Ujung Kanal Banjir Timur

Oleh Yahya Andi Saputra (Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi)

Mukaddimah

Pada era globalisasi, segala bentuk informasi dari luar bagai tidak terbendung.  Berbagai perkembangan dunia dapat diakses dengan mudahnya.  Demikian juga perkembangan sastra yang sedang ngetrend ikut mewarnai minat masyarakat Indonesia khususnya di kalangan generasi muda.

Masuknya berbagai jenis sastra dunia, di satu sisi dapat bernilai positif karena dapat menjadi motivator maupun inspirator bagi pesastra Indonesia untuk lebih kreatif berkarya. Namun dapat juga menjadi bumerang yang dapat menggusur dan melindas khasanah sastra dan budaya lokal yang seharusnya dipertahankan dan dilestarikan.

Sastra lokal yang seharusnya dikenal, disenangi, dan dikembangkan menjadi barang langka dan aneh di mata masyarakatnya.  Mereka lebih familiar dengan budaya modern tinimbang dengan milik leluhurnya. Tentu mereka tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena pada kenyataannya memang belum ada lembaga yang serius menangani pensosialisasian sastra budaya lokal, khususnya sastra Betawi.

Memang tidak dapat disangkal bahwa keberadaan budaya global dari satu sisi dapat dijadikan sebagai materi pengayaan sastra lokal tanpa harus mengesampingkan nilai atau pakem budaya lokal itu sendiri.  Upaya untuk menciptakan harmonisasi di antara budaya-budaya yang ada menjadi suatu hal yang patut dipikirkan bersama.

Untuk sampai pada taraf itu rasanya masih harus melalui berbagai tahapan. Generasi muda harus terlebih dahulu tahu dan faham apa yang dimaksud dengan sastra Betawi yang sebenarnya memiliki keunikan dan keindahan.  Setelah itu barulah akan timbul rasa memiliki dan menyukainya.

Air atau laut pada khususnya, menjadi salah satu pilihan tema bagi sastrawan Betawi untuk mengekspresikan etika dan estetikanya. Kita ketahui, misalnya sastrawan klasik Betawi (sebelum ada percetakan, yang tidak menyebutkan nama dalam karya-karyanya) banyak mengkisahkan kehidupan kelautan. Syair-syair lagu gambang kromong, baik lagu dalem maupun lagu sayur, banyak mengkisahkan kehidupan atau simbolisasi laut.

Rancag, salah satu seni pertunjukan Betawi, memiliki lakon yang menceritakan kelautan. Misalnya Rancag Kampoeng Kleboe, Rancag Si Angkri Djago Pasar Ikan, Rancag Orang Derep Keleboe, dan lain sebagainya. Syair-syair lagu gambang kromong pun tidak sedikit mengambil laut sebagai salah satu penceritaannya. Dapat dilihat misalnya pada lagu : Kramat Karem, Gambang Semarang, Tandjoeng Boeroeng, dan sebagainya.

Folklore atau cerita rakyat Betawi, tidak kurang menceritakan perihal kelautan. Kita temi misalnya pada cerita : Buaya Buntung, Hikayat Si Entong, Mirah Singa Betina dari Marunda, Ariah atau Si Manis Jembatan Ancol, Pancoran pangeran, dan sebagainya.

Muhammad Bakir, seorang sastrawan Betawi asal kampung Pecenongan, mulai menlis atau menyalin karya-karya sastra klasik pada sekitar tahun 1870-an.  Pada hampir sebagian besar karyanya mengambil lautan sebagai latar belakang penceritaannya. Dapat diketahui dari kisah antara lain : Hikayat Nakhoda Asyik, Merpati Mas dan Merpati Perak, Seribu Dongeng, Hikayat Sultan Taburat, dan sebagainya.

Ketika mesin percetakan sudah menjadi alat yang lumrah digunakan, banyak sastrawan yang mencetak dan menerbitkan karyanya, meski belum dicantumkan namanya. Karya yang berkaitan dengan laut, misalnya dapat dibaca dalam karya berjudul Sair Kapal Roesak.

Namun pada kenyataannya, jangankan generasi muda dan masyarakat pada umumnya, para praktisi atau seniman Betawi sendiri pun kadang kurang memahaminya. Mungkin hanya sebagian sangat kecil saja masyarakat yang dapat mengetahui keberadaan sastra Betawi. Sehubungan dengan fenomena di atas, saya merasa terpanggil untuk ikut berpartisipasi memperkenalkan, mengembangkan, dan melestarikan sastra Betawi, khususnya sastra Betawi yang berkaitan dengan kehidupan kelautan. Berikut beberapa teks perihal laut yang dimaksud.

 

Sair Kapal Roesak

Syair ini tidak diketahui siapa yang menulisnya atau NN (Tertjitak dan terdjoeal oleh: Boekhandel & Loten-Debitan Kwee Seng Tjoan, Batavia, tanpa tahun. Laut dijadikan sebagai latar belakang kisahan syair atau pantun. Laut dijadikan sebagai simbol muncul dan merebaknya cinta kasih antara laki-laki dan perempuan.

 

Plesiran di kapal roesak hari Minggoe

Dengen menjanji roepa-roepa lagoe

Di pinggir laoet si nona menoenggoe

Dapet kesenangan tida terganggoe

 

Kapal roesak tempatnja sepi

Banjak toemboe poehoen api-api

Ada jang pake pet dan pake topi

Serta dandanannja sanget rapi

 

Kapal roesak tempatnja sepi

Banjak toemboe poehoen api-api

Ada jang pake pet dan pake topi

Serta dandanannja sanget rapi

 

Kapal roesak tempatnja tedoe

Sambil menjanji dengan merdoe

Pipi dan idoeng sampe bertemoe

Dirasa manis seperti madoe

 

Kapal roesak tempatnja dingin

Banjak jang dateng mentjari angin

Boeat dapetken apa jang diingin

Laen tempat tida bisa saingin

 

Di pinggir laloet doedoek berbaris

Peti renggang saja rapetin

Djika meliat si badjoe parijs

Rasanja hati pengen dapetin

 

Bli kole di Moeara Doewa

Makan siri memake pinang

Kaloe bole doedoek berdoewa

Soepaja diri mendjadi senang

 

Doedoek di pasir meliat pemandangan

Iseng-iseng batja boekoe tjerita

Ada jang plesir sama toendangan

Di sana marika bertjinta-tjinta

 

Tjinta ada sanget berpengaroe

Sebagi iblis dateng menjeroe

Tida inget perboeatan kliroe

Kelakoean djelek djangan ditiroe

 

Djait kaen depan pelita

Lagi mendjait djaroemnja pata

Djangan memaen sama tjinta

Meloekain hati sebagi sendjata

 

Tjinta itoe dikata boeta

Hingga tida menoeroet prenta

Haroes diinget ini pepata

Djangan sampe melanggar prenta

 

Tjinta itoe sanget getas

Bole dioempamaken sebagi kertas

Sedeng anget moemboel ke atas

Sorga dan noraka ia melintas

 

Gebiar-gebioer ombak berboenji

Seperti gadis lagi bertjanda

Doedoek di pangkoean sambil menjanji

Djantoeng hati jang masi moeda

 

Kapal roesak liwat djembatan poeter

Liwatin djoega djembatan gantoeng

Si nona djalan saja jang anter

Kita berdoewa merasa broentoeng

 

Di depan boom ketjil banjak praoe

Praoe ikan memake kemoedi

Di sini toeroet di sana maoe

Segala perkara tentoe mendjadi

 

Sampe di sana liwatin bentengan

Di pintoe aer ketemoe djembatan

Mari nona kita bergandengan

Djangan perdoeli diboeat seboetan

 

Bli kawat dari gang kentjil

Berasa tjape orang masak

Soeda liwat djembatan ketjil

Baroe sampe di kapal roesak

 

Toekang ikan memasang sero

Sero berdiri di tiang bamboe

Tjinta saja dimana taro

Diri nona soeda bertemoe

 

Toekang ikan orang Japan

Ada orang dari Farmosa

Kasi saja sedikit harepan

Soepaja hati tida bersoesa

 

Ada djoega si toekang poekat

Dapet kemboeng teroes di lelang

Kaloe nona soeda moefakat

Bole saja mengadjak poelang

 

Nona doedoek di atas pasir

Saja reba di mana tjabang

Kita berdoewa sedeng plesir

Seperti ombak dengen gloembang

 

Praoe derep blajar ka tjabang

Hendak pergi memotong padi

Tida terasa mendjadi bimbang

Saban pagi merasa sedi

 

Banjak praoe di Pasar ikan

Praoe blajar ka tenga laoetan

Djangan menampik berkata soengkan

Bikin hati kalangkaboetan

 

Di kapal roesak banjak binatoe

Adanja di lobang batoe

Djangan nona kata begitoe

Diri nonalah blon tentoe

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar