Yahya Andi Saputra
Penulis Buku Jampe sayur Asem

Maman Mahayana

Penghadiran latar suasana peristiwa itu juga tampak lebih kuat pada puisi “Pecak Gabus.” Diawali dari proses memancing sampai ikan gabus terhidang di piring beling atau di meja makan, YAS menghadirkan latar suasana. Dengan begitu, citraan yang muncul di sana adalah suasana peristiwa yang khidmat ketika hendak memancing; perasaan seperti beroleh kemenangan ketika hendak pulang; dan kesibukan istri yang segera menyiapkan hidangan pecak gabus. Latar dalam puisi ini tidak wujud sebagai nama tempat atau tarikh, melainkan suasana yang dihadirkan dari serangkaian peristiwa. Tentu saja YAS tidak perlu berkisah tentang seseorang yang datang ke kali, menyiapkan umpan di mata kailnya, membaca jampe mancing, melemparkan mata kail ke tengah sungai, dan giriwil, tertulislah larik begini: Seekor gabus menggelepar di ujung kail.

Pada bagian pertama ini, sejumlah puisi lainnya yang mengisyaratkan kekuatan latar suasana peristiwa dapat kita cermati pada puisi berjudul “Si Jagur”, “Pieter Erberveld”, “Nyai Dasima”, “Lukisan Jan Pieterzoon Coen”, “Ondel-Ondel” dan entah puisi mana lagi. Tetapi, bagaimana dengan puisi-puisi yang secara eksplisit menyatakan tempat dan waktu, baik sebagai judul, maupun sebagai integral teks puisi. Sekadar contoh, saya ambil secara sembarang puisi ini:

 

SENJA MUARA ANGKE

: h. alex kamaluddin

tak kuasa surya membuka jelaga

wajah-wajah mengeriput pucat

bergegas mengejar alamat

sesudah langkah hanya gundah dan resah.

Senja jadi legam

berkelindan angin dan gerimis mengeram

tiada yang bisa digenggam.

Di aspal basah kaki melangkah goyah

luruh menjadi desah.

Aku di senja bersama gerimis di lindap cahaya

tak hanya luka yang menganga.

 

Jakarta, 28.4.2016

 

Itulah masalah yang terjadi pada sebagian besar puisi pada bagian pertama ini: sebuah keumuman, bukan universalisme. Seperti deskripsi yang terdapat pada novel remaja (: populer) tentang suasana di depan gedung sekolah x: Pintu gerbang yang dijaga satpam sekolah, ibu guru dengan motor bebeknya, gerombolan siswa kelas IPS, dan sang primadona yang diantar mobil mewah, dan seterusnya, dan seterusnya. Deskripsi model begini, berlaku juga di hampir semua sekolah di perkotaan. Jika begitu, apa yang membedakan sekolah x, y, dan z, jika tidak ada detail yang khas, unik, dan menjadi ikon sekolah itu?

Kini, kita kembali lagi ke puisi yang berjudul “Senja Muara Angke”. Cobalah ganti nama tempat Muara Angke dengan Leuwiliang, desa di pinggiran Bojonggede atau batas desa. Bagi pembaca yang tak pernah menginjakkan kaki di Muara Angke, perubahan judul sangat mungkin tidak akan mempengaruhi pemahamannya atas teks puisi itu. Jangan salah, tafsir dan pemaknaan pembaca sangat ditentukan oleh pengalaman. Permainan citraan hanya mungkin dapat menghadirkan asosiasi, jika ada pengalaman yang sama atau yang serupa atau yang sejenis. Citraan pada puisi sangat penting mengingat penyair tak punya peluang untuk melakukan deskripsi panjang-lebar. Oleh karena itu, gerakan mengklik saklar imajinasi hanya mungkin terjadi jika ada penanda, ikon, atau karakteristik yang dapat dikenali bersama. Pertanyaannya kini: apa makna Muara Angke dalam puisi itu, jika suasana peristiwa yang dihadirkan di sana bersifat terlalu umum.

Perkaranya akan lain jika YAS tidak menyebut nama tempat. Latar di sana bisa bermakna metaforis atau kontekstual yang mengacu pada referensi tempat tertentu. Ingatlah puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” Chairil Anwar. Ia tidak menyebut tempat tertentu. Maka, pelabuhan kecil dapat dimaknai menurut tafsir pembaca. Meski begitu, mengingat pelabuhan tertera pada judul, konteksnya tetap perlu dibunyikan dalam larik-larik puisinya, meski ia bermakna metaforis. Seperti dinyatakan Chairil Anwar: “… Kapal, perahu tiada berlaut … Dalam larik-larik berikutnya ada pula keterangan ombak, semenanjung, pantai yang masih ada cantelanya dengan pelabuhan. Jika di sana ada kelepak elang dan bukan camar, menegaskan kepada kita, bahwa Chairil Anwar pun, tergoda untuk membangun rima: Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang// yaitu kelam, elang, muram, berenang …. Dalam hal ini, Chairil Anwar –dalam kasus itu—lebih mementingkan rima daripada logika.

Dalam kaitannya dengan puisi “Senja Muara Angke” kita tak menemukan cantelan yang mengisyaratkan, bahwa senja itu memang terjadi di Muara Angke. Penyair dalam puisi itu tampaknya bermaksud sekadar “memotret” sebuah peristiwa yang terjadi di sana senja hari: tentang orang-orang yang pulang sehabis bekerja keras; rutinitas yang tak melahirkan harapan; dan aku lirik yang tidak dapat berbuat apa-apa, selain rasa empati. Jadi, mana Muara Angkenya? Latar dalam puisi itu jadinya terkesan tempelan.

Hal yang senada terjadi pada puisi berjudul “Monas Sehabis Hujan”. Monas yang penting sebagai ikon Jakarta, ibukota negara, dan di belakangnya ada sejarah panjang, tak bunyi lagi dalam larik-larik puisinya. Lalu, apa bedanya jika puisi itu berjudul “Taman Surapati Sehabis Hujan” atau “Kampus UI Sehabis Hujan” atau “Bla … bla … bla … Sehabis Hujan”?

Meskipun demikian, sejumlah puisinya yang lain yang terdapat pada bagian pertama ini cukup banyak memberi informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu dan sejarah Jakarta. Beberapa catatan kaki yang disertakan di sana membantu kita melengkapi pemahaman atas tafsir dan pemaknaan puisi yang bersangkutan.

Bagian pertama ini ditutup dengan sebuah puisi panjang, “Resonansi Nasi” sebuah puisi naratif tentang nasib padi-nasi. Dalam puisi ini, tampak YAS menguras segala pengalaman dan kesadarannya tentang sesuatu yang erat dengan kehidupan kita, tetapi kerap diabaikan kisah hidupnya. YAS seperti menjawil kesadaran dan empati kita tentang itu.

***

Bagian kedua yang diberi judul “Anak-Anak yang Kehilangan Rumah” berisi 46 puisi. Dari jumlah puisi itu, ada sekitar 10 yang menyebut nama tempat, meski tidak sigfikan ditempatkan sebagai latar. Subjudul bagian ini, setidak-tidaknya bagi saya, mengisyaratkan kisah para gelandangan dan anak-anak jalanan. Oh, ternyata bukan. Ia diambil dari sebuah puisi dengan judul itu. Ternyata lagi, yang dimaksud “kehilangan rumah” adalah para pengelana, pengembara semesta, atau mereka yang gelisah dalam pencariannya.

Sebagian besar puisi yang terhimpun dalam bagian ini, tampak berbeda dengan gaya pengucapan bagian pertama. YAS terkesan seperti hendak menawarkan model puisi naratif yang lebih panjang, meski di sana-sini pada bagian kedua ini pun, ada beberapa puisi pendek. Tetapi bukan di situ letak soalnya. Puisi pendek atau panjang hakikatnya, ya puisi. Ia tetap mensyaratkan adanya sarana puitik. Jadi, meski penyair bebas melakukan apa pun model pengucapannya, sepatutnya, atau idealnya, ia tidak mencampakkan sarana puitik yang menjadikan puisi menjelma puisi yang sebenar-benarnya puisi. YAS tampaknya sangat memperhatikan perkara itu.

Dalam bagian kedua ini, YAS seperti hendak menyuguhkan banyak hal, termasuk kasus Rohingya, Myanmar. Periksa saja puisinya yang berjudul “Ibu Berhati Iblis”, “Kyi”, dan “Perempuan yang Membakar Nuraninya”. Jika dikaitkan dengan puisi yang menjadi judul bagian ini, “Anak-Anak yang Kehilangan Rumah” boleh jadi, puisi ini pun punya cantelan dengan kasus tragedi Rohingya. Tetapi, penyair kerap terjebak pada keumuman, hingga tanpa disadarinya, abai pada unikum, kekhasan, dan penanda yang dapat digunakan pembaca sebagai lanjaran. Titik pijak untuk melakukan tafsir. Pengabaian itu bukan tanpa risiko. Pembaca pada akhirnya menafsir dengan segala keumumannya itu.

***

Perbincangan puisi-puisi dalam antologi Jampe Sayur Asem karya YAS ini, tentu saja baru selintasan, ringkas, dan sekadar mengambil contoh kasus. Masih banyak hal yang sesungguhnya menarik dan penting untuk digali lebih jauh dan menukik. Dibandingkan antologi sebelumnya, Sihir Sindir (2016), Jampe Sayur Asem terasa lebih kokoh dan disusun dengan segala kesungguhan. Jadi, jika mengikuti perkembangan kepenyairan YAS sejak Gelembung Imaji (1999) sampai kini, saya menangkap masih banyak peluang bagi YAS untuk menghasilkan karya yang lebih kokoh. Setidak-tidaknya, penempatan latar—salah satunya— akan menjadi kekuatan tersendiri ketika ia dikaitkan dengan akar budaya, sebagaimana yang banyak dieksploitasi para penyair di kita persada Nusantara ini. Dengan cara begitu, puisi bagi penyair, dapat diperlakukan sebagai pintu keluar untuk memperkenalkan kultur etniknya, dan bagi pembaca dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami kultur lain yang lebih kaya dan beragam; memahami kekayaan kultur etnik Nusantara.

YAS telah berada di jalan yang benar. Tinggal bagaimana kesadarannya akan kultur yang telah melahirkan dan membesarkannya diterjemahkan dalam puisi yang lebih inspiratif, asosiatif, dan komunikatif. Semoga Tuhan memberkati!

 

 

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar