Bagi masyarakat Betawi (tempoe doeloe) kata wayang memiliki beberapa arti. Bila disertai kata cokek, menjadi wayang cokek, berarti penari cokek. Istilah wawayangan biasa dipergunakan bila penari-penari cokek ditampilkan bersama-sama membentuk rangkaian berjajar di arena ngibing. Diiringi orkes gambang kromong.

Kata wayang dapat pula diarikan sebagai teater atau sandiwara, seperti wayang si Ronda, wayang Dermuluk, wayang Sumedar dan wayang Senggol, yakni beberapa bentuk teater rakyat Betawi yang kini telah punah. Teater orang -orang Cina dan peranakannya di Jakarta dan sekitarnya pada jaman yang sudah cukup lama, biasa disebut wayang pula, seperti wayang Reking dan wayang Sinpe. Tetapi teater rakyat Betawi yang dewasa ini masih dapat disaksikan tidak lazim disebut wayang. Lenong, misalnya, tidak biasa disebut wayang lenong. Cukup lenong saja, walaupun para pemainnya tetap disebut anak wayang.

Kata wayang tanpa keterangan lain bagi orang Betawi dewasa ini berarti wayang kulit. Wayang yang terbuat dari kayu oleh orang Betawi disebut Golek. Berbeda dengan orang sunda yang biasa menyebutnyua secara lengkap :  wayang golek. Adapun yang akan dikemukakan dalam tulisan singkat ini ialah tentang beberapa hal mengenai wayang kulit yang dalam pagelarannya digunakan bahasa Betawi sebagai pengantarnya.

Dua jenis wayang kulit menggunakan bahasa Betawi sebagai bahasa pengantarnya yakni wayang kulit yang dikembangkan oleh golongan peranakan Cina yang dewasa ini telah punah, dan wayang kulit Purwa yang berasal dari Jawa. Yang disebut pertama, selanjutnya akan disebut wayang Cina Betawi, sedangkan yang kedua akan disebut wayang Purwa Betawi.

Dibandingkan dengan wayang kulit Cina Betawi, popularitas wayang kulit purwa jauh lebih luas. Pada masa lalu penyebarannya meliputi hampir seluruh wilayah budaya Betawi. Dewasa ini hanya di daerah pinggiran saja tontonan itu masih tetap dapat bertahan, walaupun sudah jarang-jarang orang menanggapnya.

Tentang masuknya kesenian wayang kulit purwa ke wilayah Jakarta dan sekitarnya, terdapat beberapa pendapat. Ada yang menganggapnya sebagai peninggalan pasukan balatentara Mataram yang setelah gagal mengusir Belanda di Batavia pada tahun 1627 dan 1629 terus menetap, tidak kembali lagi ke daerah asalnya. Anggapan kedua menyatakan bahwa timbulnya kesenian itu di Jakarta dan sekitarnya adalah hasil usaha orang-orang Cirebon yang tidak mau kembali ke daerah asalnya, setelah melakukan kerja paksa mengeruk kali Ciliwung dan parit-parit yang dipenuhi tanah longsoran Gunung Salak dan Pangrango, akibat gempa dahsyat yang terjadi pada tanggal 5 dan 29 Januari 1699. menurut pendapat lainnya lagi, orang-orang yang berasal dari Banyumaslah yang mengembangkannya. Mereka ditransmigrasikan oleh Sultan Agung pada tahun 1632 ke daerah Karawang dengan tugas menanam padi dan bahan pangan lainnya. Pemindahan penduduk Jawa Tengah ke wilayah Karawang itu berlangsung pula pada jaman pemerintahan Sultan Amangkurat I, sekitar kali Citarum, kemudian menjadi ajang pertempuran segitiga antara pasukan Mataram dari Banyumas dan Galuh, pasukan Banten dan pasukan VOC. Sebagian dari transmigrasi itu menyingkir ke sebelah Barat dan terus menetap di sekitar Cikeas dan Cileungsir (Kali Bekasi). Mereka yang mengembangkan wayang punya wayang sendiri di kawasan itu yang kemudian berkembang menjadi wayang purwa Betawi. Sebagai dasar argumentasi pendapat ini adalah digunakan alat musik dari bamboo sebagai pengiring wayang yang bentuknya sama seperti calung Banyumas. Dalang-dalang tua seperti Kapang di Tambun dan Comong di Pulo Jae mengatakan pernah mengalami mendalang dengan iringan calung demikian itu.

Pendapat mana yang benar, masih memerlukan pembuktian ilmiah. Yang jelas, wayang purwa Betawi dewasa ini sulit untuk digolongkan sebagai kesenian adiluhung seperti wayang daerah lainnya. Hal ini mungkin terjadi karena beberapa hal. Para pendatang yang dahulu terus menetap itu, baik yang berasal dari Jawa Tengah maupun dari Cirebon, dapat dipastikan terdiri atas petani dan pekerja kasar. (Pada Jaman Kesultanan Mataram, bila berperang para petani dan pekerja kasar biasa dimobilisasikan untuk memanggul senjata bersama-sama denga para prajurit professional). Merekalah yang mengembangkan wayang kulit purwa sebagai tontonan ditempatnya yang baru pada jaman itu menurut kemampuannya dalam bidang seni pedalangan. Tentu saja sangat terbatas.

Di samping itu, di Jakarta dan sekitarnya yang kemudian menjadi wilayah budaya Betawi, tidak terdapat pusat kekuasaan tradisional, yang baik langsung maupun tidak langsung umumnya membina kesenian seperti wayang. Pusat kekuasaan tradisional seperti keraton dan kabupaten, biasa menjadi pusat pengembangan kebudayaan.memang benar ada kabupaten Batavia dan kabupaten Maester Cornelis. Tetapi baru dibentuk pada awal abad ke dua puluh, sejalan dengan dilaksanakannya politik desentralisasi oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Jadi belum sempat berakar di masyarakat luas.

Demikianlah, wayang kulit purwa Betawi berkembang sebagai tontonan rakyat, tanpa memperoleh pembinaan dari pusat kekuasaan tradisional, sebagaimana terjadi di daerah lain.

Tentang Penulis

Lembaga Kebudayaan Betawi

Tinggalkan Komentar