Dalam perbendaharaan Tari Rakyat Betawi dikenal dua macam “Tari Belenggo” yakni versi Gamelan Ajeng Betawi yang disebut juga “Tari Topeng Gong” dan versi Rebana Biang. Tari Belenggo versi Rebana Biang merupakan tari yang bernafas Keagamaan, dibawakan khusus oleh kaum pria, dan sekarang masih cukup banyak mempunyai seniman aktif terutama di wilayah Bogor dan Jakarta Selatan. Sejak Gamelan Ajeng Betawi yang semula menjadi tontonan musik yang berdiri sendiri tetapi sekarang hanya menjadi musik pengiring Wayang Kulit Betawi, tarian rakyat Betawi ini pada hakekatnya telah musnah. Tari Belenggo verwi Gamelan Ajeng Betawi atau Tari Topeng Gong pada masa jayanya dahulu, adalah tari yang sepenuhnya bersifat hiburan, ditarikan oleh penari wanita atau berpasangan pria dan wanita, yang para veterannya sekarang masih banyak terdapat di Jakarta Timur, Bogor dan Bekasi. Namun tarian versi terakhir ini kita bicarakan saja dalam kesempatan lain, dan pembicaraan kita kali ini kita khususkan dulu kepad Tari Belenggo versi Rebana Biang.
Telah pernah kita bicarakantentang musik Rebana Biang yang instrumennya minimal terdiri dari tiga buah rebana yang berbentuk sama tetapi ukuran garis tengahnya berbeda yakni Gendung (30 cm), Kotek (60 cm) dan Biang (90 cm). Sebagai sebuah musik yang tidak perlu dibawakan sekhidmad kelima musik Rebana Betawi yang lain (Rebana Ketimpring, Rebana Hadro, Rebana Dor, Reban Burdah dan Rebana Maukhid), maka musik Rebana Biang banyak memberikan peluang bagi masuknya unsur humor dalam pertunjukkannya. Apabila lirik lagu Rebana Betawi yang lain terikat kepada salah satu dari syair kitab “Mawalid” seperti Syaraful Anam, Dibaa’ii, Dewan Hadroh, Al-Bushairy atau Abdullah Al Hadad, syair Rebana Biang dapat diambil dari mana saja. Bahkan syair yang bebas diambil dari  pelbagai sumber dalam satu lagu itu, cara pengucapannya (makhraj dan tajwidnya) kurang begitu fasih karena diucapkan dengan lidah Indonesia. Pada grup Rebana Biang yang berdomisili lebih dekat ke “kota” (Jakarta Selatan) perbendaharaan lagu dzikir berbahasa Arabnya cenderung lebih banyak. Sedangkan pada grup Rebana Biang yang lebih ke pinggiran (Bogor) lagu dzikir berbahasa Arab lebih sedikit, dan sebagai Gambangannya grup-grup ini lebih memperbanyak membawakan “Lagu Sunda Gunung” atau “Lagu Topeng” yang khas wilayah pinggiran daerah budaya Betawi, dibawakan secara instrumental dengan iringan terompet, Tehyan atau Rebab.
Nampaknya sikap lapang dada dalam memberikan restu dan dukungan bagi kreatifitas seniman Rebana Biang oleh para sesepuh dan ulama kampung setempat, lebih mudah didapat di daerah Bogor dari pada Jakarta Selatan. Sikap lebih lunak  ini bukan hanya dalam mengizinkan masuknya alat musik lain, lagu-lagu instrumental dan vokal yang tidak berbahasa Arab, tetapi juga pada masuknya unsur tari dan lawak, bahkan keterlibatan pemain wanita atau penari “Ronggeng Belantek” yang sungguhpun di Jakarta Selatan tidak pernah ada larangan resmi namun keterlibatan kaum Hawa ini belum pernah ada atau kurang lazim.
Dalam arti sempit yang dimaksudkan dengan Tari Belenggo adalah tari yang diiringi dengan Rebana Biang yang merupakan stilasi dari gerak Penca Silat. Dalam arti luas Tari Belenggo adalah tari yang diiringi dengan musik Rebana Biang pada umumnya, yang terdiri dari empat macam yakni : Tari Belenggo yang “murni”, Tari Belenggo yang lebih cenderung sebagai Tari Penca Silat, Tari Ronggeng Belantek dan Tari Belenggo yang merupakan bagian dari Silat Gedebus.
Tari Belenggo yang “murni”yang merupakan stilasi dari gerak Penca Silat dibawakan dengan sikap badan agak membungkuk, langkah kaki yang pendek hampir tidak diangkat, berputar dlam lingkaran sempit dengan ara ke kiri, dengan sikap tangan yang banyak mengingatkan kita kepada Tari Piring (apabila satu tangan ke atas ke arah luar, tangan yang lain ke bawah ke arah dalam). Tarian yang dibawakan secara tunggal oleh seorang penari pria ini, sepintas lalu sederhana dan mudah, namun diperlukan pengendapan yang mendalam terhadap gerak Penca Silat yang sekaligus juga penghayatan yang baik terhadap irama musik Rebana Biang. Dapat dimaklumi apabila para penari Belenggo “murni” pada umumnya terdiri dari para penari berusia lanjut. Jumlah penari semacam ini tidak terlalu banyak dan hanya satu dua orang tiap grup, antara lain: Piih dari Bojonggedeh, Jain dari Pondok Rajeg, almarhum Boncel dan Ramin dari Citayem dan Iping dari Ciseeng, yang seluruhnya dari wilayah Bogor.
Dari grup Rebana Biang Ciganjur Jakarta Selatan kebetulan cukup banyak, yakni H.Abdul Gani, H.Saabah, Oye dan Marzuki. Lagu-lagu yang mengiringi tari Belenggo “Murni” ini pada umumnya adalah lagu-lagu dzikir berbahaa Arab yang berirama lambat yang disebut “Lagu Rebana” atau “Lagu Melayu” (maksudnya “Lagu Betawi”). Termasuk kedalam jenis lagu ini antara lain : Robuna Salun (ada pada semua grup), Alfasah, Allahu ah, Allah Aisa (di Ciganjur), Yulaela, Dul Sayiduna (di Bojonggedeh), Hadroh dzikir (di Ciseeng), dsb. Ada pula lagu-lagu yang liriknya dalam bahasa Betawi yang kaya dengan syair dan gerak humor misalnya lagu Sanggrai Kacang dan Anak Ayam Turun Selosin, yang pola geraknya cenderung kepada Tari Belenggo “murni”.
Pada para pemain yang lebih muda yang pad umumnya lebih menghayati Tari Penca Silat tetapi tetapi belum cukup arif untuk menerapkan sejauh mana ketetapan dan harmonisasinya dengan irama lagu Rebana Biang, ada pola gerak yang lebih berat kepada gerak Tari Penca Silat. Untuk mengiringi tarian ini pada umumnya mempergunakan lagu Sunda Gunung Instrumental, misalnya lagu Pereredan, Buah Kaung, Jejogedan, Gaple dsb. Penari Belenggo tipe ini cukup banyak, antara lain : Danih, Sanah dan Marha (Bojonggede) Didih dan Warta (Citayem), Aman dan Sanah (Pondok Rajeg) Liang dan Encang (Ciseeng) dan H. Zaini (Ciganjur).
Keterlibatan pemain wanita pada grup Rebana Biang, hanya terdapat di beberapa kampung tertentu yang masyarakt pendukungnya benar-benar bersikap lunak, yang mungkin jug ada hubungannya dengan kadar kepatuhan menjalankan syariat agama yang pada umumnya kurang seteguh grup yang lain. Pada umumnya penari wanita atau Ronggeng Belantek ini berasal dari kampung tetangganya yang profesinya sehari-hari memang merupakan penari dari jenis kesenian yang lain.
Rebana Biang yang lazim membawakan tari Ronggeng Belantek antar lain dari grup Bojonggede, Pondok Rajeg dan Ciseeng. Kostumnya mempergunakan kain dan kebaya biasa, tetapi di dahinya digantungkan semacam cadar dari manik-manik kecil serba gemerlapan. Pada dasarnya di kalangan masyarakat yang teguh beragama ada semacam sikap malu-malu kucing untuk menari di tengah arena, terutama apabila disaksikan para sesepuh atau ulama kampung setempat. Seseorang yang telah berpredikat Haji misalnya, merasa dirinya kurang pantas menari Belenggo, tetapi cukup diangap masih wajar apabila Ia hanya menjadi Nayaga musik Rebana Biang. Sedangkan Tari Belenggo yang hanya dibawakan oleh penari pria saja penampilannya dalam pertunjukkan baru dilakukan menjelang tengah malam, apabila Tari Ronggeng Belantek yang dibawakan oleh penari wanita atau berpasangan pria wanita, seakan-akan baru diizinkan tampil sesudah lewat tengah malam sampai dini hari saja.
Bertambah malam gerakan-gerakan bersifat erotis yang pada hakekatnya hanya mengarah dan bertujuan humor dalam Tari Ronggeng Belantek bertambah mengasyikan diiringi oleh lagu-lagu yang akrab dan komunikatif seperti : Nayuban, Wanita dateng, Kang Aji, Sorban, Palid, Karantagan, Sulamjana, dsb. Bagi generasi muda Tari Ronggeng Belantek dalam sebuah grup Rebana Biang memang amat mendapat simpati tetapi bagi generasi tua materi acara ini dianggap sebagai bagian pertunjukkan Rebana Biang yang kurang sehat sebagai sebuah kesenian yang bernafas keagamaan.
Pada masa lampau tiap grup Rebana Biang mempunyai pemain “Sulap Gedebus” yakni sulap ketangkasan tangan (yang tidak menonjolkan hal-hal yang bersifat megic) khas Betawi. Sayang sekali pemain-pemain sulap itu sebagian besar telah tiada atau  terlalu berusia lanjut padahal generasi penggantinya belum disiapkan. Satu-satunya grup Rebana Biang yang masih mempunyai pemain Sulap Gedebus hanya grup dari Ciseeng Bogor yakni Pak Iping yang berusia 65 tahun. Pada pertunjukan Sulap Gedebus yang diiringi dengan lagu-lagu Gembrung, Mantun, dsb, ada juga unsur-unsur gerak yang lebih mengarah kepada tari yang mempunyai dua fungsi sebagai pengulur waktu atau jug kamuflase.
Sebagai sebuah tarian pengulur waktu geraknya sangat sederhana, malahan kadang-kadang hanya sekedar berjalan mengitari pusat arena. Tetapi sebagai sebuah kamuflasa tariannya kadang-kadang menjadi amat :over acting” dengah harapah agar perhatian penonton dipusatkah kepada tariannya sehingga kelemahan-kelemahan kecil yang diperbuat pemain Sulap Gedebus tidak sempat diperhatikan orang.
Menyaksikan sebuah pergelaran musik Rebana Biang maupun Tari Brlenggo, tak dapat tiada akan erbesit rasa keprihatinan bahwa sebagian terbesar dari para pemainnya telah berusia lanjut. Usaha-usaha peremajaan telah mulai ditangani oleh pelbagai grup, namun masih dengan kelambanan yang cukup mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup kesenian ini.
Apagila pada tari rakyat Betawi yang lain semacan Tari Cokek yang sebagian besar pendukungnya keturunan Cina sehingga mampu menangani segi pemasarannya dengan baik, pada Tari Rakyat Betawi selegihnya keadaannya cukup mencemaskan.
Disamping usaha penggalian dan pengkajian, usaha penampilan dan publikasi yang lebih banyak juga sudah termasuk mendesak. Semua ini adalah tugas aparat kebudayaan dalam lingkungan Pemda DKI Jakarta dan Jawa Barat, yang perlu bekerja sama dalam membina kesenian yang wilayahnya tidak begitu luas, tetapi kebetulan terletak di dua propinsi

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar