Bank Indonesia
foto by : Bayu

Gedung markas besar BI sekarang ini dulunya bekas sebuah gereja yang dibangun masyarakat Armenia di Batavia. Armenia di Asia Barat Daya yang dulu merupakan bagian Uni Soviet, kini sebuah republik berpenduduk 3,5 juta jiwa.

Sekalipun menempuh perjalanan jauh dan berbahaya, sejumlah warga Armenia sejak pertengahan abad 17 telah mendatangi Nusantara. Terutama ke Maluku yang kaya dengan rempah-rempah. Pada 31 Maret 1747, pemerintah Hindia Belanda telah menyamakan status sosialnya dengan warga Belanda dan Eropa. Pada akhir abad ke-18 jumlah komunitas Armenia terus bertambah. Ini membuat Jacob Arathoon atau nama Armenianya, Hakab Haroutyounia, pedagang terkemuka di Batavia, membangun sebuah gereja St Ripsime. Gereja ini kemudian terbakar pada 1842 atau 1844. Sebelum meninggal 19 Juni 1844, Arathoon masih sempat merestorasi gereja ini.

Pada 1854, komunitas Armenia di Batavia ingin membangun lagi sebuah gereja yang lebih besar. Penyandang dana terbesarnya dua bersaudara, Ny Mariam (Mary) Arathoon janda Jacob Arathoon, dan adiknya Nona Tagouhie Manoukian. Ny Mariam mendapatkan warisan cukup besar dari mendiang suaminya. Kala itu, warga Armenia di Batavia umumnya pedagang dan importir mesin. Gereja ini seluruhnya sudah dapat diselesaikan 1857, dinamakan Hovhannes Mkritch, lebih dikenal dengan nama Gereja St John. Dalam prasasti yang terbuat dari marmer disebutkan nama kedua bersaudara yang banyak membantu berdirinya rumah ibadah ini.

Gereja Armenia
foto by : Google

Jl Thamrin, tempat gedung BI dan gereja tersebut, ketika itu terletak di Koningsplein Zuid (Merdeka Selatan), Koningsplein West (Merdeka Barat), dan Gang Scott (kini Jl Budi Kemuliaan). Kala itu Jl Thamrin, nama yang diberikan masa Gubernur Ali Sadikin yang kini jadi jalan protokol utama di ibu kota, belum dikenal. Bahkan sebelum dibangun Gedung BI (1964), Jl Thamrin masih jalan kecil dan jarang dilewati kendaraan bermotor. Ketika Gedung BI dibangun, menggantikan Gedung BI di depan stasiun Jakarta Kota, Gereja Armenia yang antik dan anggun itu dirobohkan.

Warga Armenia ini juga mendirikan yayasan sosial bernama Haikian Miabanoethioen yang dananya banyak dikeluarkan dari kocek kedua bersaudara tadi. Yayasan ini telah banyak memberikan beasiswa untuk para pelajar, di samping menyantuni para yatim piatu Armenia. Setelah perang dunia ke-II (1945) banyak warga Armenia di Indonesia hijrah ke Amerika Serikat. Pada tahun 1967, jumlah mereka diperkirakan hanya sekitar 300 jiwa.

Sejumlah orang tua menyatakan, pria Armenia umumnya tampan, sedangkan wanitanya cantik-cantik. Di antara mereka, yang tinggal di Gang Scott (kini Jl Budi Kemuliaan) terdapat Farah Gladies. Suami pertamanya adalah Saleh Bisyir, pedagang Arab kaya raya. Setelah suaminya meninggal dalam usia muda, Farah dikabarkan menikah dengan salah seorang menteri ekuin di masa kabinet Soeharto.
Gedung BI yang dibangun pada masa pemerintahan Bung Karno (1963), kini hanya merupakan bagian muka dari gedung baru berlantai 30-an. Gedung BI ini melebar hingga ke Jl Kebon Sirih. Sedangkan bagian belakangnya hanya meninggalkan Rumah Bersalin Budi Kemuliaan. Seluruh gedung dan rumah di Jl Budi Kemuliaan kini merupakan bagian dari gedung BI. Termasuk sebuah masjid yang megah dan memiliki arsitektur indah.

Jl Budi Kemuliaan yang sebelumnya bernama Gang Scoot, merupakan salah satu jalan yang indah dan teduh di Batavia. Di kiri-kanan jalan yang banyak dihuni tokoh elite Eropa ini tumbuh pepohonan dan bunga.

Nama jalan ini mengacu pada seorang warga Inggris, Robert Scoot, pengusaha dari Semarang, sebelum tinggal di Batavia pada 1820. Tempat itu pada masa kolonial juga disebut Kampong Scott (Scott Village. Dulu di kampung ini terdapat Gang Timboel yang sebagian besar penghuninya warga Betawi.

Jalan Budi Kemuliaan, Kebon Sirih, Parapatan, dan sekitarnya dibangun bersamaan dengan Monas oleh gubernur jenderal yang berpangkat Marsekal Herman Daendels (1808 – 1811) pada zaman kekuasaan Napoleon Bonaparte. Sebagai anak revolusi Prancis, Daendels menamakannya Champ de Mars dan sekaligus menjadikan sebagai lapangan militer. Meskipun Daendels dikenal kejam terutama saat membangun jalan Anyer-Panarukan (Banyuwangi) mengakibatkan ribuan pekerja meninggal, tapi upayanya menjadikan Lapangan Merdeka (Monas) lapangan militer patut dipuji. Ketika itu, di lapangan yang terbesar di dunia dan luasnya satu km persegi itu, pengagum Napoleon ini telah menggusur peternakan kerbau dan industri batubara. Setelah kembalinya kekuasaan Belanda, lapangan ini disebut Koningsplein (Lapangan Raja), sementara rakyat lebih senang menyebut Lapangan Gambir.
Kalau saja Daendels membiarkannya jadi perkampungan, Jakarta tidak akan memiliki Monas. Yang lebih luas dari Tian An Men di Beijing, atau Lapangan Merah di Moskow. Bung Karno pun dengan bergairah, pada awal 1960-an membangun Monas setinggi 132 meter, yang bagian atasnya dilapisi emas murni seberat 25 kg.
(Alwi Shahab)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar