Kabar 16 Februari 2019 – Sebagai anggota Volksraad, kepedulian pahlawan nasional asal Betawi, Mohammad Husni Thamrin tak melulu pada politik dan tak hanya menyoal kampung dan kemiskinan. Tetapi juga pada sepakbola. Di tangan Thamrin, politik dan sepak bola dikawinkan menjadi pengantin yang unik. Dan Thanmrin berhasil.

M.H Thamrin memang pencandu sepak bola. Sebagai anggota Dewan Rakyat, dia mendesak pemerintah kota untuk memperhatikan dunia persepakbolaan di kalangan rakyat sendiri. Untuk mengenang kepedulian Thamrin pada dunia sepak bola ini, Perkumpulan Betawi Kita menggelar Festival 125 Tahun MH Thamrin.

Dalam press release yang diterima Lembaga Kebudayaan Betawi, Ketua Betawi Kita, Roni Adi Tenabang mengatakan semangat Thamrin membawa sepak bola dan rakyat kecil dalam perjuangan politiknya harus diingat lagi di masa kini. Apalagi dikaitkan dengan kondisi sekarang, di mana Persija, yang merupakan juara Liga 1 2018, tidak memiliki lapangan untuk berlatih yang representatif di Jakarta.

“Ini merupakan momentum untuk mengembalikan sepak bola sebagai perjuangan dan pemersatu dengan membangun stadion yang layak bagi Persija. Betawi Kita ingin Gubernur Anies menyelesaikan apa yang telah dibangun oleh MH Thamrin,” ujar Roni.

Dengan semangat itulah, Festival 125 Tahun MH Thamrin yang mengambil tema “125 Tahun MH Thamrin: Jungkir Balik demi Jakarta” dilaksanakan. Setelah konferensi pers pada Jumat, 15 Februari 2019, pada pukul 09.30-11.30 digelar seminar dengan subtema “Dari Stadion VIJ menuju Stadion MH Thamrin: Thamrin Memulai, Anies Mewujudkan” dengan pembicara JJ Rizal (sejarawan), Abdillah Afiif (tim penulis buku Gue Persija & Abidin-Side Fanzine), Wahyu Afandi (Direktur Operasional Jakpro), serta  moderator Kojek Rap Betawi.

Keesokan harinya, ada pula pameran foto dengan subtema “Sejarah VIJ hingga Persija: MH Thamrin, Politik dan Sepak Bola Kebangsaan” di Lapangan Sepak Bola VIJ, Jalan Petojo VI No 2 Rt 3 Rw 6, Cideng, Gambir, Jakarta Pusat.

Festival hari kedua pada Sabtu (16 Februari 2019) diramaikan dengan pertandingan persahabatan Warga feat Gubernur dengan Persija Oldstar, pertandingan sepak bola perempuan “Persijap Kartini Jepara vs Putri BMIFA Banten”,  lomba stand up comedy dengan tema “Sepak Bola dan Orang Kampung”, ditambah hiburan gambang rancak, orkes Melayu, dan band Gondal-Gandul. Acara berlangsung di Lapangan Sepak Bola VIJ mulai pukul 07.00 – 16.00 WIB.

Gila Bola

Sepak bola sebagaimana juga Thamrin, menurut sejarawan JJ Rizal, lahir bersama cahaya aufklarung atau pencerahan yang dibawa elite pemerintah kolonial lantaran merasa berutang budi kepada masyarakat tanah jajahan pada akhir abad ke-19. Sepak bola dan Thamrin  lahir ditandai oleh gemuruh arus masuknya elemen-elemen aufklarung, yaitu ideologi-ideologi besar, seperti sosialisme, komunisme, nasionalisme, islamisme dan sepak bola.

Seperti ideologi-ideologi itu yang begitu tiba di Hindia menjadi “agama baru”, demikian juga sepak bola tumbuh menjadi counter kultur terhadap perkembangan masyarakat dan sejarah kolonial. Otomatis seumpama pergerakan politik awal ke-20, berbagai bond atau klub sepak bola yang bermunculan juga segera diliputi semua sifat khas yang menurut sejawaran Ben Anderson menjadi zeitgeist atau jiwa zaman saat itu: muda, maju, dan sadar.

Tak ayal sepak bola dan pergerakan kebangsaan dekat sekali. Thamrin adalah gambaran kedekatan itu. Sebab itu, dialah yang dicari manakala klub sepak bola pribumi menghadapi masalah  politik ras. Misalnya mereka  tidak boleh meminjam lapangan bond sepakbola  Eropa di Batavia, meskipun tujuannya untuk pertandingan amal.

Sebulan setelah Sumpah Pemuda, berdirilah sebuah perkumpulan sepak bola bernama VBB (VoetBal Boemipoetera), yang kemudian hari berubah namanya menjadi VIJ (Voertbalbond Indonesia Jacatra) dan pada 1942 menjadi Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta).

MH Thamrin kemudian memberikan dukungan VIJ yang saat itu menjadi cerminan “Indonesia” berbasis kecil. VIJ atau sepak bola adalah simbol perlawanan warga adat terhadap pemerintah kolonial, dengan tidak memakai nama Batavia atas nama asosiasi ini. Ia bahkan menyumbangkan 2000 gulden dari kantong pribadinya untuk membuat lapangan sepak bola yang layak bagi kaum pribumi. VIJ pun punya lapangan yang representatif, dari sebelumnya tidak memiliki lapangan.

MH Thamrin, yang diangkat menjadi pelindung VIJ, kemudian larut dalam perjuangan melalui sepak bola. Pada skala yang lebih luas lagi, Thamrin juga ikut mendukung perjuangan PSSI. Ia seringkali mengajak para koleganya di Dewan Rakyat untuk ikut menghadiri pertandingan yang diselenggarakan PSSI.  Bahkan para anggota Dewan Rakyat pun diajak ikut bermain dalam pertandingan persahabatan. Kehadiran elite politik tersebut merupakan bentuk dukungan moril terhadap perjuangan bangsa Indonesia melalui sepak bola.

Abdillah Afiif, salah seorang tim penulis Gue Persija & Abidin-Side Fanzine menyebut, dalam perjalananannya tercatat nama-nama politikus lainnya, seperti Mr. Hadi, Iskandar Brata, Mr. Kusuma Atmaja, Dr. Moewardi dan Dr. A. Halim yang juga ikut membentengi perjuangan VIJ.  Sepak bola dan politik memang berada dalam rel yang berbeda. Namun, keduanya kerap bertemu dalam suatu persimpangan. Tak bisa dimungkiri bahwa sejarah sepak bola Indonesia tidak terlepas dari perjuangan politik para elite bangsa Indonesia saat itu.

Thamrin, dengan kecintaannya yang kuat terhadap sepak bola, telah membawa tokoh pergerakan bangsa dan proklamator Sukarno ke dalam stadion.  Bahkan pada saat pertandingan final antara VIJ dan PSIM, Thamrin secara khusus meminta Sukarno yang baru saja keluar dari penjara Sukamiskin untuk melakukan tendangan pertama tanda dimulainya pertandingan. Ini sesungguhnya melambangkan visi nasionalisme MH Thamrin bahwa sepak bola bukan medan kepentingan, melainkan perjuangan dan ujung tombak gerakan kebangsaan.

Peninggalan MH Thamrin yang gibol (gila bola) adalah Lapangan Sepak Bola VIJ. Stadion yang terletak di Jalan Petojo VI No 2 Rt 3 Rw 6, Cideng, Gambir, Jakarta Pusat ini, digunakan oleh klub sepak bola Hindia Belanda, Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), yang resmi berdiri pada 1928 dan kemudian pada 1950 dipakai oleh Persija Jakarta.

Thamrin lahir 16 Februari 1894 dari pasangan Thamrin Muhammad Thabri dan Nurhamah di Kampung Sawah Besar, Batavia. Saat itu ia tinggal tidak jauh dari pusat kota baru dan merasakan betul sistem rasis kot kolonial.

Keluarga MH Thamrin adalah keluarga peranakan Eropa. Ia sering disebut sebagai kaum elite, super kaya Betawi dan ayahnya pejabat dalam struktur pemerintahan kolonial. Thamrin disekolahkan di tempat yang baik. Ia memperoleh pendidikan Belanda. Namun kebijakan yang berubah serta adanya politik balas budi memungkinkan MH Thamrin memasuki Bijbelschool Pasar Baru, semacam sekolah kanak-kanak Kristen. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Koning Willem Drie (KW III) yang berbahasa pengantar Belanda.

Meski di sekolah Thamrin memiliki nama belanda Jacob, di kampungnya ia dipanggil Matseni. Ini berkat pengaruh dari keluarga ibunya ditambah pergaulan yang akrab dengan orang kampung, jiwa sosial Matseni mulai tumbuh. Thamrin tidak canggung bergaul dan main hujan bersama teman-temannya yang anak kampung.

Karena itulah, dalam sepak terjangnya, dia sangat memperhatikan rakyat kecil. Dia menuntut pemerintah kolonial menganggarkan puluhan ribu gulden untuk perbaikan kampung. Thamrin berbicara lantang, “Sejak kecil, walau saya anak wedana, saya bergaul dengan anak-anak jelata. Sejak kecil saya dihadapkan pada kenyataan pahit kehidupan saya. Banjir menimbulkan kemelaratan dan penyakit. Saya melihat sendiri betapa becek kampung dan jalan tempat saja bermain. Betapa gelap pada malam hari karena tidak ada penerangan.” (icoel/BK)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar