Pantai Pulau Bidadari

Oleh Yahya Andi Saputra (Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi)

Sair Tamsil Ikan di Laut

Penulisnya M. Sihabuddin Alwi dari kampung Pekojan Betawi tengah (Betawi Stad, Pekodjan). Laut sebagai latar belakang kisahan syair atau pantun. Laut dan kehidupan di dalamnya menjadi sumber uraian nasehat. Berbagai ikan yang hidup di laut menjadi tokoh yang dapat berbicata memberi nasihat kepada manusia.

 

Sair tamsil ikan dinamakannya

Laut sungai kumpul semuanya

Bersual jawab tanya menanya

Insya Allah asik mudah difahamkannya

 

Bersual jawab ilmu kebajikan

Tauhid fikih perangai kebajikan

Banyak nasihat juga disebutkan

Pepatah yang bagus banyak diadakan

 

Saudara-saudara yang sudah berkenalan

Pada bintang tersilan dan terbit bulan

Serta gerhana satu kumpulan

Tamsil ikan jangan ketinggalan

 

Sair tamsil ikan di laut

Ikan bersual sambut menyambut

Masalah tauhid fikih mengikut

Beberapa nasehat juga terkandut

 

Bukan sungguhnya ikan berkata

Cuma misal buat pepata

Saya terangkan ini cerita

Jangan dikata saya berjusta

 

Sual dan jawab tanya menanya

Bermacam ikan ada di dalamnya

Insya Allah asik bagi pembacanya

Bertambah asik yang mendengarnya

 

Harap yang baca dengan lagunya

Dengan lagu enak suaranya

Serta berkumpul sanak kawannya

Yang dengar cuma pasang kupingnya

 

Harap yang baca sambil artikan

Kepada yang dengar dia suarakan

Tiap-tiap masalah diulang-ulangkan

Supaja terang dapat pahamkan

 

Terang yang dengar dapat pahamnya

Ilmu fikih apa yang disebutnya

Beserta mengenal sifat Tuhannya

Dengan mengenal sifat rosulnya

 

Harap yang baca jangan terburu

Makhraj hurufnya jangan tersaru

Takut baru disebut biru

Takut nanti paham keliru

 

Bermula disebut si ikan kakap

Di hadapan majlis terlalu cakap

Rupa laksana macan menangkap

Di hadapan ikan terlalu sikap

 

Sekalian ikan ramai berhimpun

Mengadap kakap duduk berampun

Ikan sepat datang memohun ampun

Madanya halus beruntun-runtun

 

Sepat bermada berperi-peri

Mrngadap mereka sambil berdiri

Ayu hai sekalian sudara bestari

Apa bicara kepada diri

 

Ikan gurame permisi cerita

Cubalah timbang pikiran beta

Hendak berdagang kelontongan cita

Jika untung banyaklah harta

 

Ariah

Ariah, Cerita Rakyat Betawi, hal. 120 (Dinas Kebudayaan dan Permseuman  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, 2004). Latar belakang laut menggambarkan kesederhanaan Aria. Ariah manusia pantai yang akrab dengan laut, meski hidupnya berakhir tragis.

Ariah berjalan menuju  Ancol dengan langkah yang enteng. Ia melihat-lihat pekerja yang sedang membuat jalan kereta api. Langkah dilanjutkan menuju utara. Setibanya di sebuah tempat yang bernama Bendungan Melayu, Aria membuka timbelnya. Ia makan dengan lahap. Aria duduk termangu sambil merapihkan bekas makannya. Dari kejauhan ia mulai mendengar debur ombak. Hari telah sore.

Ariah bangkit melanjutkan perjalanannya. Bendungan Melayu ditinggalkannya. Ia tiba di Ancol. Hari semakin gelap. Laut terhampar di hadapannya. Ia tak ingin kembali pulang, tapi juga tak tahu kemana lagi harus melangkah. Angan-angannya berlayar, tapi kemana?

“Hey, anak perawan dari mane lu?”

Tiba-tiba dari sela-sela pokok kayu muncul dua sosok laki-laki berbaju hitam-hitam. Ariah terdiam.

“Ikut gua, lu”

Seorang yang tubuhnya kekar menggamit tangan Ariah.

“Saya mau dibawa kemana, Bang?”

Ariah berusaha mengelak.

“Ah diem,lu. Pendeknya lu bakal idup enak di Bintang Mas”

Yang seorang lagi  berkata sambil mengibas-ngibas goloknya.

“Kagak mau, kagak mau”

Ariah meronta-ronta.

“Banyak omong lu, dasar orang miskin, mau dikasi senang lu kagak mau.”

Tubuh Ariah di hempaskan ke tanah.

“Abisin aja, Bang, ni bocah”

Dan dua sabetan golok mengakhiri hidup Ariah.

Kedua laki-laki itu yang ternyata Pi’un dan Sura  setelah membunuh Ariah menggotong jenasah Ariah ke pinggir laut. Jenasah gadis malang itu dilemparkannya.

Kematian Ariah memang akhirnya menjadi dongeng. Banyak orang Betawi pesisir yakin bahwa Ariah,  yang diberi nama julukan  si Manis,  itu menjadi penguasa laut Utara. Dan banyak orang Betawi pesisir yang tidak menyebut nama aslinya, melainkan si Manis saja. Diyakini si Manis mempunyai pengawal yang gagah berani. Pengawal itu adalah makhluk dari alam lain. Mereka adalah si Kondor, si Gempor, si Gagu, dan Tuan Item, yaitu siluman monyet.

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar