Musik Gambang Kromong, Tari Cokek dan Teater Lenong merupakan perpaduan antara kebudayaan betawi dengan unsur cina. Pemilik perabotan, seniman pendukung maupun masyarakat penggemar ketiga kesenian tersebut pada masa lampau sebagian besar adalah keturunan cina. Dengan demikian bahwa ketiga bentuk kesenian yang terdapat di seluruh wilayah jabotabek ini perbandingan jumlah grupnya seimbang dengan besar tidaknya jumlah penduduk keturunan cina di wilayah jabotabek tersebut. Wilayah semacam jakarta barat, jakarta utara dan tanggerang dikenal sebagai wilayah paling kaya dengan ketiga kesenian tersebut. Wilayah jakarta pusat, jakarta timur dan bekasi termasuk sedang-sedang saja, sedangkan wilayah jakarta selatan dan Bogor tercatat sebagai wilayah yang paling sedikit.
Sebagaimana di maklumi, tari kocek diiringi dengan alat musik gambang kromong yang terdiri dari : Tehyan, Kongahyan ,Shukong, Gambanmg, Kromong, Gendang , Kecrek, Kempul, Ningnong dan Goong. Fungsi Tari Cokek adalah untuk menyambut tamu atau memeriahkan upacara. Beberapa orang penari wanita memberikan selendang kepada para tamu pria sebagai tanda bahwa Ia diajak sebagai pasangan menari. Tiap pasang penari saling berhadapan dalam arak yang cukup dekat tetapi tidak saling bersentuhan, dengan gerak di tempat, maju atau mundur. Dalam beberapa lagu sering terjadi bahwa pasangan penari itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup luas atau pasangan yang menari tidak terlalu banyak, kadang-kadang ada gerak jalan melingkar dalam lingkaran yang cukup luas. Sesudah selesai menari pada umumnya tamu pria itu memberikan imbalan sekedarnya kepada penari wanita.
Kecepatan langkah kaki dalam Tari Cokek jatuh pada tiap bunyi Kecrek dan Kromong dengan langkah-langkah yang cukup panjang. Gerakan tangan dengan rentangan setinggi bahu. Ada sedikit penonjolan gerak pinggul pada para penari wanita namun tidak terlalu mengarah kepada erotis karena sasaran utamanya adalah humor atau kemeriahan upacara saja.
Menurut Nio Hok San (51 tahun), pimpinan Lenong “Setia Kawan” dari Jakarta Utara, kostum penari wanita pada penari Cokek dimasa lampau adalah celana panjang, kebaya encim dengan rambut dikepang dua. Dewasa ini penari Cokek wanita memakai kain batik sampai sedikit di bawah lutut, dengan kebaya encim atau kebaya biasa, sedangkan rambut tanpa disanggul malahan pada umumnya dikeriting pendek.
Apabila pada masa lampu Tari Cokek ini lebih banyak digemari di kalangan masyarakat keturunan Cina sehingga disebut “Hiburan Babah”, dewasa ini Tari Cokek digemari oleh masyarakat Jakarta pada umumnya. Sedemikian banyaknya kesempatan penampilan Tari Cokek dari pada bentuk tari rakyat Betawi yang lain, sehingga cukup banyak orang yang mengira bahwa Cokek merupakan satu-satunya bentuk Tari Rakyat Betawi.

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar