Ilustrasi : Rosa Ratnawati

  • Arena Bermain :

Dalam atau luar ruangan

  • Cara Bermain :

Permainan diawali dengan melakukan undian yang menggunakan cara bungselan. Siapa yang mendapat daun dengan ujung ter-bungsel maka harus jaga terlebih dahulu. Pemain yang jaga menelungkupkan badan, seperti orang yang sedang bersujud dan kepalanya tidak boleh menengok kekiri dan kekanan. Pemain yang lain meletakkan telapak tangannya di atas punggung anak yang bersujud. Salah satu di antara mereka memegang batu yang diputarkan di atas seluruh telapak tangan pemain yang lain sambil bernyanyi:

Sibrak-sibarak uang.

Uangnya ambu titi ambu tata.

Jenggal jenggul.

Te … te … gote.

Cap gule cap manisan.

Dahar eee te’ dar manisan.

Tembutu-tembutu …

Tembutu-tembutu …

Tembutu-tembutu …

Celata celutu

Sale sale pegang batu

Di depan pintu.

 

Dalam bait yang pertama ada syair lagu yang lain :

 

Tumbuk-tumbuk uang.

Uangnya ami arum …

Rum selilitum

Sembayang tepekong …

Bukan satu dari bawah …

 

Bersamaan dengan habisnya bait pertama dari lagu tersebut, batu akan jatuh dalam satu telapak tangan seorang anak. Kemudian mereka menggengam tangan seolah-olah sedang memegang batu, Anak yang jaga akan bangkit dari duduk dan menebak siapa yang menggenggam batu.(RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar