Ilustrasi : Irah Mahmudah

  • Perkembangan :

Permainan ini banyak dikenal di daerah Ciracas

  • Arena Bermain :

Sebidang tanah yang luas

  • Cara Bermain :

Permainan diawali dengan menentukan siapa yang menjadi kucing anjing, dan pagar tangan. Seorang wasit merentangkan telapak tangan kanannya sedang peserta lain menaruh telunjuk di atasnya dengan iringan pantun:

Wer … wer … tak.

Ting lipiot tulang bawang.

Siapa kejepit masuk lubang.

 

Pemain harus berusaha menarik telunjuk agar tidak kejepit. Bila kejepit berarti ia harus menjadi kucing atau anjing. Bila yang tertangkap 2-3 telunjuk jari maka undian dimulai lagi sampai yang tertangkap hanya satu telunjuk saja. Si kucing berada didalam pagar lingkaran sedang anjing berada di luar. Pemain yang menjadi pagar lingkaran harus merentangkan kedua belah tangan dan memegang pertengahan lengan kawan disampingnya sehingga tidak mudah lepas. Kalau wasit sudah mengatakan ‚’’yak..!’’ maka mulailah anjing berusaha menerobos pagar untuk menerkam kucing. Si anjing akan terus berusaha menerobos lingkaran dengan melepaskan pegangan tangan dari pagar tersebut. Pemain yang menjadi pagar akan jongkok-bangun-jongkok-bangun, mengikuti gerakan anjing. Sementara si kucing harus waspada dan siap-siap untuk menghindar. Kalau sampai beberapa waktu anjing tidak juga berhasil maka keduanya akan diganti dengan anak lain.(RD)

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar