Mengeker Husein Mutahar

Oleh Yahya Andi Saputra

Mukaddimah

Pertama, saya berterima kasih dan menguluk apresiasi tinggi kepada panitia, karena melibatkan saya pada acara yang mulia ini. Kedua, saya memohon maaf lantaran saya tidak memahami tema bahasan, khususnya berkaitan dengan tokoh pelaku sejarah yaitu Husein Mutahar. Ketidakpahaman itulah yang membawa saya kepada kekuatiran akan salah tafsir atas kiprah Musein Mutahar. Sebab dalan metodologi sejarah peran tafsir atau interpretasi mempunyai peran besar. Untuk kelemahan itu, sebelumnya saya menohon maaf, meski isi makalah ini menjadi tanggung jawab saya.

Ketiga, saya ingin memberi penekanan pada judul makalah ini, “Meneladani Sang Teladan”. Kata meneladani itu verba yang kata dasarnya teladan. Teladan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arinya sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya). Contoh: ketekunannya menjadi teladan bagi teman-temannya; ia terpilih sebagai pelajar teladan. Meneladani artinya mengambil teladan. Contoh kalimatnya, ibu itu berharap agar putri-putrinya akan dapat meneladani R.A. Kartini. Sosok Kartini harus diteladani, dicontoh, diikuti.

Maka mengingat situasi sosial politik yang kita rasakan saat ini (lihatlah betapa mudahnya masyarakat tersulut dan terpovokasi melakukan aksi kekerasan tanpa meneliti apa yang sebenarnya terjadi, kasus bakar hidup-hidup, misalnya. Atau kita yang sudah dirasuki media sosial begitu mudah percaya kepada berita rekayasa atau hoax dan langsung menghujat obyek hoax secara berlebihan membabibuta. Dan ribuan kasus lainnya yang mengindikasi main hakim sendiri dan mengancam tatanan hidup bermasyarakat) perbincangan-perbincangan yang mengetengahkan keteladanan atau meneladani tokoh yang harus menjadi inspirasi.

Ribuan tokoh besar tidak menjadi besar lantaran sang tokoh berada di lingkaran peristiwa besar di antara tokoh besar. Kecelakaan sejarah seperti ini kerapkali terjadi. Kita semua menjadi rugi. Dan kerugian itu menindih generasi terkini karena sedikit sekali pengetahuan sejarah masih tertutup belum dikatahui. Kesalahan berawal dari ilmuan atau sejarawan yang tidak mengawal sang tokoh sesuai proporsi. Bagi ilmuan atau sejarawan, minat atau ketertarikan pada peristiwa atau tokoh sejarah bervariasi. Adakalanya pilihan lantaran data yang tersedia atau ketidakmampuan membeberkan arsip tersebab kendala teknis, misalnya tidak menguasai bahasa asing pun tidak mampu menerobos brankas dunia data. Akibatnya sial bagi tokoh sejarah, namanya dikuburkan berkali-kali.

Tokoh Kita

Tokoh kita –maksudnya tokoh yang kita bicarakan – relatif “kurang dikenal” ketimbang hasil pikiran atau benda olah pikirnya. Sebab hasil karyanya melanglang buana dan diketahui masyarakat nusantara, namun sosoknya tenggelam di keriuhan sosok dan peristiwa yang membelantara. Membaca dan mengamati kiprah tokoh kita ini, barulah kita mengakui jika beliau bukan tokoh biasa. Beliau tokoh istimewa bahkan sangat istimewa. Kesederhanaan dan kerendahhatiannya mengungkap siapa dia sebenarnya.

Tokoh kita ini bernama Husein Mutahar (nama lengkapnya Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al Muthahar) lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada  5 Agustus 1916, meninggal di Jakarta pada 9 Juni 2004. Menelisik dari namanya, tidak pelak, beliau beh disebut habib, merupakan keturunan Rasulullah SAW.

Seperti orang-orang muda yang hidup pada masa penjajahan dan masa revolusi, Mutahar teibat langsung pada peristiwa sezaman. Meski tidak semua pemuda mendapat peran penting, tapi Mutahar sengaja menceburkan diri pada kancah revolusi dan masa sesudahnya. Sejarah mencatat kiprahnya yang heroik. Satu yang sangat dramatis bagaimana Mutahar menyelamatkan bendera Merah Putih.

Ketika pemerintahan RI hijrah ke Yogyakarta pada tahun 1946, Mutahar diangkat menjadi Sekretaris Laksamana Muda Mohammad Nazir Isa yang saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia (Kepala Staf TNI Angkatan Laut). Di tahun yang sama, Mutahar diangkat menjadi Ajudan Presiden RI, Soekarno. Menjelang Ir. Soekarno ditangkap Belanda pada saat Agresi Militer II Belanda (19 Desember 1948), H. Mutahar mendapatkan tugas khusus untuk menyelamatkan ‘bendera pusaka’ (bendera Merah Putih yang dikibarkan pertama kali saat Indonesia merdeka) agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Saat Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan pejabat lainnya ditangkap Belanda, Mutahar pun ikut ditangkap, namun dapat melarikan diri sambil menyelamatkan bendera pusaka (pramukariablogspot).

Pada tahun 1967, sebagai direktur jenderal urusan pemuda dan Pramuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Mutahar diminta Presiden Soeharto untuk menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka. Tata cara pengibaran Bendera Pusaka disusunnya untuk dikibarkan oleh satu pasukan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Mutahar sudah aktif dalam kegiatan kepanduan (sebelum lahirnya Pramuka), saat berdirinya Gerakan Pramuka, maupun setelah kelahiran Pramuka. Beliau telah aktif menjadi anggota kepanduan saat masih bersekolah di MULO dan AMS. Dalam sejarah kepramukaan di Indonesia, beliau berperan aktif dalam Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia yang kemudian menyelenggarakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia pada tanggal 27 – 29 Desember 1945. Konggres ini sendiri kemudian berhasil membentuk Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepanduan saat itu. Mutahar menjabat sebagai anggota Kwartir Besar Pandu Rakyat Indonesia (1945 – 1961).

  1. Mutahar juga berperan aktif dalam usaha pendirian Gerakan Pramuka pada tahun 1961. Bersama tokoh-tokoh kepramukaan lainnya, beliau berjuang keras ketika saat usaha peleburan kepanduan menjadi pramuka berusaha dibelokkan oleh Partai Komunis Indonesia menjadi gerakan Pionir Muda yang berhaluan komunis. Setelah berdirinya Gerakan Pramuka (14 Agustus 1961), Husein Mutahar menjabat sebagai anggota Kwartir Nasional hingga beberapa kali periode. Menjabat sebagai Sekjen Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka periode 1973 – 1978. Selain itu, beliau juga aktif sebagai pembina pramuka hingga usia tuanya (pramukariablogspot).

 

Cinta Sampai Mati

Keberanian dan heroisitas Mutahar tanpa reserve alias digas pol. Keheroikan itu akan disampaikan lain waktu. Saya ingin mengajak menelusur syair dan lagu yang diciptakan Mutahar.

Tidak dapat dipungkiri jika talenta Mutahar dalam bersyair dan menciptakan lagu mendapat nilai sempurna. Dari syair-syair ciptaannya, dapat kura lihat Mutahar memang cinta sampai mati kepada ibu pertiwi. Mutahar tidak rela tanah airnya dicengkeram bangsa serakah, bangsa penjajah. Syair dan lagu yang bergenre cinta tanah air dan pernuangan meluncur mulus dari isi kepalanya. Konon Mutahar tidak pernah belajar seni musik secara khusus, tetapi talentanya di bidang musik mengalir subur.

Perhatikanlah syair lagu Syukur. Syair yang diciptakan tahun 1945 ini menjelaskan betapa keikhlasan dan cinta berada dishaf paling utama. Syukur atau bersyukur karena masyarakat diberikan karunia amat luar biasa oleh Tuhan yang maha kuasa. Rakyat yang rela berjyang merebut kemerdekaan meski dengan pengorbanan harta dan nyawa.

 

SYUKUR

4/4 Sostenuto

 

Dari yakinku teguh

Hati ikhlasku penuh

Akan karuniaMu

Tanah air pusaka

Indonesia merdeka

Syukur aku panjatkan

Ke hadiratMu Tuhan

 

Dari yakinku teguh

Cinta ikhlasku penuh

Akan jasa usaha

Pahlawanku yang baka

Indonesia merdeka

Syukur aku hunjukkan

Ke bawah duli tuan

 

Dari yakinku teguh

Bakti ikhlasku penuh

Akan asas rukunmu

Pandu bangsa yang nyata

Indonesia merdeka

Syukur aku hunjukkan

Ke hadapanmu tuan…

 

Kita dapat merasakan betapa Mutahar memilih diksi yang tepat. Ada rasa yakin yang utuh, cinta, rindu, saling menjaga, hormat menghormati, meluliakan, kerendahan hati, percaya diri, dan konstruksi masa depan yang kuat. Lagu Syukur sangat terkenal jauh melampaui penciptanya. Selain lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan WR. Supratman, lagu Syukur mungkin dapat mengimbangi dalam hal pupulariras dan frekwensi menyanyikannya.

Kita lihat syair dan lagu lainnya. Misalnya Dwiwarna. Sebuah kepercayaan diri yang tiada dipungkiri. Dwiwarna yaitu bendera kebangsaan Merah Putih terus berkibar dalam penjangaan rakyat.

 

 

DWIWARNA

4/4 maestoso

 

Dwiwarna, Dwiwarna, Dwiwarna

Bendera kira

Bendera persatuan bangsa Indonesia

Dwiwarna, Dwiwarna, Dwiwarna

Lambang bahagia

Sang merah putih berkibar

Sang merah putih melambai

Tanda bukti merdekanya

Negara Indonesia

 

Syair dan lagu Hari Merdeka pun memiliki kekuatan diksi yang indah. Pola rimanya sangat kuat. Apalagi kemudian lagu ini memiliki daya dorong untuk mengutamakan kejayaan negara, tidak bolah siapa pun merongrong kemerdekaan negara.

 

HARI MERDEKA

4/4 con brio

 

Tujuh belas Agustus tahun empat lima

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka nusa dan bangsa

Hari lahirnya bangsa Indonesia

Merdeka sekali merdeka tetap merdeka

Selama hayat masih di kandung badan

Kita tetap sedia, tetap sedia membela Indonesia

Kita tetap sedia, tetap sedia membela negara kita

 

Lagu Hymne Pancasila memberi sugesti kepada rakyat untuk bersetia dan menjaga. Meski secara diksi dan gaya bahasa, syair ini termasuk standard, tapi kekuatan utamanya ada pada pancasila, dasar negara kita.

 

 

HYMNE PANCASILA

4/4 grandioso

 

Pancasila dasar yang lima :

Ketuhanan yang masa esa

Prikemanusiaan adil beradab

Persatuan bangsa Indobesia

Kerakyatan berhikmat musyawarah

Keadilan sosial bagi rakyat

Pancasila dasar negara

Jiwa kehidupan bangsa

Pemersatu se Indonesia

 

Syair dan lagu Dirgahayu Indonesia konon merupakan lagu terakhir yang digubah Mutahar. Lagu ini menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.

 

 

DIRGAHAYU INDONESIA

4/4 Grandioso declando espressivo

 

Dirgahayu Indonesiaku

Negri dan bangsaku

Yang kusayangi

Aneka suka duka

Penempaan Tuhan

tlah kura jalani

Sadar tanah ditempa Tuhan

Agar kita jadi bijak bestari

Ikhlas bakti membina bangsa

Yang adil dan beradab

Dirgahayu Indonesiaku

Negri dan bangsaku

Yang kusayangi

 

 

Boleh dikatakan hanya ada dua darah yang mengalir ditubuh Mutahar. Pertama, darah NKRI; dan kedua, darah praja muda karana alias Pramuka. Seluruh anggota pramuka seharusnya mengetahui bahwa Mutar adalah pencipta lagu Hymne Pramuka atau Satya Darma Pramuka. Lagu Hymne Pramuka sendiri diciptakan pada tahun 1964. Lagu Satya Darma Pramuka ditetapkan sebagai Himne Pramuka dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Pasal 51.

 

HYMNE PRAMUKA

 

Kami Pramuka Indonesia

Manusia Pancasila

Satyaku kudarmakan

Darma ku kubaktikan

Agar jaya Indonesia

Indonesia tanah airku

Kami jadi pandumu

 

Penutup

Mari kita meneladani Sang Teladan, bukan hanya lantaran Mutahar berjuang pada zamannya, tapi lebih kepada kesepakatan kita untuk menjaga Negara Republik Indonesia sampai titik darah penghabisan. Kita wajib melawan siapa pun yang nyata-nyata ingin merongrong apalagi mengangkangi dalam bentuk apa pun. Kita wajib berdaulat.  Wajib memuliakan tanah air.

Husein Mutahar adalah tokoh utama dalam sejarah NKRI. Berjasa tiada tara. Marilah kita adil kepadanya. Selama hayatnya, penerintah hanya menganugerahkan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra, kepada Mutahar. Pejuang yang rendah hati dan sejati ini amat sangat layak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Masaklah cumi pake mentega

Masaklah laya kuning warnanya

NKRI wajib kita jaga

Seberat apa pun risikonya    (RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar