Kisah Naga dan Gambang Kromong
Sebagian pemain musik Gambang Kromong/foto:sayadi

Oleh: Irfan Budiman

“Sebuah film yang mencoba menelusuri asal-usul musik gambang kromong.”

Usia Masnah sudah tidak muda lagi: 80 tahun, tapi perempuan itu masih sanggup turun-naik panggung. Napasnya masih panjang untuk bernyanyi dan menari. Bersama Setia Nada, kelompok gambang kromong nya, dia mendatangi undangan dari segala penjuru. Malam itu, misalnya, dia tampil dengan sapuan bedak di wajahnya dan berkebaya warna hijau. Semangatnya tidak pernah kendur. Di atas pentas, dia memang menemukan dunianya. Selama puluhan tahun, Masnah hidup di antara kenong, rebab, kendang, dan gong. Dia mulai larut dalam musik ini ketika anak dan suaminya meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. “Dari pada bengong mikirin mereka dan takut malah pikiran jadi kosong, lebih baik saya ngikut rombongan gam bang,” katanya. Sejak itulah dia bernyanyi, meski kadang terdengar lirih seperti gesekan rebab yang mengiringnya. Lewat musik ini, dia menyambung hidupnya. Kesetiaan Masnah menggeluti musik gambang kromong merupakan salah satu sosok yang diangkat dalam film dokumenter berjudul Anak Naga Beranak Naga, Gambang Kromong: Akulturasi Budaya Tionghoa Betawi, yang dibuat Kineruku kelompok asal Bandung yang aktif membuat dan mengapresiasi film.

Melalui film itu, tim yang dipimpin Ariani Darmawan, sang produser dan juga sutradara tersebut berusaha menelusuri akar sejarah musik yang sempat populer pada 1970-an melalui duet Benyamin Sueb dan Ida Royani. Musik gambang kromong yang dibawakan dua pesohor itu boleh dibilang merupakan gambang kro mong modern yang lahir setelah melalui proses perkembangan yang panjang. Adapun Ariani dan timnya menarik waktu lebih jauh lagi, yakni ketika musik ini pertama kali dimainkan kaum Tionghoa peranakan ber sama masyarakat sekitarnya. Alhasil, musik gambang kromong yang memenuhi film ini berbeda dengan yang kerap dibawakan Benyamin dan Ida. Beragam jenis gambang kromong pun muncul. Ada yang dise but gambang kromong “dalem” atau klasik, yang masih kental dengan slendro Cina. Lagu-lagu yang ma suk jenis itu, antara lain, Poa Si Li Tan, Gula Ganting, Mas Nona, Sipadmo, dan Cente Manis Berdiri. Jenis ini kini sudah jarang lagi terdengar dan hanya bisa dimainkan panjak (pemusik gambang) yang pandai, yang jumlahnya kini makin terbatas.

Berikutnya adalah gambang kromong “sayur”, yang berkembang seiring dengan masuknya pengaruh Portugis dan Timur Tengah. Jenis musik yang kerap disebut stambul dan persi ini sudah jarang dimainkan. “Kalaupun ada, hanya dua atau tiga lagu saja. Beberapa grup gambang kromong kini lebih suka memainkan lagu-lagu pop dan dangdut dengan memakai iringan musik gambang kromong,” papar Ariani. Film yang menggunakan narasi berupa teks yang ditulis Phoa Kian Sioe ini dimulai dengan penjelasan dari Tan De Seng, seorang musikolog tentang gambang kromong dari sisi perkemba ngan musikalitas, dan Eddy Prabowo, seorang sinolog yang bicara sosiologi masyarakat Tionghoa perana kan dari masa ke masa. Adapun David Kwa melengkapinya dari kacamata seorang pengamat budaya Tiong hoa peranakan. Dari mulut tiga orang itulah, mereka menjelaskan segala ihwal tentang musik ini. Dari penu turan mereka terungkap musik gambang kromong merupakan bentuk akulturasi atau percampuran budaya dari Tionghoa peranakan dengan masyarakat sekitarnya, yakni Betawi.

 

Perjalanan musik ini pun amat panjang. Dimulai pada abad ke 18, ketika Batavia baru saja didirikan oleh Belanda. Orang Tionghoa sendiri didatangkan Belanda untuk membangun kota baru itu. Lambat laun mereka yang tidak tinggal di kawasan Pecinan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. “Masyarakat Tionghoa peranakan yang umumnya merupa kan kelas menengah ke bawah berusaha untuk bisa diterima masyarakat lokal,” ujar Eddy. Salah satu pere kat itu adalah musik gambang kromong. Lambat laun musik ini mengalami perubahan bentuk seiring de ngan masuknya pengaruh musik slendro Jawa, Sunda, Deli, dan bahkan dari luar, seperti Portugis dan Ti mur Tengah. Hingga akhirnya musik ini kemudian dikenal sebagai identitas masyarakat Betawi. Tanpa me ngesampingkan pengaruh masyarakat sekitarnya, termasuk Betawi, film ini berusaha mencari bentuk asli dari musik ini. Itu pula sebabnya, sepanjang pertunjukan yang memiliki durasi 60 menit Anak Naga banyak menampilkan pertunjukan gambang dari kelenteng dan acara perkawinan kaum Tionghoa peranakan. Di sanalah memang musik asli ini masih terdengar. Seperti juga tokoh-tokoh yang muncul di dalamnya, musik gambang kromong “asli” adalah sebuah dunia yang menyendiri, berjalan dalam sunyi, dan terpojok di kalangan kaum peranakan Tionghoa. “Yang nanggap cuman orang-orang Tionghoa saja,” kata Ukar Sukardi, seniman gambang kromong dari Gunung Sindur, Bogor.

Sejak awal tim pembuat film ini memang memfokuskan pada musik gambang kromong “asli”. Meski pada perkembangannya mereka sempat berpikir untuk mengupas pula fenomena gambang kromong modern, mereka kembali pada kesepakatan awal, yakni tetap dengan musik asli gambang kromong. Ide awal pem buatan film ini sendiri, menurut Ariani, berangkat dari ketakjubannya pada sebuah cakram padat (CD) yang diterbitkan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia dan Smithsonian Folkways, yang diberi judul Gambang Kromong, Music from the Outskirts of Jakarta, sekitar empat tahun silam. Musik gambang kromong yang didengarnya sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya, melalui lagu-lagu Benyamin Sueb, yang disukainya. Ditambah lagi keterangan dalam sampul album itu yang menyebutkan musik ini lahir dari per campuran antara budaya Tionghoa peranakan dan kaum lokal, yakni Betawi. Hal itu yang kemudian melecut kan idenya untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya kaum peranakan itu bisa berbaur dengan masya rakat setempat. “Menurut saya, itu luar biasa karena jarang terjadi pada komunitas-komunitas Tionghoa di mana pun yang pernah saya temui,” tutur Ariani. Kerja besar yang dipimpin Ariani memakan waktu hampir setahun. Rencananya bulan depan film ini akan diedarkan secara luas. Caranya? “Gratis. Agar bisa sampai ke masyarakat luas,” katanya. Sebuah upaya yang patut dihargai. Dengan cara seperti itu, publik tidak hanya bisa mengetahui asal-usul musik ini semata, tapi juga perjuangan para pelakunya yang tetap setia memainkannya, seperti yang dilakukan Masnah. Di usianya yang sudah senja, dia masih tetap menjadi cokek. Meski untuk itu dia harus panggung dengan dipapah beberapa orang. Bagi Masnah dan yang lain nya, memainkan gambang kromong dari udik ke udik di malam dingin adalah sebuah panggilan untuk mem buat musik ini tetap bernapas.

 

Close Menu