Foto : Rudy H

Oleh : Yahya Andi Saputra

(Kabid Penelitian dan Pengembangan Lembaga kebudayaan Betawi)

Dalam bahasa Betawi, gotong royong padanan katanya  nyambat. Nyambat arti harfiahnya memanggil atau mengundang untuk berkumpul dalam upaya mencari jalan keluar atas persoalan yang terjadi di tengah-tenagh masyarakat. Secara metafor artinya berkumpul dan bekerja bersama-sama secara sukarela. Berkaitan dengan nyambat, dalam kehidupan sehari-hari  masyarakat Betawi, terdapat bermacam bentuk ungkapan dan peribahasa yang mengkemas makna penting kegiatan kemasyarakatan.  Misalnya, “kalo mao samè-samè, semut bisa mindain gunung”. Jika dikerjakan bersama-sama, semut mampu memimndahkan gunung. Peribahasa ini masih efektif sampai saat ini. Maknanya, seberat apapun sebuah pekerjaan, jika dikerjakan bersama-sama, secara bergotong royong, pasti dapat diselesaikan dengan baik. Peribahasa ini sering diucapkan untuk menasehati atau memperingati seseorang yang tak memiliki rasa persatuan, sehingga pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan ternyata terbengkalai. Mereka dinasehati agar mau bekerja sama dan bersatu dalam melakukan pekerjaan.

Foto : Rudy H

Seperti diketahui semut adalah binatang yang sangat kecil dan gunung merupakan onggokan tanah besar menjulang tinggi. Rasanya tidaklah mungkin bagi seekor semut kecil  memindahkan gunung. Kalau ada persatuan, semua pekerjaan berat menjadi ringan. Secara sendiri-sendiri tak mungkin seseorang mampu mengerjakan pekerjaan besar, kalau bersama-sama tentu mudah. Peribahasa ini jelas berkait erat dengan gotong-royong atau persatuan. Ini merupakan pengejawantahan sila ketiga pancasila, persatuan Indonesia.

Banyak jenis nyambat, baik terkait dengan kepentingan umum maupun kepentingan pribadi. Termasuk nyambat untuk kepentingan individu, misalnya : nyambat membangun rumah (buka tanah/retain tanah atau bikin baturan, naekin genteng, pindah rumah); nyambat perkawinan (malem mangkat, ngerudat, persiapan pulang tige ari); nyambat tahlilan (kematian, haul, dll); nyambat tani (nandur, matun, panen).

Termasuk nyambat untuk kepentingan publik, misalnya : nyambat bersih lingkungan; nyambat bersih kober (tanah wakaf); nyambat tunggu kober; nyambat jaga lingkungan/ronda/siskamling; nyambat bersih tempat ibadah; nyambat bangun rumah ibadah; nyambat bikin jalan atau jembatan baru, dan lain-lain.

Paketan

Secara tradisional, masyarakat Betawi sudah memiliki paketan atau forum warga, meski sifatnya temporer saja. Artinya jika ada kebutuhan untuk nyambat, maka paketan atau forum warga itu barulah aktif. Sejatinya, paketan memang domain atau ruang lingkup perhatian tetua kampung atau tokoh masyarakat. Sebab semua usaha paketan untuk nyambat bermuara pada tetua kampung.

Tahap paketan untuk nyambat, pertama keluar dari tetua kampung atau bisa juga muncul dari usulan warga atau lantaran ada kondisi yang mendesak untuk antisipasi. Cara tetua kampung menghubungi warga utuk paketan ada dua model. Pertama, membuat surat undangan yang disamaikan kepala tetua kampung yang lingkunya lebih kecil. Nanti tetua kampung akan mengajak beberapa warga menghadiri forum warga itu. Kedua, mengumungkannya melalui pengeras suara (beduk, tongtong, atau speaker di masjid/musholla).

Foto : Rudy H

Pada paketan itulah dibeberkan kondisi kampung dan semua persoalan yang ada. Peserta paketan diajak berdiskusi mencari solusi. Jika hanya nyambat bersih tanah wakaf kober, maka hanya membahas penentuan waktu pelaksanaan dan pembagian tugas. Setelah hari dan waktu pelaksanaan ditentukan, dilanjutkan dengan pembagian tugas dan meminta kesedian peserta menyumbang pengetean atau konsumsi. Yaitu pengetean kecil dan pengetean besar, artinya konsumsi sarapan pagi dan makan siang. Diminta secara sukarela tiap tetua kampung menentukan apa saja sumbangan pengeteannya. Ada yang kopi, teh, rokok, kue, buah-buahan, sayur, lauk-pauk, nasi, dan sebagainya. Semua sumbangan dicatat.

Keadaan lebih kompleks manakala nyambat untuk membangun fasilitas umum, seperti rumah ibadah, membuat jalan baru atau jembatan baru. Pada paketan ini bukan hanya biaya yang besar, tapi juga mempertimbangkan durasi pengerjaannya. Terutama jika itu menyangkut pembuatn jalan baru, maka akan lebih rumit lagi. Warga yang tanahnya digunakan untuk jalan dengan serta-merta keberatan dan meminta konpensasi atas terpakainya tanah miliknya itu.

Itu sebabnya, seorang tetua kampung bebanr-benar orang terpercaya, arif, adil, sabar, dan memiliki kharisma tersendiri. Memang, biasanya tetua kampung selain sebagai tokoh adat, juga tokoh agama (ulama, kyai, guru, muallim) yang mampu memberikan pengertian untuk membuka wawasan peserta paketan atau warga yang tanahnya digunakan itu. Dia dapat menjelaskan manfaat jalan yang akan dibangun serta dampaknya bagi kehidupan seluruh warga yang memanfaatkan akses jalan itu.

Dalam kasus-kasus kecil, terjadi pengucilan terhadap warga yang tak ikut sambatan. Misalnya, jika ia megundang tahlilan, warga enggan datang. Itu semacam hukuman masyarakat terhadap warganya yang tak ikut kegiatan kemasyarakatan. Namun apa pun penjelasannya, nyambat menumbuhkan kekompakan dan persatuan dalam masyarakat Betawi. Sebagaimana dikatakan peribahasa Betawi, kalo mao samѐ-samѐ, semut bisa mindain gunung.

Azas musyawarah, begitulah masyarakat Betawi membangun kearifannya. Azas ini sudah mendarah daging sehingga berdampak pada kuatnya solidaritas dan keramahtamahan. Solidaritas dan keramahan itu pada gilirannya menjadi perekat utama antar entik yang hidup dan mendiami Jakarta. Orang Betawi pasti akan lebih dulu menegur tiap bertemu orang lain. Bagi orang Betawi, seperti diungkap peribahasa “Bahasa nggak beli” mengutamakan silaturrahmi, bukan “Kaya kedebong ayut” (RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar