Buku, Jampe Sayur Asem

Maman S Mahayana

Konon, menurut teori, latar dalam karya sastra –terutama prosa— adalah salah satu unsur intrinsik yang penting untuk menegakkan keseluruhan bangunan estetik karya bersangkutan. Latar ditandai dengan penyebutan waktu dan tempat peristiwa sosial. Meski begitu, ada juga latar yang kehadirannya disampaikan secara tersirat. Logat bicara, model pakaian, dan tingkah laku yang berkaitan dengan etika dan tradisi masyarakat mengisyaratkan adanya latar sosial-budaya. Selain itu, ada juga latar yang menggambarkan situasi atau suasana tertentu. Sepi, syahdu, ingar-bingar atau meriah adalah latar suasana yang kehadirannya dimungkinkan oleh penggambaran kondisi alam atau lakuan tokoh-tokohnya. Latar suasana biasanya diperlukan untuk mendukung problem psikologis atau peristiwa batin tokoh-tokohnya. Nah, begitulah, penghadiran latar dalam karya sastra tidaklah sekadar. Ia berfungsi merekatkan jalinan segenap unsur intrinsik untuk membangun pesan atau wacana yang hendak disampaikan pengarang.

Dalam puisi, latar juga bukan sekadar asesoris. Ia isyarat yang kerap dimanfaatkan penyair untuk menyampaikan pesan. Tetapi, ia bisa juga sebagai pintu masuk membetot pembaca memasuki dunia yang hendak diangkat dalam puisi itu. Dalam beberapa kasus, sangat mungkin ia juga berfungsi sebagai pintu keluar untuk menghidupkan saklar imajinasi pembaca menjelajah ke dunia di luar teks. Jadi, intinya: penghadiran latar bagi penyair, bukan tanpa maksud. Selalu di sana ada sesuatu yang hendak diselusupkan. Kita (: pembaca) sepatutnya memang bercuriga, bahwa apa pun yang tertera pada teks, punya makna, entah sebagai makna tekstual, entah makna kontekstual. Ya, begitulah latar menurut yang empunya teori.

***

Bagaimana duduk perkaranya hingga sayur asem dikaitkan dengan latar? Ada jampenya lagi! Dalam sejumlah telaah puisi, jarang sekali perkara latar menjadi pokok perbicangan. Padahal, cukup banyak puisi kita yang memanfaatkan latar sebagai bagian penting dari pesan tematik penyair. Boleh jadi karena usaha mengangkat latar dalam karya sastra, khasnya puisi, memerlukan pencermatan dan penelusuran asal-usul tempat dan tarikh dalam konteks sejarah, maka tak banyak penyair yang memilih jalan yang perlu kerja keras ini. Oleh karena itu, jalan paling aman bagi penyair adalah menghindarnya. Lalu, yang muncul adalah ekspresi perasaan, curhat dengan segala metafora yang sengaja diindah-indahkan, atau kritik sosial dengan sasaran tembak tokoh partai, para koruptor atau tiang listrik. Lebih sedikit lagi pengamat (sastra) yang coba menguak puisi yang berada di jalur ini.

Sekadar menyebut beberapa, periksalah puisi-puisi Zeffry al-Katiri yang memanfaatkan Batavia masa lalu sebagai latar. Teks puisi di sana memaksa kita bergentayangan ke peristiwa zaman kolonial. Ada semacam revitalisasi dan re-interpretasi pemaknaan masa lalu dalam konteks Jakarta yang sekarang. Cermati juga puisi-puisi Ridwan Saidi. Ia memang tidak mengkhususkan diri bermain dengan sejarah masa lalu. Tetapi, style, ungkapan dan idiom atau potret sosial yang digunakan membawa kita pada kehidupan sosial-budaya masyarakat Betawi yang lugas, no problem, dan terkesan suka-suka alias semau gue. Rini Intama ceritanya lain lagi. Ia memusatkan perhatian pada keberadaan sungai tertentu (Cisadane). Dengan demikian, ia menjadi khas, unik, dan tak lazim. Tentu saja segala latar itu sekadar untuk memperkuat tema dan unsur intrinsik lainnya. Penyair masih perlu menyampaikannya dengan tetap memperhatikan sarana puitik, seperti citraan, metafora, simbolisme, analogi, dan seterusnya.

Nah, kini, bagaimana dengan permainan Yahya Andi Saputra (YAS) lewat Jampe Sayur Asem-nya? Apakah latar dalam puisinya sekadar tempelan, pintu masuk atau pintu keluar atau catatan sejarah yang diperlukan untuk mendukung tema?

Antologi puisi Jampe Sayur Asem (JSA) ini memuat 86 puisi yang dipilah ke dalam dua bagian. Bagian pertama diberi subjudul “Anak-Anak Marunda Pulo” berisi 40 puisi; dan Bagian Kedua yang bertajuk “Anak-Anak yang Kehilangan Rumah” menghimpun 46 puisi.

Keseluruhan puisi pada bagian pertama ini menyebutkan latar tertentu: kota, waktu, nama tokoh atau benda yang berkaitan dengan peristiwa sejarah tertentu. Jadi, sudah barang tentu, latar di sana merupakan unsur yang penting. Setidak-tidaknya, mesti diperlakukan begitu. Bukankah penyair punya kesadaran untuk membangun puisinya dengan memanfaatkan segala sesuatu yang berkaitan dengan tema atau pesan yang hendak disampaikan.

Setiap kata dalam larik puisi itu bukan macam komentar di facebook yang cenderung asal jeplak. Setiap kata dalam larik puisi laiknya sebuah permainan (diksi). Membentuk rima dalam larik atau rima antarlarik; merangkai frasa, klausa atau kalimat yang belum selesai; menyajikan metafora yang wajar atau dipaksa-paksakan, sehingga mirip penjejalan majas zaman baheula; atau satu kata tertentu dalam judul atau larik puisi yang mengisyaratkan ikon, lanskap, peristiwa, atau citraan yang mencantelkan teks dengan konteks sosial-budaya.

YAS niscaya punya kesadaran itu!

Terbuktilah kemudian pada saat kita mencermati bagian kedua. Meski pada bagian ini jumlah puisinya lebih banyak, penyebutan latar tempat dan latar waktu terdapat tidak lebih dari 10 buah puisi. Dengan demikian, pengelompokan puisi yang dipilah ke dalam dua bagian itu, tidaklah kebetulan, tidak sekadar, melainkan dengan kesungguhan.

Dari judul bukunya saja: Jampe Sayur Asem, tersirat di sana ada peristiwa atau isyarat atau apa pun yang berkaitan dengan latar budaya. Masyarakat Sunda dan Betawi, sudah sangat lazim mengenal jampe sebagai doa atau mantra untuk berbagai kepentingan. YAS tidak memakai kata jampi –yang Indonesia—atau mantra—yang Melayu. Jadi, tentu di sana ada nuansa makna yang berbeda antara jampi, mantra, dan jampe, meskipun hakikatnya sama.

Salah satu produk kuliner yang juga sudah sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Sunda dan Betawi adalah sayur asem. Meskipun kuah sayuran ini tidak didominasi rasa asam dan sebenarnya fungsi buah asam boleh diganti dengan buah lain dengan rasa yang sama, keberadaan buah itu, tetap sebagai ikon, sebagai penanda. Jika ia diganti dengan buah mangga atau cuka atau belimbing wuluh dan seterusnya, namanya tak lagi sayur asem. Jadi, keberadaan buah asam di sana, seolah-olah mewakili keseluruhan rasa sayuran: pars pro toto, sebagian atau satu objek dianggap mewakili keseluruhan.

Sayur asam yang dimaksud YAS tentulah bukan dalam konteks kultur Sunda, mengingat ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkaran kehidupan sosio-budaya Betawi. Lalu apa pula maknanya dengan dengan jampi sayur asem? Ini frasa ambigu: boleh kita tafsirkan sebagai jampi untuk membuat sayur asem, atau nama jampi, seperti juga jampi pengasihan, jampi sakit perut untuk menghentikan mencret, atau jampi kuliner? Terlepas dari perkara itu, rupanya jampi sayur asem sebagai judul buku ini diambil dari puisi dengan judul itu, “Jami Sayur Asem” (hlm 45). Dengan demikian, latar tersirat yang mengeram dalam puisi itu tidak lain adalah kultur Betawi. Mari kita periksa!

JAMPE SAYUR ASEM

:  via alviandra

Emak nyiangin sayuran

Katanya mao nyayur asem

Pepaya dikupas diiris wajik

Kacang panjang daon ninjo dirawis

nangka muda dipotong lonjong

Jagung satu dipotong tiga

Ada lengkuas serta asem jawa

Gula merah disiapkan juga

Emak menyiapkan cobek

Memasukkan cabai merah bawang merah

Bawang putih kemiri terasi dan garam secukupnya

Semua diulek dihaluskan

Panci berisi air sudah mendidih

Emak masukkan bumbu halus

Lalu buah ninjo pepaya nangka jagung kacang panjang

Barulah menyusul gula jawa dan asem

Air di panci bergolak mendidih

Emak tiada henti rapal mantra

Aring uwung awang-awang

Daon dadap daon bisoro

Angeng cieung kurang bawang

nyerodot dipati koro

Arereeeh…

Duh… emak! ni dia rupanya

Sayur asemmu tiada duanya

 

Jakarta, 10 Agustus 2017

 

Oh, rupanya puisi itu mewartakan proses membuat sayur asem yang lalu dibumbui jempe si Emak. Maka, jadilah sayur asem yang paling lezat di dunia! Lho, di mana pula latarnya? Latar dalam puisi ini lesap dalam pilihan kata (diksi) yang beberapa di antaranya memakai logat Betawi, lalu penyebutan persona: emak. Segalanya dilegitimasi oleh jampe. Dengan model penyampaian seperti itu, kita tak menemukan latar tempat dan latar waktu, tetapi kita merasakan adanya suasana peristiwa. Kesibukan si emak, aroma bumbu dan uap yang keluar dari air yang mendidih dalam panci. Dan, sebelum disuguhkan: mesti ada doa pengharapan agar masakan itu dirasakan enak dan berfaedah. Suasana peristiwa itulah yang sebenarnya hendak dihadirkan dalam puisi itu. Ia tidak sekadar menu masakan dan panduan memasak sayur asem, melainkan potret suasana ketika orang Betawi bikin sayur asem.

(Berlanjut)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar