Terbentuknya Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) tak lepas dari ikhtiar kaum Betawi dalam menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tahun 1928, Ketua Pemoeda Kaoem Betawi Mohammad Rochjani Soe’oed ikut serta dalam Kongres Pemuda Indonesia II yang melahirkan Sumpah Pemuda. Sedangkan Muhammad Husni Thamrin (1894-1941) sebagai Anggota Gemeenteraad, Wakil Walikota Batavia, dan Anggota Voksraad memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan perbaikan kesejahteraan masyarakat Jakarta dan Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Ada pula Letkol Moefreni Moe’min (1921-1996), Komandan Badan Keamanan Rakyat Jakarta Raya yang pada 19 September 1945 sanggup memobilisasi 250 ribu massa ke Lapangan Ikatan Atletik Djakarta (IKADA). Di era kemerdekaan, perjuangan itu berlanjut kepada pelestarian dan pengembangan budaya Betawi, sebagai intinya masyarakat Jakarta.

Ide pembentukan LKB sebagai pengemban amanat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi mengemuka saat PRALOKAKARYA PENGGALIAN dan PENGEMBANGAN SENI BUDAYA BETAWI, yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta pada 16-18 FEBRUARI 1976. Nama LKB diusulkan oleh jurnalis Betawi asal Gang Sentiong, Muhammad Hud.

Lewat Akta Pembentukan LKB Tanggal 22 JUNI 1976, tercatat sebagai pendiri awal LKB H. Abdullah Ali, dr. H. Atje Muljadi, H. Effendi Yusuf, SH, Drs. Alwi Mas’oed, H.M Napis Tadjeri, H. Sa’ali, SH, Drs. H. Rusdi Saleh, dan H. Hamid Alwi. Dalam perkembangannya kemudian, masuk pula sebagai anggota Badan Pendiri: H. Salman Muchtar, H. Irwan Sjafi’ie, Hj. Emma A. Bisrie, Prof. Dr. Yasmine Z. Shahab, dan Husein Sani. Legalitas LKB kemudian diperkuat dengan Akta Notaris M.S Tadjoedin Nomor 145/20 Januari 1977 dan Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor 197/1977 Tentang Pengukuhan Berdirinya Lembaga Kebudayaan Betawi.

Dikutip dari Akte Pembentukannya, tujuan dibentuknya LKB adalah “Membantu Pemda DKI Jakarta dengan mengadakan penelitian, penggalian, pengembangan, dan pemeliharaan terhadap nilai-nilai budaya Betawi, meliputi bahasa, kepercayaan, adat istiadat, upacara adat, obat tradisional, arsitektur, cerita rakyat, musik rakyat, seni bela diri, teater rakyat, tarian rakyat, permainan rakyat, dan lain-lain.

Hingga tahun 2014, LKB tercatat membina 158 sanggar yang tersebar di 5 wilayah kota DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu. (*)

 

 

 

Close Menu