Yahya Andi Saputra
(Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Lembaga Kebudayaan Betawi)

Pendahuluan 1
Sudah kudrat iradat Khalikul Alam, Jakarta – dahulu disebut Bandar kemudian Bandar
Kalapa, Sunda Kalapa, Jayakarta, dan Batavia – terletak di kawasan pesisir. Sebelum menjadi
seperti sekarang, penyebutannya lazim adalah kota bandar. Secara harfiah bandar bermakna
tempat berlabuh kapal/perahu atau pelabuhan. Tapi dalam konteks kegiatan seminar ini, bandar
bermakna kota pelabuhan atau kota perdagangan. Karena kebandarannya itulah, maka Bandar
bersifat sangat terbuka dan menyambut dengan hangat semua unsur yang singgah dan
bertandang. Tiap hari bertambah ramai, sibuk, dan menggeliat dengan aneka warna kehidupan.
Tanpa platform ini itu, secara alamiah menjadilah bandar ini sebagai salah satu tempat berlabuh
dan berniaga bagi segala manusia.
Penduduk inti kota bandar – kini Jakarta dan sekitarnya (Bodetabek) – adalah orang
Betawi. Orang Betawi – sebelumnya disebut manusia proto Melayu Betawi – adalah manusia
yang mendiami kawasan utara Jawa bagian Barat. Disebut proto karena manusia ini belum
diketahui namanya. Proto ini sudah berdiam di sini paling tidak abad ke-5 sebelum masehi.
Begitulah informasi yang didapat setelah dilakukan penelusuran atau ekskavasi situs-situs
bersejarah yang dilakukan arkeolog atau ahli kepurbakalaan pada tahun 1970-an (periksa buku
berjudul Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi karya Sagimun M.D, 1988; dan Historical
Site of Jakarta karya Adolf Heuken Sj., 1995).
Ada pula informasi dari naskah klasik berjudul Syair Bujangga Manik. Syair ini menurut
ahli naskah klasik, Prof. J. Noordhuyn, ditulis pada akhir paruh abad ke-15. Di situ disebutkan
beberapa nama tempat sekitar Jakarta Kota, labuan (pelabuhan Kalapa), Pabeyaan (sekitar
Meseum Bahari), Mandi Rancan (Jl. Kakap dan sekitarnya), Ancol Temyang (kemungkinan
Rowa Malaka). Sementara Ancol di mana berdomisili Dunia Fantasi adalah Ancol Kiji.
Berdasarkan syair itu tempat-tempat itu telah berpenduduk. Bahkan patut diduga Mandi
Rancang adalah kawasan pemukiman. Seperti halnya Babelan yang merupakan kawasan pesisir,
maka konsentrasi penduduk asli dapat diduga pada awalnya di kawasan pesisir. Pengelana Cina,
Fa Hsien (414 M), mencatat adanya pemukiman di sekitar Ancol dan banyaknya penduduk yang
hidup dari mencari ikan.
Lalu didapat juga informasi dari Peta Ciela (disimpan di Museum Sejarah Jakarta). Peta
ini dibuat Pangeran Panembong sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 (ditemukan pada
1858). Peta ini menyebut kawasan yang dibatasi sebelah wetan (timur) Kali Cisadane dan
sebelah kulon (barat) Kali Citarum, adalah Nusa Kalapa.
Betawi – Batavia
Banyak yang berpendapat bahwa kata Betawi berasal dari transliterasi Arab Batavia.
Tetapi dalam naskah-naskah Betawi yang ditulis pada abad ke 18 dan 19 cara menuliskan
Batavia sebagai kota adalah Batafiya, dan cara menuliskan Betawi sebagai nama suku bangsa
adalah Batawi. Diduga sebelum kota pendudukan itu oleh Belanda diganti namanya menjadi
Batavia, sudah dikenal Betawi sebagai nama suku bangsa.

1 Makalah Seminar Pertemuan Budaya Timur dan Barat, Museum Kesejarahan Jakarta, 26-27 Sepetember 2018.

2
Batavia adalah nama yang diberikan Belanda kepada kawasan bekas lokasi Keraton
Jayakarta yang ditaklukkannya pada tahun 1620-an, sebelumnya pada tahun 1619 tempat itu
diberi nama Jacatra. Batavia adalah binnenstad, sebuah kota tertutup untuk penduduk. Tidak
dapat dipastikan bahwa pada ketika itu juga terjadi sosialisasi nama kota itu sehingga menjamah
audience di luar binnenstad. Tidak dapat dipastikan kapan Batavia sebagai nama kota diketahui
secara luas oleh penduduk binnenstad dan pemakai jasa pelabuhan Kalapa. Orang Cina
menyebut kota itu sebagai Ch’lopa (Kalapa).
Maka harus benar-benar jelas dipahami, Batavia adalah nama kota yang semula disebut
Bandar Kalapa, Sunda Kalapa, Nusa Kalapa, Jayakarta, Batavia, Jakurata, dan akhirnya menjadi
Jakarta. Nama terakhir digunakan sampai saat ini. Sementara Betawi adalah nama suku atau
etnik yang mendiami kawasan ini.
Pada proses selanjutnya, Orang Betawi bergerak atau bergeser mencari tempat hunian.
Semula mereka mendiami kawasan pesisir, lalu pergerakan penduduk dari pesisir ke tengah
sampai kawasan pinggir. Kecuali mata pencahariannya, maka kebudayaan penduduk pesisir dan
tengah sulit dibedakan. Orang Betawi yang mendiami kawasan pinggiran kota dan udik hidup
dari pertanian. Ini hasil adaptasi dengan etnik Sunda. Orientasi kebudayannya cukup dekat
dengan pusat kekuasaan Pajajaran di Bogor. Ini dapat kita bedakan dengan orientasi kebudayaan
pesisir dan tengah yang cenderung serba arah mengingat fungsi labuan Kalapa sebagai pelabuhan
internasional yang menjadi pusat kehidupan ekonomi.
Pengaruh kebudayaan Melayu cukup kuat pada masyarakat penduuk pesisir dan tengah,
dan pengaruh kebudayaan Sunda cukup kental pada kebudayaan pinggiran dan udik. Namun
keempat subwilayah budaya itu diikat dalam bahasa yang sama: bahasa Melayu.
Persebaran bahasa Melayu ke selatan (pinggiran dan udik) karena kali Ciliwung.
Pinggiran dan udik adalah kawasan penyangga keperluan dasar pesisir dan tengah. Sehari-hari
kali Ciliwung memediasi hubungan budaya dan bahasa keempat subwilayah kebudayaan
tersebut.
Lemahnya pengaruh bahasa Sunda pada penduduk pinggiran dan udik karena secara
ekonomi mereka lebih banyak berurusan dengan orang-orang di ilir (utara). Adanya vassal-vassal
kerajaan Sunda Pajajaran di Nusa Kalapa seperti Tanjung Jaya dan Cinagara (sebagaimana
disebut naskah-naskah Sunda) lebih berfungsi sebagai pemungut bea (pajak), daripada sebuah
agen kebudayaan.
Timur Timur Timur Barat : Betawi
Keberadaan suku ini oleh sejumlah pakar (sejarawan, budayawan, arkeolog, antropolog,)
masih ditelisik berdasarkan lapis historisnya. Pertama, Lapis Awal didasarkan pada abad ke-5
sebelum masehi sampai berakhirnya kekuasaan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Masa ini Suku
Betawi belum diketahui namanya dan kemudian dikenal sebutan Manusia Proto Melayu Betawi.
Kedua, Lapis Tengah dimulai ketika Fatahillah mendirikan Jayakarta sampai Batavia. Lapis ini
Suku Betawi menjadi suku baru hasil perkawinan antar etnis dan bangsa yang sudah lebih dulu
hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Melayu, Jawa, Arab, Tionghoa, India, Jepang, Belanda,
Portugis, Inggris, dan sebagainya. Pada lapis ini kecenderungan etnisitas kebetawian yang
kultural, tidak lagi berdasarkan genetika. Ketiga, Lapis Mutakhir mulai bergelinjang sesudah
kemerdekaan hingga kini. Lapis ini memperteguh lapis kedua yang memperlihatkan pola atau
pranata modern mengikuti dinamika global.
Pada lapis-lapis itulah terjadi pergumulan saling serap, saling terima, saling tolak, saling
bermetamorfosa, saling menjauh, saling mendominasi, dan seterusnya. Puncaknya adalah

3
menyatunya berbagai unsur antar timur dengan timur, antar timur dengan barat dalam satu
bangunan kultur bernama Betawi.
Sekali lagi ditegaskan di sini, meskipun saya menguraikan lapis demi lapis, tiada perlu
dimaknai realitasnya pun berlapis-lapis. Etnik inti Jakarta, yaitu Betawi, tetap mandiri dan
tunggal dalam kulturnya. Mari kita tengok kemandirian dan kemanunggalannya dalam ekspresi
kesenian yang sejak awal berproses sampai saat ini tetap teguh mempertahankan identitasnya.
DIAGRAM (beberapa contoh)
UNSUR PROSES NAMA
Timur (internal –
Sunda)

Pertunjukan semula tidak menggunakan panggung
tapi di tanah. Bila perkumpulan mengadakan
pementasan, properti yang digunakan hanya colen
atau lampu minyak bercabang tiga dan gerobak
kostum diletakkan di tengah arena. Dengan kondisi
itu pemain dan penonton tidak dibatasi dengan tirai
atau dekor apapun. Pergantian adegan dilakukan
dengan mengitari colen.
Pertunjukan diiringi oleh musik tabuhan. Tabuhan
terdiri dari rebab, kromong tiga, gendang besar,
kulanter, kempul, kecrek, dan gong buyung. Lagu
yang dimainkan khas daerah pinggir Jakarta. Nama
lagunya antara lain : Kang Aji, Sulamjana,
Lambangsari, Enjot-enjotan, Ngelontang, Glenderan,
Gojing, Sekoci, Oncom Lele, Buah Kaung, Rembati,
Lipet Gandes, Ucing-Ucingan, Gegot, Gapleh,
Karantangan, Bombang, dan lain-lain.

Topeng Betawi

Timur (internal –
eksternal :
Melayu, Eropa)

Perkumpulan atau orkes ini adalah ansambel musik
Betawi. Instrumen musiknya antara lain :
harmonium, biola, gitas, string bas, tamborin,
marakas, banyo, dan bas betot. Dalam menyajikan
lagu, unsur alat musik harmonium sangat dominan.
Maka orkes sambrah disebut pula sebagai orkes
harmonium. Orkes ini dimanfaatkan sebagai sarana
hiburan dalam berbagai acara. Terutama untuk
memeriahkan resepsi pesta pernikahan.
Selain musik, kesenian ini pun mengembangkan
teater tradisional mengadopsi model teater
bangsawan dan komedi stambul. Ia sudah muncul di
Betawi sekitar tahun 1918. Ia termasuk kesenian
yang komplit: musik, pantun, tari, lawak, dan lakon.
Seluruh pemain umumnya laki-laki. Karena dalam
pengertian mereka tidak boleh jika ada perempuan
yang bergabung dengan laki-laki hukumnya haram.

Sambrah dan
Tonil Sambrah

Timur (internal –
Jawa dan Sunda)

Menurut beberapa sumber, kesenian ini berhubungan
dengan penyerangan tentara Sultan Agung dari

Wayang Kulit
Betawi

4

Mataram ke Batavia sekitar tahun 1628 dan 1629.
Peristiwa ini terjadi pada saat Batavia dipimpin oleh
Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen.
Sebermula mengambil pakem Jawa Tengah tetapi
kemudian ada perbedaan. Yang berkembang di
Betawi lebih merakyat, sederhana, polos, dan
mementingkan keakraban dengan penontonnya.
Musik yang mengiringinya disebut gamelan ajeng.
Alat musik gamelan ajeng terdiri atas : terompet
(sering juga digunakan rebab), dua buah saron,
gedemung, kromong, kecrek, gendang, kempul, dan
goong. Namun dahulu sampai tahun 1920-an,
wayang kulit Betawi diiringi gamelan bambu.

Timur (internal –
eksternal : Timur
Tengah, Arab;
Cirebon/Banten)

Seni musik perkusi ini terdiri dari tiga buah rebana.
Yang kecil bergaris tengah 30 cm diberi nama
gendung. Yang berukuran sedang bergais tengah 60
cm dinamai kotek. Yang paling besar bergaris tengah
60 – 80 cm dinamai biang. Karena bentuknya yang
besar, rebana biang sukar dipegang. Untuk
memainkannya para pemain duduk sambil menahan
rebana.
Dalam membawakan sebuah lagu, ketiga reban itu
mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Biang berfungsi
gong. Gendung dipukul secara rutin untuk mengisi
irama pukulan sela dari biang. Kotek lebih kepada
improvisasi dan pemain kotek biasanya paling mahir.
Semula rebana ini lahir terkait kegiatan tarekat.
Lagu-lagunya antara lain Allahu-Ah, Robbuna Salun,
Allah Aisa, Allahu Sailillah, Alfasah, Dul Sayiduna,
Dul Laila, dan lain-lain.

Rebana Biang

Timur (eksternal :
Tionghoa)

Nama musik gambang kromong diambil dari nama
alat musik yaitu gambang dan kromong. Selain
gambang dan kromong, alat musik lainnya :
kongahyan, tehyah, sukong, gendang, kempul, gong,
gong enam, kecrek, dan ningnong.
Umumnya gambang kromong menjadi pengirin
pertunjukan lenong dan tari cokek. Sebenarnya
gambang kromong dapat tampil secara mandiri.
Artinya tampil membawakan lagu-lagu
instrumentalia dan vokal.

Gambang
Kromong

Timur (eksternal:
Timur Tengah,
Arab)

Seni musik ini dahulu dikenal dengan sebutan irama
Padang Pasir. Pada tahun 1940-an sudah menjadi
tontonan populer dan disenangi. Bagi orang Betawi,
tanpa nanggap kesenian ini pada pesta perkawinan
atau khitanan dan sebagainya terasa kurang
sempurna.

Orkes Gambus

5

Sudah ada di Betawi awal abad ke 19. Saat itu
banyak imigram dari Hadramaut (Yaman Selatan)
dan Gujarat datang ke Betawi.

Barat Musik ini sangat dipengaruhi musik Belanda. Alat
musiknya terdiri atas klarinet, peston, Trombon,
Tenor, Bass, Gendang dan Drum (Beduk). Lagu-lagu
yang dibawakan antara lain : Batalion, Kramton,
Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, Cakranegara.
Judul lagu itu berbau Belanda meski dengan ucapan
Betawi. Lagu-lagu bertambah dengan membawakan
lagu-lagu Betawi seperti : Jali-Jali, Surilang, Sirih
Kuning, Kicir-Kicir, Cente Manis, stambul, dan
persi.

Tanjidor

Barat Seni musik ini tidak jauh beda dengan keroncong
pada umumnya. Ia berirama lebih cepat karena
disebabkan oleh suara ukulele yang dimainkan.
Mulanya keroncong ini dimainkan oleh 3 atau 4
orang. Alat musiknya hanya 3 buah gitar, yaitu : gitar
Frounga yang berukuran besar dengan 4 dawai, gitar
Monica berukuran sedang dengan 3-4 dawai, dan
gitar Jitera yang berukuran kecil dengan 5 dawai.
Selanjutnya alat musik ditambah dengan suling,
biola, rebana, mandolin, cello, kempul, dan triangle
(besi segi tiga). Dulu sering membawakan lagu
berirama melankolis, diperluas dengan irama pantu,
irama stambul, irama Melayu, langgam keroncong,
dan langgam Jawa.

Keroncong Tugu

Timur TUAKI yaitu baju atas yang oleh orang belanda
disebut blouse terbuat dari bahan berwarna polos
yang gemerlapan, mungkin sekarang sejenis dengan
bahan lame warna apa saja. Setinggi 2 cm dibuat
sebatas sedikit dibawah pinggul. Warna gemerlapan
baju ini lambang harapan yang cerah bagi masa
depan kedua pengantin beserta sanak keluarga dan
keturunannya.
Model busana ini berpotongan gaya cina dengan
leher tertutup
KUN yaitu baju bahagian bawah yang biasanya
disebut rock dan dibuat melebar potongan “clock-
rock” dihiasi potongan-potongan emas, batu permata
dan mutiara yang biasanya dibuat sepasang dengan
gambar hiasan pada Jubah Pengantin Tuan Raja
Muda. Bahan dasar pembuat KUN tidak terikat
warna namun dibuat serasi dengan TUAKI terikat
warna namun dibuat serasi dengan TUAKI sebagai
baju atasnya, yang biasanya warna khasnya adalah

Dandanan Rias
Besar Tuan Putri

6

warna-warna yang cerah. Ditambahkan di sini
bahwa, nama-nama kedua potongan besar baju Tuan
Putri ini berdasarkan hasil penelitian door to door
yang telah kami lakukan dikalangan ibu-ibu Tua
Perias Pengantin Betawi diperkirakan berasal dari
Bahasa Cina Kuno yang dibawa oleh pendiri dan
kerabat pendiri Masjid Jami Kebun Jeruk dan Masjid
Jami Angke. Terus terang secara linguistik
penjelasan ini belum diuji kebenarannya, walaupun
barangkali diperlukan, namun penelitian ini sekedar
dan terbatas dalam hal busana-busana Masyarakat
Betawi saja tanpa mempersoalkan nama dan asal
bahasanya.
SIANGKO terdiri dari 3 buah Mahkota Betawi
dengan ukuran masing-masing yang berbeda satu
sama lain, yaitu pertama, Siangko bercadar terbuat
dari emas atau perak dengan panjang 25 cm
berbentuk setengah lingkaran tinggi tengahnya 12
cm, tinggi kiri/kanannya 5 cm diberi cadar terbuat
dari manik-manik atau monte pasir panjangnya 30
cm yang ujung bawahnya diberi seikat benang wool
2 cm sebagai penutupnya. Dipakai ditempelkan
didahi dan diikatkan kebelakang kepala di bawah
sanggul Buatun. Kedua, Siangko Tengah dalam ejaan
Betawi Siangko Tenge, berukuran panjang 12cm,
tinggi tengahnya 5 cm menyudut tumpul
kekiri/kanannya: dipakai diubun-ubun, antara Tusuk
Bunga dan Sanggul buatan. Ketiga, Siangko Buntut
berukuran panjang 10 cm dengan tinggi tengahnya
3,5 cm menyudut tumpul pada ujung kiri/kanannya;
dipakai sebagai penutup ( kamuflase) simpul ikatan
Siangko Cadar.

Timur – Barat
(Arab – Eropa)

Ini tentang pakaian luar yang besar dan longgar,
terbuka pada halaman tengah depan dari leher sampai
kebawah hampir sama/kurang sedikit dari pakaian
dalamnya. Dahulu kala diberi hiasan potongan-
potongan emas, bebatuan permata dan mutiara
berbentuk Burung Hong atau Liong, atau Kubah-
kubah masjid, bahkan kembang –bunga di taman sari.
Semua itu penyatuan dari pelbagai lambang
keindahan, kebaikan, kesucian, kebesaran serta
segenap cinta dan cita-cita dalam kehidupan dunia
dan akhirat. Secara sepihak Kaum Betawi boleh saja
mengatakan bahwa busana ini diambil dan berasal
dari Jubah kebesaran khalifah atau pimpinan kabilah-
kabilah islam di Jazirah Arab. Tetapi , kenyataan

Dandanan
Kebesaran Tuan
Raje Muda
(Pengantin Pria)

7

yang ada membuktikan bahwa dinegeri Cina, Tibet,
India maupun di Eropah, jubah ini digunakan oleh
kalangan masyarakat dari golongan terendah sampai
tertinggi. Perbedaannya hanya terletak pada
assesorisnya, apakah itu busana acara resmi atau
pakaian sehari-hari.

Timur (internal :
sunda, Jawa)

Upacara, diawali dengan selamatan khusus yang
disebut “Malam Mangkatan”, sebagai awal
pelaksanaan pada hari Kamis malam Jumat, tempat
di makam Kober Keramat Ganceng.
Pada siang harinya, selesai Sholat Jumat di tempat
makam Kober Keramat Ganceng dilangsungkan,
upacara dilaksanakan. Sifatnya umum dan didukung
/didatangi oleh seluruh penduduk Pondok Ranggon
dan Kampung-kampung sekitarnya.
Pada sore harinya dilanjutkan dengan berbagai
hiburan antara lain, Komidi puter, Permainan
rebutan/ Coko, Hiburan kesenian Tanjidor.

Upacara Baritan

Penutup
Timur timur timut barat bermetamorfosa menjadi utuh dan manunggal pada kebudayaan
Betawi. Bagi saya hal ini sudah final. Tidak dapat diurai menjadi satu-satu nama unsur timur dan
mana unsur barat. Sudah menjadi identitas tunggal, Betawi.
Kini Orang Betawi bertempat tinggal menyebar di tiga propinsi yaitu Provinsi DKI
Jakarta, Provinsi Banten, dan Provinsi Jawa Barat. Orang Betawi berdasarkan statistik Badan
Pusat Statistik (BPS) tahun 2002 merupakan penduduk kedua terbesar (27%) setelah Jawa
(32%). Masa mendatang bisa jadi kawasan-kawasan yang semula menjadi titik utama Orang
Betawi, menjadi kosong dari Orang Betawi. Pergeseran kian kuat disorong pula oleh fungsi
kawasan yang berubah. Maksudnya, kawasan tradisional berubah menjadi kawasan modern,
sehingga unsur budaya tradisional mengambil langkah mengalah. Pilihan nonkonfrontatif ini
jauh lebih baik ketimbang melawan pun akhirnya mati semua.
Daging empal pake mentega
Cumi-cumi ikan gurita
Kearifan lokal wajib dijaga
Demi keluhuran negara kita

KEPUSTAKAAN
Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta. 2001. Beberapa Segi Sejarah Masyarakat – Budaya
Jakarta. Jakarta: Dinas Museum dan pemugaran DKI Jakarta.
Fabricius, Johan. 1986. Burung-Burung Wallet Kalapanunggal (De Zwaluwen van
Klapanoenggal). Jakarta: Pustaka Aze.
Ikranegara, Kay. 1988. Tata Bahasa Melayu Betawi. Jakarta : Balai Pustaka.
Muhadjir, dkk. 1986. Peta Seni Budaya Betawi. Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

8
Probonegoro, Ninuk Kleden. 1997. Teater Lenong Betawi : Studi Perbandingan Diakronik.
Jakarta : Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.
Saidi, Ridwan. 2010. Potret Budaya Manusia Betawi. Jakarta : Perkumpulan Renaissance
Indonesia.
——————. 2010. Sejarah Jakarta dan Peradaban Melayu Betawi. Jakarta: Perkumpulan
Saputra, Yahya Andi, Nurzaen. 2009. Profil Seni Budaya Betawi. Jakarta : Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.
Saputra, Yahya Andi. 2008. Upacara Daur Hidup Adat Betawi. Jakarta: Wedatama Widya
Sastra.
Wijaya, Husein (Editor). 1976. Seni Budaya Betawi : Praloka Karya, Penggalian dan
Pengembangannya. Jakarta : Balai Pustaka. (RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar