Betawi berupa keasrian alam Betawi, komunitas Betawi, tradisi Betawi, kebudayaan dan materi yang merupakan sumber informasi dan komunikasi kebetawian.

Bang Yahya dan Bang Indra

Pagar Hati

Meskipun kondisi faktual pembangunan PBB secara fisik telah berdiri di lahan seluas 289 H (milik pemerintah daerah dan masyarakat), bukan berarti tanpa masalah. Beberapa di antaranya yang menonjol adalah belum maksimalnya pengelolaan kawasan. Dibutuhkan aturan atau instruksi yang mengikat semua pemangku kepentingan. Kawasan ini memang secara khusus diciptakan sebagai sarana pemukiman, ibadah, informasi, seni budaya, penelitian, pelestarian dan pengembangan serta sarana pariwisata, bisa dikatakan sebagai ‘one stop shopping’.

Namun, ‘one stop shopping’ belum dikembangkan maksimal seperti yang diharapkan dan direncanakan. Berbagai masalah bermunculan seperti masalah penataan lokasi pedagang, kebersihan lingkungan dan yang paling penting adalah bagaimana kawasan ini diisi sebanyak mungkin kegiatan budaya Betawi.

Masalah lainnya adalah kurang tersajinya unsur esensial budaya etnik Betawi. Master plan PBB yang mungkin telah disusun belum berjalan optimal. Pembangunan atas dasar master plan ini cenderung lebih kepada pembangunan secara fisik, yaitu dengan membagi wilayah PBB ke dalam beberapa zona. Sementara pembangunan secara esensi kebudayaan kurang begitu terasa. Keadaan ini mengakibatkan pergeseran tujuan awal PBB menjadi suatu objek wisata hiburan. Padahal, menjadi objek wisata adalah suatu hal yang natural ketika PBB berhasil memenuhi peranannya secara maksimal sebagai pusat perlindungan, pelestarian, dan edukasi kebudayaan.

Hal yang biasanya kurang direkam pada master plan adalah bagaimana menjelaskan keterlibatan kejiwaan masyarakat. PBB sebagai objek perkampunagn budaya dan wisata tidak bisa dilepaskan dari peran masyarakat setempat. Sosialisasi, internalisasi, dan edukasi masyarakat adalah hal utama yang perlu dilakukan oleh pengelola. Pengelola boleh sedikit bersantai karena saat ini mayoritasa masyarakat sudah mau menerima program-program yang ada.

Mula-mula, masyarakat harus mengerti betul bahwa dengan didirikannya PBB tidak akan merepotkan atau bahkan merugikan masyarakat. Sebaliknya, justru akan dapat mengembangkan peradaban dan perekonomian masyarakat setempat melalui pelatihan-pelatihan, pendidikan, program-program, penataan, serta kegiatan wisata yang berlangsung. Ketika hal ini sudah tertanam dengan baik dalam benak masyarakat, maka mereka akan lebih kooperatif. Untuk mencapai sikap koopratif ini diperlukan program yang melibatkan hati. Mengelola hati masyarakat untuk memahami, mencintai, dan rasa memiliki PBB sebagaimana mereka memiliki milik mereka. Inilah yang dimaksud dengan Program Pagar Hati, sebuah program khusus mengelola masyarakat agar menyatu dengan cita-cita pembangunan PBB. Mengelola hati masyarakat dan memagarinya dengan cinta tanpa sisa atas PBB. Dengan begitu, merekalah yan menjadi ujung tombak pemeliharaan, pengawasan, dan pembangunan berkelanjutan.

Yahya Andi Saputra

Ideologi Betawi

Tatkala masalah internal terselesaikan, tentu saja fokus utama atas fungsi PBB dikuatkan sampai tuntas. Artinya pembangunan infrastruktur yang terkait pengembangan PBB diprioritaskan. Pembangun sarana pendidikan formal, yaitu Sekolan Menengah Kebudayaan Betawi disegerakan. Pendidikan formal yang didukung fasilitas, kurikulum, laboatorium, dan tenaga pengajar yang kompeten merupakan sebagain besar tanda pencapaian keberhasilan.

PBB dengan seluruh fasilitas pendukun merupakan kawah candradimuka persemaian ideologi Betawi. Di PBB disemai ribuan bibit unggul pengusung ideologi Betawi. Tatkala bibit itu menjadi pohon dengan bunga dan buah yang sehat dan paripurna, maka dengan sendirinya akan menyebarkan virus ideologi Betawi ke antero tanah nusantara. Sebagai masyarakat yang agamis, intisari ideologi Betawi adalah rahmatan lil alamin. Intisari ini merupakan adonan berbagai karakter dan kearifan Betawi yang ajeg.

Tentu saja ideologi Betawi tidak melulu berada di gedung pendidikan formal. Ideologi ini dapat disemaikan pada tiap individu Betawi dalam segala level usia, pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan profesi. Individu ini kemudian membangun ideologi ini di mana dia tinggal atau beraktivitas dan di ruang-ruang publik di tempat biasa mereka ngerahul. Ujung dari pemahaman dan implementasi ideologi ini terciptanya tatanan kebetawian yang mapan. Kemapanan ini menguarkan rahmatan lilalamin, keberkahan bagi segenap tatanan. Warga Jakarta menjadi aman, tenteram, dan nyaman dan menjadi barometer berkehidupan sosial kemasyarakatan seluruh Indonesia.

Ideologi Betawi ini masih platform. Merealisasikannya membutuhkan kebersamaan, durasi, emosi, transmisi, kerendahan hati, dan ikhlas. Sejujurnya, platform ini bukan sesuatu yang baru dalam perjalanan sejarah masyarakat Betawi. Jika disinkronkan dengan karakter masyarakat Betawi, akan bertemu simpulnya.

Penutup

PBB hanya bisa terwujud bila ada keinginan dan kemauan yang kuat dari Pemerintah Daerah atas dukungan masyarakat Betawi pada khususnya dan masyarakat Jakarta pada umumnya. Di PBB seyogyanya diisi manusia dengan tipe ulung-ulung, seperti disinggung di awal tulisan ini. Jiwa raganya menerima perubahan seraya terus bergerak mencari ruang-ruang eksplorasi demi perbaikan. Tidak ada yang ia sesali sedikitpun. Segala tantangan dijadikan tangga membuka panorama untuk semakin inovatif.

Inovasinya bermunculan mencari dan mengejar peluang yang ada, yang menghasilkan tindakan dan eksekusi pada hasil maksimal. Ia tidak lagi fokus atas apa yang telah hilang, tapi fokus pada solusi dan masa depan. Karena dibelakangnya banyak manusia lain yang membutuhkan dan mengharapkan keteladanan. Harapan itu menjadi tanggungjawabnya. Jalan kebaikan seperti apapun ditempuhnya, tidak menghiraukan cemooh juga pujian.

Seperti kata BJ Habibie, “Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya siapa lagi? Jangan saudara mengharapkan orang lain yang datang membangun bangsa kita.” Dengan demikian, siapapun yang berkunjung ke PBB akan mendapat pencerahan bahwa dirinya bagian dari upaya memuliankan karakter dan identitasnya. Menjadi penguat sabuk pengikat yang kokoh atas multikultur dan teladan kebhinnekatunggalikaan.

Masak empal pake mentega

Beli sarapan osengan sawi

Kearifan lokal wajib dijaga

Demi keluhuran budaya Betawi

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.

 

Jakarta, 4 Juni 2020

Yahya Andi Saputra

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

1 Komentar

  • Sukses selalu bang Yahya Andi Saputra, semoga sehat selalu, dan Tawadhu menjalankan Tradisi Betawi

    Salam hangat

    Rudy @lbdr

Tinggalkan Komentar