ilustrasi : Irah Mahmudah

  • Perkembangan :

Permainan ini masih bertahan hingga tahun 1975. Asal mula permainan menurut orang-orang tua berawal dari keisengan anak-anak menirukan suara bakiak, sandal dari kayu yang terdengar lucu karena banyak orang yang memakainya. Permainan ini didukung oleh anak-anak yang berumur 7-13 tahun. Dalam perkembangannya permainan trek-trek jing telah mengalami perubahan nama menjadi “keripik jengkol”.

  • Arena Bermain :

Dalam atau luar rumah

  • Cara Bermain :

Permainan diawali dengan berpegangan membentuk lingkaran yang cukup lebar. Setelah itu mereka akan mengayun-ayunkan tangannya ke depan dan ke belakang sambil bernyanyi :

kedecang kedecong,

adu pending,

coblong berulang

Setelah lagu selesai, para pemain memutar tubuhnya saling membelakangi, tetapi masih berpegangan tangan. Dengan posisi demikian, dua anak akan menyediakan lengannya sebagai tempat menggantungkan kaki. Sedang pemain-pemain lain memasukkan salah satu kakinya sampai batas lutut diantara celah-celah, sehingga akan tampak seperti tali temali. Kaki lainnya akan berdiri menahan tubuh. Kalau sudah terbentuk maka seluruh pemain akan melepaskan tangannya dari gandengan dan mulai melompat- lompat kecil sambil betepuk tangan, serta bernyanyi :

 treg-treg jing, treg-treg jing, treg-treg jing.

Mereka terus menyanyikan lagu tersebut sampai salah satu kaki anggota kelompoknya terlepas dari rangkaian yang dibentuk tadi. Jika satu kaki sudah terlepas maka formasi yang terbentuk akan terlepas semua. (RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar