Sebagian besar dari tari rakyat Betawi merupakan tari pergaulan yang bersifat improvisatoris. Belum pernah ada bukti adanya tari yang bersifat sacral, walaupun satu dua diantaranya ada yang berfungsi ritual misalnya dalam upacara “kaulan” yang tidak dibawakan terlalu khidmad. Sebagian besar merupakan hiburan semata yang menitik beratkan kepada humor. Seandainya ada bagian yang mengarah kepada erotis, sasarannya masih tetap pada humor itu sendiri, karena gerakan yang keliwat erotis bertentangan atau kurang mendapat simpati dari masyarakat Betawi yang secara umum cenderung religius.
Kehadiran sebuah tari di tengah-tengah penonton seakan-akan hanya menjadi ‘produk sampingan’ dari sebuah musik rakyat Betawi tertentu. Tidak berbeda dengan daerah lain, rupanya bangsa kita mempunyai kecenderungan kurang puasa terhadap tontonan yang titik beratnya dinikmati dengan telinga, karena mata menuntut keindahan lain berupa gerak misalnya tari. Di wilayah budaya Betawi prakarsa untuk menari sebagian bear dimulai dari pihak penonton. Karena sebagian besar merupakan tari pergaulan, maka pola geraknya tidak terlalu rumit dan relatif mudah dipelajari bagi mereka yang telah terviasa menghayati irama musik yang mengiringinya.
Selama sekian abad masyarakat Betawi telah berdiri secara seimbang, sebagai sebuah kota pantai yang secara dinamis menerima pengaruh luar dari laut, tetapi tetap menghormati pengaruh luar daratan sekitarnya yang agraris, dengan pola gerak dan konvensi tari yang sungguhpun tidak terlalu ketat tetapi tidak perlu cepat luntur keasliannya. Melalui adaptasi selama beberapa generasi, pengaruh itu bukan saja memperkaya pola gerak tari yang sudah ada sebeumnya, tetapi dapat juga menciptakan tari rakyat varu yang berlainan dari sumber aslinya.
Karena pada masa lampau kegiatan tari rakyat sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat negatif, di kalangan masyarakat yang teguh menjalankan syariat Islam, penampilan penari wanita memang kurang mendapat simpati. Di luar kalangan itu penari wanita dibenarkan tampil kepentas. Pada kedua belah pihak cukup banyak mempunyai kekayaan perbendaharaan tari rakyat Betawi dengan kekhasan masing-masing. Dapat ditambahkan bahwa dikalangan pertama seluruh penarinya pria dan pad umumnya berstatus sebagai seniman amatir, sedang di kalangan ke dua membenarkan penampilan kaum wanita dan pad umumnya merupakan seniman professional.
Sama halnya dengan kebudayaan Betawi, warna dasar tari rakyat Betawi adalah Melayu. Tarian rkyat Betawi yang cirri kemelayuannya paling kuat adalah tari Samrah dan tari Zafin. Yang mendapat pengaruh Cina adalah tari Cokek. Sebagai sebuah daerah yang secara geografis dikelilingi oleh wilayah budya Sunda, tari rakyat Betawi yang mendapat pengaruh atau banyak kaitannya denga tari rakyat wilayah Jawa Barat antara lain : tari Belenggo, tari Topeng Tanji, tari Topeng Goong Ajeng, tari Penca Silat Betawi, pertunjukkan rakyat Ondel-ondel dan tarian yang terselip dalam permainan Ujungan.

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar