Lenong Denes dianggap sebagai perkembangan dari beberapa bentuk teater rakyat Betawi yang dewasa ini sudah punah seperti Wayang Sumedar, Wayang senggol, dan wayang dermuluk.

Lenong denes menyajikan cerita-cerita kerajaan dalam pementasannya, antara lain : Indra Bangsawan, Jula-Juli Bintang Tujuh, dan cerita Cerita 1001 Malam. Pementasan lenong denes menggunakan bahasa Melayu tinggi. Contoh kata-kata yang sering digunakan antara lain : tuanku, baginda, kakanda, adinda, beliau, daulat tuanku, syahdan, hamba. Dialog dalam lenong denes sebagian besar dinyanyikan. Adegan-adegan perkelahian dalam lenong denes tidak menampilkan silat, tetapi tinju, gulat, dan main anggar (pedang).

Lenong Denes biasa bermain di atas panggung 5 x 7 meter. Tempat ini dibagi dua : dibelakang untuk pemain berhias, ganti pakaian, atau menunggu giliran main. Bagian depan untuk pentas, sebagaimana lenong preman, dekor digunakan untuk menyatakan susunan adegan, meski kadang-kadangtidak pasa sama sekali alias tabrakan dengan jalan cerita yang sedang berlangsung. Perkelahian dalam pentas diusahakan dengan gerak silat yang sungguh-sungguh, ditambah dengan pedang, anggar dan gerakan akrobatik yang mengesankan. Adegan juga dipermeriah dengan bunyi tambur. Sebelum pertunjukan berlangsung diadajan acara “ngukup” dengan menyediakan sesajen lengkap dengan membakar kemenyan atau “Hioh”.

Untuk saat ini hanya tinggal satu sanggar yang masih mempertahankan keberadaan leneong Denes yaitu Sanggar Jali Putra dibawah pimpinan Burhanudin dari kampung Gandaria Jakarta Timur.  

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar