Ziarah Kubur
Ilustrasi oleh : Irah Mahmudah
Ilustrasi oleh : Irah Mahmudah

Oleh : Yahya Andi saputra

Dua hari menjelang puasa Ramadhan aktivitas orang Betawi lebih meningkat. Pendaringan sudah penuh. Lauk-pauk – biasanya ikan gabus kering, tembang, sepat lengek, bulu ayam, – sudah digantung di para-para. Umbi-umbian sudah dijemur. Kayu bakar sudah najug (bertumpuk) di emperan rumah. sementara rumah pun sudah dibersihkan. Petromaks atau lampu gembreng sudah diperbaiki. Semua persipan itu untuk menyambut bulan Ramadhan, sebab selama bulan ini orang Betawi pere atau paling tidak, tidak terlalu berlebihan dalam bekerja, wajar-wajar saja sesuai dengan kemampuan. Anak menyokong orang tua, menantu membantu mertua, dan seterusnya. Diyakini oleh orang Betawi bahwa bergembira saja dengan kedatangan bulan Ramadhan diharamkan jasadnya dari api neraka.

Sehari menjelang puasa orang Betawi melakukan ziarah kubur. Ziarah kubur menurut Mazhab Syafi’i hukumnya sunnah terutama menziarahi kubur orang-orang shalih. Bagi wanita ziarah kubur hukumnya makruh. Ada hadis riwayat Daru Quthni dari Ali RA  yang menjelaskan tentang ziarah kubur. Hadis itu berbunyi : Siapa yang berziarah ke kubur kemudian ia membaca Kul huwallahu ahad sepuluh kali lalu dihadiahkan pahalanya kepada yang dikubur, maka yang membaca diberi pahala sebilangan orang yang mati yang dikubur di situ dan pahalanya sampai kepada mayat yang dikubur. Dengan ziarah itu diartikan bahwa orang yang diziarahi akan bergembira seperti bergembiranya orang yang masih hidup jika disuguhi hidangan yang nikmat dan lezat. Dalam ziarah itu semua anak lelakinya diikutsertakan yang tujuannya mendidik dan membiasakan anak mengenal saudara atau orang tua leluhurnya yang telah meninggal. Kubur-kubur itu dibersihkan lalu ditaburi kembang dan membaca surat Yasin serta zikir, tahlil.

Kegirangan anak-anak nampak sekali. Mereka sudah menabuh bedug di musholla/masjid sejak pukul sepuluh pagi. Nabuh bedug ini kadang-kadang diperlombakan antar kampung yang disebut ngadu bedug. Ada pula yang bergembira dengan bermain jangkungan atau egrang. Yang lebih seru lagi ada yang main bleguran alias meriam sundut. Semua jenis permainan ini mereka sudahi pukul lima sore atau beberapa saat sebelum maghrib. Setelah itu mereka berbondong-bondong pergi ke kali dan mandi (keramas) bersama-sama.

SELAMAT PUASA! (RD)

Close Menu