Rebana Hadro berukuran 25 cm – 35 cm. Lebih besar dari rebana ketimpring. Pada kayu kelongkongan dipasang tiga pasang lingkaran logam berfungsi sebagai kecrek. Rebana ini berfungsi sebagai hiburan. Rebana ini terdiri atas tiga instrumen yang posisi maupun fungsinya agak mirip, yakni : Bawa (berfungsi sebagai komando), Ganjil/Seling (pengiring), dan Gedug (pengiring). Bawa yang berfungsi sebagai komando irama pukulannya lebih rapat, Ganjil/Seling yang isi mengisi dengan Bawa dan Gedug yang fungsinya mirip dengan bass.
Cara memainkan rebana hadroh bukan dipukul  biasa tapi dipukul seperti memainkan gendang sehingga terdengar agak melodius. Jenis pukulan rebana hadroh ada empat, yaitu tepak, kentang, gedug, dan pentil. Keempat jenis pukulan  itu dilengkapi dengan nama-nama irama pukulan. Nama irama pukulan antara lain irama pukulan jalan, sander, sabu, pegatan, sirih panjang, sirih pendek, dan bima. Yang khas dari tradisi Rebana Hadro adalah Adu Zikir yaitu lomba menghafal syair-syair Diwan Hadro maupun kitab maulid lainnya. Dalam adu dzikir tampil dua grup silih bergantimembawakan syair Diiwan Hadroh. Grup yang kalah  umumnya grup yang kurang hafal membawakan syair tersebut.

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar