Ilustrasi : Rosa Ratnawati

  • Perkembangan :

Permainan tembak-tembakan yang dimainkan oleh anak berumur 6-13 tahun secara berkelompok atau sendiri dengan menembak binatang-binatang kecil. Nama pletokan diambil dari ungkapan bunyi yang keluar dari mainan ini “pletok” yang hampir mirip dengan bunyi mainan senjata atau bedil.  Permainan ini berkembang di wilayah Condet, Batuampar.

  • Arena Bermain :

Umumnya di tanah lapang

  • Peralatan :

Bambu dengan diameter 1 atau 1,5 cm dan panjang 30-40 cm sebagai laras bedil (bentuk pipa) dan sebagai tolak adalah batangan belahan bambu yang dihaluskan. Untuk peluru memakai bunga jambu air, kertas, daun–daunan dan sejenisnya.

  • Cara Bermain :

Cara menembak adalah pertama peluru dimasukkan dengan batang penolak sampai ke ujung laras. Peluru kedua dimasukkan dan ditolak dengan batang penolak. Peluru kedua ini mempunyai fungsi ganda. Fungsi pertama sebagai klep pompa untuk menekan peluru pertama yang akan ditembakkan. Fungsi kedua menjadi peluru yang disiapkan untuk ditembakkan berikutnya. Tembakan ini akan menimbulkan bunyi pletok dan peluru terlontar kurang lebih 5 m dan relatif lurus. Permainan ini dapat sebagai sarana perang– perangan.(RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar